Kenapa Kita Harus Ramah dan Bersahabat dengan Investasi? - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Selasa, 28 Januari 2020

Kenapa Kita Harus Ramah dan Bersahabat dengan Investasi?

Oleh:Dr. H. Zulkiflimansyah, M.Sc
(Gubernur NTB)

Foto: Gubernur NTB
Dr. H. Zulkiflimansyah, M.Sc
.
Bersahabat dan ramah pada investor bukan persoalan sederhana. Ini persoalan merubah cara pandang yg sangat mendasar. Dan ini butuh waktu dan proses yang panjang.

Investasi ini lekat persepsi nya dengan pengusaha. Dan di dalam masyarakat tradisional di negara-negara berkembang, pengusaha ini cenderung punya persepsi yg negatif, di bandingkan pemuka agama dan penyelenggara pemerintahan.

Dalam masyarakat tradisional, kasta tertinggi biasanya diduduki oleh pemuka agama. Baru kemudian penyelenggara pemerintahan. Tidaklah mengherankan jika nilai-nilai yang berkembang sejak kecil dan tertancap kuat di alam bawah sadar kita bahwa kita ingin anak-anak kita menjadi pemuka atau tokoh agama, atau kalau tak menjadi tokoh agama ya menjadi pejabat-pejabat pemerintah. Menjadi pengusaha atau pebisnis ini biasanya dilakoni kasta yg di bawah nya.

Tapi jaman kemudian berubah. Pemilik modal di era ekonomi yg terbuka kini jadi lebih punya peran dan menentukan. Sehingga  siapa yang penting di dalam masyarakat kini 'bergeser' dari pemuka agama dan penyelenggara pemerintah ke pengusaha atau pemilik modal.

Jaman memang berganti, tapi kadang cara berpikir kita masih belum berubah. Masih mempersepsikan pengusaha dan pemilik modal pada persepsi negatif sehingga masih menyisakan jarak secara psikologis yang menganga tajam. Jadi upaya ramah dan bersahabat dengan investasi adalah upaya dan perjuangan besar kita dalam merubah cara pandang.

Selain butuh waktu secara paradigmatik, ya memang kenyataan di lapangan sering juga di temui pengusaha-pengusaha dan investor yang eksploitatif. Yang hanya menguntungkan pemilik modal dan para pengusaha yang menjadi mitra dan sekutu-sekutunya saja. Masyarakat hanya menjadi pekerja dan penonton untuk kemudian miskin dan terpinggirkan. Masyarakat Mati di dalam hidup.
Kenyataan ini yang membuat jargon ramah pada investasi seperti berhadapan pada tembok psikologis besar yg tak mudah ditembus dan ditaklukkan.

Inilah tugas kita yg tak sederhana di NTB ini. Meruntuhkan tembok psikologis besar dan tinggi. Membuat kesadaran bahwa bersahabat dan ramah pada investasi adalah keharusan agar kita bisa kemudian menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran di tempat kita ini.

Pengusaha, investasi dan aktivitas bisnis harus dipandang sebagai cara mulia yang dilakukan Para Nabi dan banyak penyeru kebenaran. Kedudukannya tidak kalah mulia dibandingkan tokoh-tokoh agama dan para penyelenggara negara.



Tentu pengusaha-pengusaha dan investor yang hadir di tempat kita adalah investasi yg juga bersahabat dengan kita. Investasi yang bukan menghisap kekayaan kita semata, tapi hadir untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat agar kemudian kita maju dan tumbuh bersama.
Menghadirkan investasi seperti ini butuh keberanian dan kemampuan dari penyelenggara pemerintahan agar bisa memilih dan memilah mana investasi yg benar dan mana investasi yg harus ditolak.

Yang jelas, kita perlu investasi karena memang banyak hal mendasar dalam pembangunan seperti kemiskinan dan pengangguran memang tidak bisa diselesaikan semata oleh pemerintah. Kita butuh investasi dan  pengusaha karena investasilah yg kemudian bisa membantu membuka lapangan pekerjaan, mengatasi pengangguran dan menurunkan kemiskinan.

Perjalanan merubah cara pandang ini adalah perjalanan panjang, berliku, dan mendaki.
Tapi bukankah perjalanan panjang selalu harus di mulai dengan langkah pertama?

Wallahua'lam bis Showab

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done