Book Review: Melihat Dunia dari Batu Nisan - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Minggu, 29 Maret 2020

Book Review: Melihat Dunia dari Batu Nisan


Judul Buku: Nisan Annemarie
Penulis: Binhad Nurohmat
Penerbit: DIVA Press Yogyakarta
Cetakan: April 2020
Halaman: 197 + xxii

KUBURAN BAGI TEMAN-TEMAN
Catatan untuk Nisan Annemarie:
MENJAGA MISTERI

Binhad Nurrohmat, pertama kali saya bertemu dengannya ketika menghadiri Seminar Bata di Universitas Katolik Darma Cendika tahun lalu (2019). Ketika itu dia mengatakan bahwa ada bata berjenis laki-laki dan perempuan. Cukup mengagetkan dan sedikit lucu, tetapi jelas memberikan sudut pandang yang berbeda.

Jika dicermati, puisi-puisi Binhad membiarkan ada “lubang kosong” yang harus diisi sendiri oleh pembaca, atau boleh saja tetap dibiarkan kosong, melompong. Memberi pertanda bahwa selalu ada yang tak terjangkau oleh nalar kita, sebuah kekosongan abadi.

Ada hal penting dalam hidup yang mesti kita jaga, yakni ketidaktahuan, atau sebut saja, misteri. Kuburan dan kematian memaklumkan itu, misteri besar yang mungkin tak kan pernah bisa diungkap. Binhad membiarkan misteri itu tetap terjaga sebagai misteri. Bukankah puisi juga misteri? Kita tak pernah tahu persis yang dimaksudkan penyair, sama seperti halnya kuburan atau nisan. Ya, jagad misteri, rahasia Tuhan…

Kita menafsirkan hidup bagai tetes-tetes air, sedangkan misteri itu sendiri sebuah samudera tak bertepi…

Binhad berusaha menghubungkannya tanpa menggurui, dengan puisi…

Surabaya 26.03.2020

***Anas Hidayat - Surabaya

Puisi-puisi yang ditulis Binhad Nurrohmat ini selalu menarik. Pembacanya akan dipaksa dan diajak menjelajahi cakrawala wawasan pada setiap puisinya.

Bagi saya pribadi untuk menikmati puisinya, maka yang dibutuhkan adalah literasi dan pemahaman akan proses penulisannya, karena puisi ini banyak bercerita tentang Tempat,
Kisah dan peristiwa.

Paling tidak mengerti dulu akan Judulnya. Baru maknyus isinya.

Contoh sebuah puisi berjudul
"MEMO ATLANTIS DARI PLATO"
Isinya sangat asyik....

Tapi Bagaimana kita bisa menikmatinya tanpa mengenal lebih dalam apa itu Atlantis dan siapa itu Plato ?

Puisi sampean bukan sekedar puisi tapi juga ajakan untuk membedah cakrawala wawasan.


***Windu Poerta - Jakarta

Telah tiba, buku puisi mutakhir Binhad Nurrohmat terbitan Penerbit DIVA Press. Setahun sejak buku puisi sebelumnya, Kuburan Imperium, Binhad menghasilkan 171 puisi baru untuk dibukukan dalam Nisan Annemarie. Puisi-puisinya menghadirkan potret dunia dilihat dari sela batu nisan. Ia seperti berangkat dari satu pertimbangan: semua yang pernah hidup--entah itu orang, ide maupun ideologi--pasti akan mati. Bahkan modernisme pun mati dan dikenang sebagai tradisi. Selain itu, Binhad juga berhasil mendayagunakan kekayaan Cagar Budaya dan aneka petilasan di Jawa Timur sebagai sumber inspirasi puitiknya, bahkan lebih dari itu: ziarah kubur menjadi bagian dari metodenya menulis puisi. Eksperimen dalam metode inilah yang membuat saya tertarik untuk menulis catatan pembacaan untuk buku Nisan Annemarie. Sungguh buku puisi yang menarik sekali!

