COVID-19/ 20-ID1-SARS-CoV2: Anti-Panik bernama Transparansi dan Kejujuran - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Senin, 02 Maret 2020

COVID-19/ 20-ID1-SARS-CoV2: Anti-Panik bernama Transparansi dan Kejujuran



Oleh: Sidrotun Naim
(Ilmuan Mikrobiologi, Mantan Peneliti Postdoctoral di Harvard Medical School Boston, dan Alumni Doktoral Universitas Arizona Amerika Serikat, dan salah satu dari 15 peneliti muda tingkat dunia penerima anugerah UNESCO-L'Oreal for Women in Science di Markas UNESCO, Paris Perancis)


Antara sedih dan 'bersyukur', SARS-CoV2 sudah dikonfirmasi positif di Indonesia. Penulis buat nama strain pertama sebagai 20-ID1-SARS-CoV2. Ketika menuliskan SARS-CoV2, artinya penulis merujuk ke virusnya. Supaya spesifik, strain yang pertama saya kode sebagai 20-ID1-SARS-CoV2, angka 20 merujuk pada tahun diisolasi, ID1 artinya kasus pertama di Indonesia. Karena dalam virologi, setiap strain diberi nama. Mau dia menyebabkan penyakit COVID-19 atau hanya menggelitik-gelitik, dia eksis. Sedih karena akhirnya masuk. Ternyata statement gegabah yang berani bilang tidak mungkin di Indonesia karena suhu dan kelembaban tidak cocok, sudah gugur dengan sendirinya.  'Bersyukur', karena kalau jelas sudah ada kasus, pihak-pihak terkait masih cengengesan, meski mungkin niatnya supaya tidak panik. Kalau tidak mau ada kepanikan, berikanlah informasi yang akurat dan transparan. Melucu boleh, tapi harus berdasar fakta. Bukan malah menjawab 'rahasia' dan sejenisnya, sehingga publik jadi bingung.

Terkait hal ini, ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan setelah ada kasus positif di Indonesia. Di antaranya:

Pertama, pada level individu/ keluarga. Jika Anda di Kota Depok, Pemkot sudah mau meliburkan sekolah. Kurangi juga pergerakan kalau rumah Anda sepelemparan batu dari alamat pasien yang sudah beredar luas. Jika pekerjaan Anda bisa dilakukan dari rumah, mintalah fleksibilitas ke atasan Anda. Frekuensi belanja dikurangi, maksudnya langsung untuk bulanan misalnya untuk sembako. Tapi, ya, tidak harus sampai memborong atau bagaimana. Kalau Anda jauh dari wilayah Depok , berjaga-jaga, berhati-hati, tapi tidak perlu berlebihan.

Kedua, penulis sangat berharao kepada pihak berwenang di NKRI tercinta ini, rekrut juga data scientists dan infografic designer. Sehingga portal informasi mudah diikuti (portal resminya saja Anda tidak tahu kan? Ini menunjukkan komunikasi publik yang buruk). Kontennya yang bermutu, baik update internasional maupun lokal. Karena sudah ada kasus positif, data harus ditreat sebagai data, dihandling dan dianalisis secara benar, cepat, dan ditampilkan untuk publik dengan kemasan yang mudah. Ada transparansi dan kejujuran disini.

Ketiga, bahwa dua pasien yang positif ini, dalam 14 bahkan 21 hari ke belakang, pergerakan utamanya kemana saja sejak berinteraksi dengan orang Jepang yang diduga menjadi penyebar. Orang Jepang ini bertanggung jawab (tapi setelah positif). Dia kontak orang-orang yang ada human to human contact dengannya, untuk memeriksakan diri. Tanggung jawab seperti ini juga harus diikuti oleh warga Indonesia. Kalau kira-kira punya simptom, jangan takut nanti dicap jadi penyebar. Anda harus menjaga diri Anda dan orang lain dengan cara jujur.

Keempat, orang-orang yang berinteraksi dekat dengan pasien adalah petugas medis saat masih di Depok (ada 76 orang) dan kelompok penari yang tentu saja punya interaksi dekat. Coba dari orang-orang ini, nanti dilakukan testing urut tua, khususnya 60 tahun ke atas (kalau ada). Selain petugas medis dan penari, hanya pasien yang bisa memberikan keterangan siapa kira-kira yang rentan dan perlu dites. Hanya dengan cara demikian, penyebaran bisa ditahan. Lebih baik esktra hati-hati, daripada cengengesan dan penyebaran tidak terdeteksi karena tidak dilakukan tes.

Kelima, kalau bisa, kelompok rentan yang dites, di daerah masing-masing. Sampelnya yang dikirim ke Litbangkes. Tapi ini syaratnya  RSUD Depok dalam hal ini, mampu melakukan diagnosis lengkap. Di daftar 100 RS rujukan, satu pun tidak ada yang di Depok. Mesti ke Bandung atau Jakarta. Ini tantangan yang mungkin perlu inovasi. Kalau ada orang punya simptom dan untuk konfirmasi saja harus melakukan perjalanan cukup jauh, ya, namanya virusnya ikut jalan-jalan. Tapi, selama belum memungkinkan, ya, segera pastikan kalau ada simptom, Anda tahu RS rujukan terdekat.

Keenam, kalau ada tetangga/ kerabat dengan simptom, untuk sementara ini, tidak menjadi masalah untuk sementara tak perlu datang menengok/menjenguk demi kebaikan bersama. Karena orang dengan gejala penyakit menular, yang diperlukan adalah dikonfirmasi, bukan ditengok-tengok.

Ketujuh, penulis berharap, strain awal Indonesia segera disekuens lengkap genom-nya. DNA bisa dibaca. Waktu kasus Avian Influenza 2005, susahnya authority (pejabat berwenang, red) saat itu untuk men-disclose sample dan berbagi. Berbagai alasan seolah-olah dibuat untukenutupinya. Karn dianggap barang berharga (precious). Macam-macam alasannya dan sangat politis nyaris tidak ada bau ilmiah (scientific)-nya. Yang lalu sudah berlalu. Sekarang, bisa lebih baik. Sains bukan dukun. Gejala klinis, tanda-tanda yang nampak, tes-tes yang berbeda itu data. Akan lebih mendalam kalau genom dibedah dengan cara sekuensing lengkap secepatnya. Supaya terkonfirmasi juga, apakah betul turis Jepang yang menyebarkan.

Ini ada gambar pola di beberapa negara. Empat negara hampir sama. Iran beda sendiri. Bagaimana dengan Indonesia? Karena hal inilah, perlu ada data scientists, epidemiologists, virologists, dan medical doctors! Boleh ada buzzer, asal info yang di-buzzer-kan dari data, bukan omongan yang palsu dan membodohi masyarakat.


Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done