Johan: Pemerintah Harus Serius dan Kerja Keras Memperbaiki Kondisi Garam Nasional - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Selasa, 25 Februari 2020

Johan: Pemerintah Harus Serius dan Kerja Keras Memperbaiki Kondisi Garam Nasional

Johan Rosihan pada saat Raker dengan KKP (25/02/2020)

Anggota Komisi IV DPR RI, H Johan Rosihan, ST pada saat melakukan Rapat Kerja dengan Menteri Kelautan dan Perikanan beserta semua jajarannya, Selasa 25 Februari 2020 di Ruang Rapat Komisi IV DPR RI, menegaskan kepada pemerintah agar mulai tahun 2020 ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) khususnya untuk lebih serius dan kerja keras memperbaiki kondisi garam nasional.

Johan menilai berdasarkan dokumen perencanaan pemerintah yang menargetkan produksi garam nasional untuk tahun 2020 hanya sebesar 3 juta ton, bahkan sampai tahun 2024 hanya menargetkan produksi garam nasional sebesar 3,4 juta ton. Berdasarkan data tersebut, Anggota Fraksi PKS ini mempertanyakan kenapa begitu rendahnya target PRODUKSI GARAM NASIONAL. Padahal pada masa Menteri sebelumnya saja, berdasarkan data tahun 2018 dan 2019 target produksi Garam mencapai 4,1 juta ton/ tahun dan telah terealisasi tahun 2019 produksi garam nasional sebesar 2,85 juta ton.

Anggota DPR RI dari dapil NTB 1 ini memaparkan bahwa jika dibandingkan dengan negara lain, kita tertinggal jauh dengan China yang mampu memproduksi garam 68 juta ton/tahun, Amerika memproduksi 44 juta ton, bahkan Ukraina mampu memproduksi sebesar 6,1 juta ton padahal negara tersebut hanya memiliki garis pantai 2.782 KM. (lebih panjang sedikit garis pantainya dari NTB; yakni 2.333 KM).

"Perlu kita sadari, bahwa negara kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yaitu sepanjang 54.716 KM dan sampai hari ini belum memiliki terobosan strategi untuk bisa masuk dalam jajaran 10 besar negara produsen garam dunia, dan malah terjebak pada kebijakan impor garam yang tentunya merugikan kondisi garaman nasional dan melemahkan kondisi petani garam kita." Urai Johan pada saat rapat kerja tersebut.

Selanjutnya Johan selaku wakil rakyat dari Pulau Sumbawa ini, menegaskan kepada pemerintah untuk segera melakukan revitalisasi tambak garam rakyat, terutama memecahkan problematika produksi yaitu produksi garam nasional yang sangat bergantung pada iklim, teknologi yang digunakan masih sangat tergantung pada faktor cuaca dengan iklim kemarau yang relatif pendek.

Pemerintah perlu menyadari bahwa produksi garam merupakan bidang usaha ‘padat karya’ dengan daya tampung tenaga yang cukup besar, lokasi pegaraman yang mempunyai skala yang bervariasi, kondisi produsen yang ada umumnya adalah petani garam yang secara sosial ekonomi tergolong lemah serta belum lagi dari struktur kepemilikan lahan dengan petani pemilik tanah dan petani penggarap dengan sistem pembagian yang belum adil bagi penggarap; adanya keterbatasan modal kerja sehingga petani terperangkap dalam sistem ijon; dan rendahnya harga garam petani menyebabkan sebagian lahan pegaraman rakyat telah beralih fungsi dan hal ini menyebabkan produksi garam semakin menurun.

“Kita mendorong pemerintah untuk segera membantu teknologi bagi para petambak garam kita,” tegas Johan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Anggota DPR RI ini meyakini bahwa kualitas garam nasional bisa ditingkatkan dengan berbagai teknologi yang diadopsi agar memenuhi permintaan industri, namun jika dengan jumlah produksi yang tidak stabil maka dapat mengganggu proses bisnis industri yang menggunakan garam rakyat.

“Selama ini teknologi yang diterapkan pemerintah hanya melalui manajemen lahan, tata kelola air dan penerapan geomembrane untuk peningkatan kualitas garam.” Kritik Johan terhadap kinerja pemerintah. Di sisi lain, Johan juga menegaskan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan solusi instan melalui impor karena saat ini Indonesia  ternyata berada di urutan ke-4 sebagai negara importir garam terbesar.

Kebijakan pergaraman nasional dalam bentuk peta arah pergaraman nasional harus segera diwujudkan pemerintah sebagai landasan utama bagi proses bisnis pergaraman di tanah air. Pembentukan tata niaga pergaraman nasional menjadi hal krusial dibentuk saat ini, urai Johan.

Dari sisi Supply dan Demand Garam telah terjadi defisit setiap tahun, untuk stok awal tahun 2020 tersedia kurang lebih 1,9 juta ton, berdasarkan proyeksi 2020; supply garam kurang lebih berjumlah 4,35 juta ton (yang berasal dari stok awal tahun ditambah dengan produksi petani garam rakyat dan PT Garam sekitar 2, 45 juta ton).

Sedangkan dari sisi Demand garam dibutuhkan sebanyak minimal 4,75 ton (berdasarkan proyeksi kebutuhan garam konsumsi sebanyak 750.000 ton dan kebutuhan garam industri sebanyak 4 juta ton). Mengacu pada hal ini, menurut Johan diperlukan kerja keras dan keseriusan pemerintah dalam Inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam rakyat untuk kebutuhan industri dan konsumsi (Ong).

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done