***Martin Suryajaya - Jakarta

Menyesap lezat makna Nisan Annemarie saat pandemi virus korona merumahkan sesiapa -- kutemu jalan menuju makna-makna kehidupan bukan dari jurusan kehidupan, melainkan kematian. Nisan Annemarie anggitan Binhad Nurrohmat terasa menjadi sekuel kedua kisah pencarian makna kehidupan dari jurusan kematian sesudah Kuburan Imperium. Kedua antologi puisi Binhad tersebut -- yang bisa jadi masih akan dilanjutkan dengan sekuel berikutnya -- menandai arus balik puitika Binhad: dari puitika yang berpusat pada gelucak dan gemuruh birahi kehidupan menuju puitika yang berporos pada ketakterelakannya realitas kematian -- ringkasnya, dari puitika kehidupan ke puitika kematian. Berbeda dengan fase Kuda Ranjang yang merayakan leleran birahi dan syahwat kehidupan, Nisan Annemarie menandai fase puitika yang menghikmati dan menekuri makna  kematian untuk menemukan kesejatian kehidupan.

***Prof. Djoko Saryono - Malang

HABIS KUBURAN TERBITLAH BATU NISAN

Mengisolasi diri dengan memasuki belantara imajinasi "Kuburan Imperium" dan "Nisan Annemarie". Mengakrabi kedua antologi puisi karya Binhad Nurrohmat ini seperti diajak berziarah dari satu makam ke makam lainnya. Jauh sebelum kasus Covid-19, antar penghuni makam pun rupanya telah memberlakukan social distancing: sunyi yang menyakitkan.

***Ahmad Fatoni Said - Malang

NISAN ANNEMARIE

Malam ini menikmati sajian kumpulan  puisi, 'Nisan Annemarie', karya Binhad Nurrohmat tentahg kuburan. Bung, melalui larik-larik dalam puisimu, kita  seperti sdg diajak menziarahi sejumlah kuburan mulai dari yg tak bernama hingga para pemikir besar dalam sejarah intelektual. Dalam kumpulan puisi ini, 'pusara', 'kesendirian', 'tanah kelahiran', bahkan waktu sedang menuju ujung kisah batu nisan.

Batu nisan bisa jadi ujung kisah sebuah perjalanan bisa juga penanda bagi kehidupan setelahnya, karena itu, 'kisah' punya ragam makna. Kematian dan mengingatnya adalah pengalaman yang paling sublim bagi orang beragama atau tidak beragama sekalipun.

Filsuf Jerman terkemuka, Heidegger mempersembahkkan secara khusus karya 'Sein und Zeit' (Ada dan Waktu) untuk membahas misteri kematian, suatu kesadaran akan masa depan, menghantui sekaligus mencemaskan. Ia bertolak dari pandangan mengenai fakta keterarahan pada kematian yang tidak mungkin dielakkan, 'ketika manusia lahir sejak itu pula ia terlalu tua untuk mati', katanya suatu kali.

Mungkin ini pula yang seringkali menjadi alasan ilmiah untuk menjelaskan mengapa manusia beragama, argumen ini juga acapkali dikemukakan oleh mereka yang skeptis, bagaimana agama itu bermula? Iya agama bermula dari misteri kematian yang sublim, sekaligus mencemaskan. Bahkan kitab suci, dalam banyak tempat, juga ikhtiar untuk menjawab misteri ini: pahala dan dosa, hari pengadilan, surga dan neraka, kesalehan dan kejahatan, luka dan nestapa hidup. Di dalam terang kematian itu pula manusia membayangkan sebuah kehidupan di seberang sana.

Di dalam sejarah evolusi manusia dari waktu ke waktu, juga berbagai tempat, kisah kematian turut membentuk makna kehidupan, pandangan dunia, dan bahkan konstruksi atas kebudayaan: ilmu pengetahuan, seni, bahasa juga sejarah. Melalui misteri kematian atau kisah batu nisan dalam bahasa Binhad, jejak dan cerita masa lalu para leluhur tersingkapkan lapisan-lapisanya. Mereka yang menekuni meditasi kosmik, menyebut lapisan sejarah para leluhur itu terekam dengan baik dalam 'file tulang Sulbi'. Ia serupa lorong waktu, rekaman data itu bisa disingkapkan agar kita bisa memahami tugas dan panggilan hidup.

