Johan Gandeng Seni Sakeco untuk Bumikan 4 Pilar MPR - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Sabtu, 08 Februari 2020

Johan Gandeng Seni Sakeco untuk Bumikan 4 Pilar MPR


Anggota Badan Pengkajian MPR RI, Johan Rosihan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melaksanakan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Kelurahan Panto Daeng, Kecamatan Sumbawa, Sabtu (8/20). Uniknya, pada sosialisasi tersebut, Johan menggunakan media kebudayaan sebagai pendekatan kepada masyarakat agar materi-materi 4 Pilar Kebangsaan ini mudah dipahami.

"Kami akan terus mencari cara yang asyik, menarik dan disukai rakyat tanpa mengurangi substansi untuk terus memasyarakatkan materi-materi 4 Pilar Kebangsaan. Intinya agar masyarakat mudah paham," ungkapnya.

Johan bahkan mengajak masyarakat untuk mulai berani melombakan seni "Sakeco Sumbawa" yang didalamnya nanti khusus membawakan materi-materi tentang kebangsaan.

"Ada banyak cara membumikan nilai-nilai kebangsaan. Apapun pendekatan yang mudah diterima akan kita lakukan. Kalau di Jawa ada Seni Wayang, makan di Sumbawa juga ada seni Sakeco. Nah, kalau perlu Sakeco ini kita lombakan saja secara resmi di ajang 17 agustusan nanti. Yang penting isi-isinya itu tentang nilai-nilai kebangsaan." Paparnya.

Sakeco merupakan salah satu bentuk seni yang bersumber dari lawas atau syair khas Suku Samawa (Masyarakat Sumbawa. Sampai saat ini, sakeco memang banyak digemari dan sangat familiar bagi masyarakat Sumbawa. Sakeco umumnya dimainkan oleh dua orang pria yang merupakan pasangannya dan masing-masing memegang satu buah rebana (alat musik tradisional Sumbawa).

Dalam sambutannya, Johan menekankan tentang betapa pentingnya pemahaman kebangsaan agar kita tidak terjebak pada konflik-konflik yang berpotensi memecah belah persatuan. Politisi PKS itu juga geram karena Pancasila kerap dipertentangkan dengan nilai-nilai keislaman.

Padahal, menurut Johan, lahirnya Pancasila tidak terlepas dari peran besar para ulama dan tokoh-tokoh Islam. Johan lalu menjelaskan sejarah dibalik lahirnya Pancasila yang berawal dari Piagam Jakarta. Apa yang kita kenal sebagai sila pertama saat ini adalah hasil dari lobi Bung Hatta kepada tokoh Islam yang digawangi Ki Bagus Hadikusumo.

"Pancasila ini harus kita pahami secara utuh. Jangan sedikit-sedikit kita pertentangkan dengan keislaman. Mereka yang terus mengkampanyekan Pancasila tapi pada saat yang sama memojokkan keislaman adalah mereka yang jelas-jelas Ahistoris terhadap sejarah." Terang Johan.

Lebih kurang 150 peserta yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, serta akademisi dengan serius me­ngikuti paparan yang dibe­rikan politisi yang akrab disapa JR tersebut. Hadir pula Ketua DPD PKS Sumbawa, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Anggota DPRD PKS Kabupaten Sumbawa dan beberapa tokoh politik lain.

Di sesi dialog, tak lupa Johan juga berpesan untuk tetap menjaga kondusifitas mengingat sebentar lagi ajang pilkada serempak akan dilaksanakan. Menurut Anggota Komisi IV DPR RI itu, politik haruslah dibuat asyik. Politik tak boleh tegang, apalagi sampai membuat kita tidak bertegur sapa.

"Politik itu jangan terlalu tegang. Apalagi membuat kita tidak bertegur sapa. Kita buat asyik saja. Ini sengaja saya sampaikan, karena saya pantau terus di media. Kita terlalu fokus membicarakan siapa yang lebih layak, ketimbang mau dibawa kemana Sumbawa ini." Tutupnya.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done