Pol PP Cantik Fira dan Pariwisata Banyuwangi - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Senin, 10 Februari 2020

Pol PP Cantik Fira dan Pariwisata Banyuwangi




Oleh: Rasinah Abdul Igit

Pagi itu Banyuwangi cerah ceria. Memasuki komplek kantor bupati, suasana asri menyapa. Sepi dan nyaman. Di banyak daerah, kantor pemerintahannya sepi dan tenang, nggak ramai dan riuh. Supaya para PNS nyaman bekerja, supaya warga nyaman mengurus keperluannya. Mungkin begitu. Di Gerung lain lagi. Banyak yang mengkritik karena sepi. Ada dewan yang mengusulkan diadakan car free day supaya jalan depan kantor bupati ramai. Ini dewan nggak tau arti car free day. Mobil motor jarang lewat, terus apa yang mau di car fee day- kan?

Fira namanya. Gadis cantik anggota Pol PP Banyuwangi. Melihat kami tengah khusyuk membaca baliho yang berisi daftar festival wisata yang sudah dan akan digelar selama satu tahun, dia menghampiri. Tanpa ditanya, Fira memulai percakapan. Dia  menjelaskan satu persatu jadwal festival.

Ya, Banyuwangi memang terkenal karena festivalnya. Tahun ini saja ada 123 festival wisata. Ada beberapa yang paling ditunggu wisatawan. Misalnya Festival Gandrung Sewu. Ini festival tari ribuan penari perempuan di pinggir pantai. Lalu ada Banyuwangi Etno Carnival, pagelaran busana entik yang sudah terkenal dimana-mana. Ada juga festival - festival lain yang bernuansa mistis-magis. Dulu, sampai sekarang pun, Banyuwangi masih mendapat semat daerah santet, sihir. Tapi tunggu dulu, bukan Banyuwangi namanya kalau tidak bisa mengolah penyematan itu justru menjadi produk wisata. Pemandu tour kami malah sering berkelakar.

"Jangan ganggu, nanti kami santet lo" katanya enteng dan menghibur. Satu kali kami juga makan di rumah makan "Jaran Guyang". Hmm hebat benar Azwar Anas mengubah kabupaten ini menjadi seperti yang sekarang. Dibicarakan di mana-mana. Bupati Anas sudah dua periode. Siapa yang akan menggantikan politisi PDIP kesayangan Bu Mega ini? Kita tunggu saja.

Kembali ke Fira. Hebat benar dia. Seorang anggota Pol PP tapi menjelaskan tetek bengek wisata Banyuwangi dengan fasih dan memikat. Mungkin karena didukung senyumnya juga. Saya mengira Pol PP macam dia hanya bertugas menjaga keamanan kantor bupati saja. Tapi tidak. Dia sales, dia penjual. Dia meng-endorse.

Apa memang ada pelatihan khusus bagi mereka untuk menerangkan wisata Banyuwangi untuk setiap tamu yang datang? Dia jawab tidak. Dia bilang semacam panggilan hati saja karena saban hari banyak tamu luar yang datang ke kantor tempatnya bertugas. Setelah kami mintai tolong ambil gambar, Fira kembali ke pos tugasnya.

Itu baru satu anggota Pol PP bikin kagum. Bagaimana jika semua Pol PP begitu. Saya teringat Lombok Barat. Kedepan harus begini.

Hebatnya Fira sama dengan hebatnya Sudrajat Alam, kepala dinas tenaga kerja Banyuwangi. Malam hari sehabis makan bersama, dia "memaksa" kami melihat-lihat suasana pendopo kantor bupati. Ini orang macam guide saja nemani kami jalan, padahal dia kadis yang ngurus tenaga kerja. Pendopo bupati memang sudah jadi destinasi wisata. Bupati nggak tinggal di sini. Di areal parkir ada dua pohon beringin tua. Sudah berumur ratusan tahun. Di bagian samping bangunan utama ada guest house yang dibangun mirip rumah teletubbies karena bagin atapnta terhampar taman rumput. Di bagian belakang ada rumah khas peninggalan lama.

Alam selalu bersemangat kalau ditanya soal kinerja Azwar Anas, bupatinya. Apa karena dia seorang Kadis? Ya mungkin saja. Katanya, bupati Anas itu orang "gila", nggak bisa diam, doyan dengan ide-ide baru. Sudah begitu, gaya memimpinnya efektif.

Alam Sudrajat adalah pejabat senior. Dia bilang, Bupati Anas jarang marah, selalu mengayomi. Cuma itu, dia orangnya detail, ide-idenya dikontrol terus, sampai terwujud. Kadisnaker ini pintar mendiskripsikan sosok Azwar Anas dengan baik, juga tentang pariwisata yang ada. Di bilang " Di sini, semua dinas adalah Dinas Pariwisata". Keren kan istilah ini? Pak Alam adalah salah satu sales.

NTB, wa bil khusus, Lombok Barat, jangan gengsi belajar pariwisata ke Banyuwangi. Di NTB kan baru ada belasan event wisata, itu pun tidak tergarap maksimal. Di Lombok Barat, mohon maaf, kekayaan pariwisatanya tidak diimbangi dengan kinerja Dinas Pariwisatanya. Dinas ini strategis cuma kacaunya minta ampun. Masing-masing bidang jalan sendiri. Orientasi proyek tinggi. Jadilah yang hebat hanya pimpinan saja.

Apa staf-staf Dinas Pariwisata Lobar bisa seperti Fira? Goyoh. Jangankan menjelaskan soal destinasi, yang bisa sekedar nulis-nulis status pariwisata di facebook saja tidak ada. Yang bisa foto-foto juga nihil. Ini kan penting sebagai sales. Tapi, ya, ini nanti PR berat kepala dinas yang baru. Salam.

*** Rasinah Abdul Igit adalah wartawan, tinggal di Gerung, Lombok Barat

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done