Karena itu tidak mengherankan bila setiap munajat dimulai dengan tindakan 'menyapa' para leluhur atau orang-orang saleh, dalam istilah kaum sufi disebut dengan 'khadarat' (حضرة). Sebuah sikap yang menegaskan konektivitas antara dunia yang di sini dengan dunia yang di sana, antara yang lahir dan batin, sebuah jembatan yang memungkinkan tersambungnya ada dan tiada.

Di dalam perjumpaan dengan batu nisan: ada dramaturgi, transmisi pesan, keterpautan dan keterputusan masa kini dan masa lalu, rasa  keberakaran, yang historis dan mitis berkelindan.  Batu nisan adalah alamat di mana  hidup manusia berakhir dalam kesunyian  dan orang ramai akan segera melupakan atau mengenang jejak yang ditinggalkannya.

***Abdul 'dubbun' Hakim - Jawa Barat

Entah disengaja atau tidak. Penyair Binhad Nurrohmat, seolah-olah, seorang peramal kaliber. Buku puisi "Nisan Annemarie" karya terbarunya hadir tepat di saat Pandemi Covid-19 alias Corona mengejawantah nisan dan pusara buana.

Buku ini seakan hadir menjadi semacam oase. Ia merefleksi kehidupan dengan bait-bait kematian yang seringkali terlupa oleh jejak-jejak arogansi terma kota yang meniadakan sejengkal nyawa.

Saat hasrat adimanusia menyublim dalam jatidiri raksasa teknologi dan kerja, lalu-lalang jagat kemanusiaan meng-agama "dana ya dana". Kita, manusia, seniscaya keabadian baka tak lekang fana menghisteria kaya raya.

Seperti kata filsuf muda Martin Suryajaya, dalam pengantar buku ini, "kota adalah sebuah mesin penunda kematian.... Di kota, maut datang seperti iklan... ketika kita tengah menonton Youtube, lalu ada jeda iklan lima detik, seperti itulah kematian datang sebagai jeda rutinitas kerja --semacam hari libur yang datang secara acak."

Makhluk superkecil corona pun "menyapa." Libur terasa tanpa jeda. Sebaliknya kerja "hanya" klick byte yang mengiklankan "masih ada kehidupan" yang tersisa dan berharga untuk kita jaga. Ia menghardik psikologi kota kita untuk tak merasa jumawa.

Buku yang layak dibaca di kala social distancing masih tak bergeming. Sebagai refleksi puitik di saat sejarah raksasa kita sedang merasa terusik oleh seupil kecil makhluk yang membuat dunia kita, mau tak mau, menghidmat citarasa (nilai-nilai) purba.

Selamat membaca.

***Astar Hadi - Lombok

Mas Binhad Nurrohmat bukunya saya terima dengan selamat. Ya, berdiam di rumah sambil membaca Nisan, mengenang mereka yang menemui Tuhannya karena wabah. Semoga semuanya husnul khatimah. Kita tetap semangat, menjaga jarak dengan kuburan terakhir yang "...mengubur mayatnya sendiri/laksana sepi tak berjumpa bahasa/semenjak berpusara seluruh kata".

***Asep Salahudin - Bandung

Buku bagus yang layak dimiliki. Penulisnya membuat karya bukan sekadar menulis puisi. Selain memakai bahasa yang lentur, kuat dengan muatan informasi yang ciamik.
Riset. Penulisnya lakukan riset dengan baik. Itulah yang saya baca dari buku Kuburan Imperium. Saya suka dengan puisi tentang Ibu dan Ayah. Kita semua manusia membawa Ibu dan Ayah ke mana-mana sampai akhir hayat kita.

***Rachmad Gembira Bersepeda - Jakarta

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done