Industrialisasi Kopi Itu Niscaya bagi NTB - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Rabu, 11 Maret 2020

Industrialisasi Kopi Itu Niscaya bagi NTB


Oleh: Fathul Rahman
(Komisioner KPID NTB, Pemerhati Lingkungan dan Kuliner)

Akhir-akhir ini NTB sedang demam industrialisasi. Beberapa kali berita industrialisasi menjadi headline di koran lokal. Belum lagi terhitung berita-berita di halaman ekonomi, halaman NTB, halaman 1, halaman pendidikan, sementara belum masuk halaman olahraga dan hiburan.

Ada acara putar film, muncul ide industrialisasi perfilman. Ada orang bawa kain, muncul ide industrialisasi perbenangan. Ada orang tanam lamtoro muncul ide industrialisasi per-lamtoroan bersama per-sapian. Ada berita fashion show, muncul ide industrialisasi per-fashionan. Ada kunjungan menteri LH Denmark, muncul ide industrialisasi persampahan, eh maaf, industri energi terbarukan. Ada program tanam mangrove di pesisir yang kena abrasi muncul wacana industrialisasi perikanan yang sudah "dipanjar" dengan mesin pengolahan ikan.

Baru-baru ini juga muncul industrialisasi per-minyakan. Minyak kayu putih tentunya. Sebab minyak bumi yang konon ada perairan utara pulau Lombok belum pernah ada yang eksplorasi.

Berkat arahan dan bimbingan seorang kawan yang doyan kopi pahit, saya memulai berburu kopi di beberapa petani. Tujuannya pengen tahu saja bagaimana caranya kopi itu ditanam, dipanen, diolah, hingga kemudian masuk ke cafe-cafe. Kenapa kopi yang ada di Kopi O beda rasanya dengan kopi di warung Pak Suep. Kenapa kopi Robusta yang di cafe Generasi Ngopi beda rasanya dengan kopi Robusta di warung pasar Ancak Bayan. Padahal sama-sama Robusta.

Suatu hari saya diajak ke kebun kopi seorang kawan mahasiswa UIN Mataram. Kebetulan saat itu masih banyak sisa panen kopi. Saya membeli biji kopi mentah yang belum diolah. Baru sebatas pengeringan yang belum sempurna. Saya bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena dapat kopi dengan harga sangat murah. Satu baskom biji kopi luwak saya beli dengan harga Rp 100.000.

Di lapak jualan online, biji kopi luwak yang sudah dirosting harganya bisa mencapai Rp 500.000,_.  Di kampung kawan itu saya membeli kopi bubuk luwak seharga Rp 70.000. Kopi itu diolah sendiri oleh warga setempat.

Saya membawa biji kopi itu ke rumah teman yang lumayan jago urusan kopi. Dia jemur di atas alat tripleks. Bukan terpal. Tidak menyentuh tanahnya. Kata teman ini, cara menjemur dan tempat menjemur menentukan rasa. Termasuk juga tingkat kekeringan.

Karena nggak punya mesin roasting kami berburu tempat roasting. Ternyata mahal juga. Jasa roasting Rp 30 ribu/kg. Saya nanya di beberapa teman yang bisnis kopi memang biaya jasa roasting itu segitu. Hingga kemudian saya diajak roasting ke pelosok Senaru Lombok Utara. Dapat harga perkenalan. Teman yang udah cukup lama di usaha kopi ini meminta remaja tukang roasting itu dengan tingkat medium. Tak lupa juga dia ingatkan soal suhu dan waktu roasting. Termasuk juga wadah untuk menyimpan.

Hingga kemudian saya membandingkan rasa kopi luwak yang saya beli dalam bentuk bubuk di petani dengan  kopi luwak yang diolah kawan ini. Sumber kopi sama. Tapi rasanya beda. Sangat jauh berbeda. Saya gak tahu sebutan atau istilah rasa kopi, yang pasti kopi yang diolah kawan ini rasanya lebih enak di lidah saya.

Kata kawan yang di rumahnya banyak peralatan kopi, ada buku tentang kopi, dan bungkus kopi yang punya catatan-catatan yang saya tidak mengerti, aroma dan rasa kopi ditentukan oleh cara panen dan pengolahan pascapanen. Selama ini petani kopi kita panen dengan cara lama. Dipetik semua. Hijau. Merah. Kuning. Jemur di terpal. Digoreng sederhana. Kalau ada yang punya alat goreng sederhana hanya pakai perasaan. Rasa kopi yang dihasilkan seperti kopi yang biasa dijumpai di warung warung kaki lima.

Beberapa pengusaha kopi - yang saya kenal rata-rata usia 24-33 tahun - menjelaskan tentang kondisi kopi Lombok dan Sumbawa. Petani kopi masih panen dan pengolahan dengan cara sederhana. Tak heran harga kopi sangat murah, Rp 20.000/kg.

Banyak pengepul yang meraup untung besar. Beberapa pengusaha muda kopi mulai mendekati petani. Melatih mereka. Kemudian membayar dengan harga lebih mahal. Awalnya repot tapi lama kelamaan petani terbiasa. Mereka senang harga lebih mahal. Kawan yang usaha kopi ini juga senang. Kualitas kopi jualannya terjaga.

Hampir seluruh desa di lingkar Rinjani adalah penghasil kopi. Begitu juga desa di lingkar Tambora. Desa-desa di pegunungan Sumbawa dan Sumbawa Barat adalah sumber kopi. Hasil kopi berlimpah. Tapi kenapa saya tidak pernah membaca "industrialisasi kopi".

Karena selama ini industrialisasi identik dengan mesin, maka saya sederhanakan saja industrialisasi kopi ini dengan menghadirkan mesin dalam usaha kopi. Khususnya pengolahan pascapanen.

Mulai dari pengeringan, roasting, grinding kopi, pengemasan, hingga pemasaran. Selama ini sudah ada beberapa pemain industrialisasi kecil kecilan ini. Sangat terbatas karena memang cukup mahal harga alatnya. Saya cek di website salah satu alat roasting yang cukup dikenal harganya di atas 20 juta.

Dinas Perindustrian tidak perlu terlalu banyak rencana untuk program industrialisasi. Komoditas kopi yang ada di depan mata. Jelas produksinya mestinya bisa menjadi garapan industrialisasi itu. Ketimbang masih membayangkan "industri perfilman di NTB" lebih masuk akal menggarap kopi. Apalagi di tengah kegandrungan anak-anak muda untuk menikmati kopi. Industri kopi ini sudah lama berjalan. Digerakkan oleh anak-anak muda. Dengan modal sendiri dan belajar dari teman. Termasuk belajar hingga ke Pulau Jawa.

Pemerintah bisa membantu mempercepat. Membantu fasilitasi peningkatan kapasitas hingga membantu peralatan. Bukankah STIP Banyumulek bisa membuat berbagai mesin sederhana. Mesin roasting dan grider saya rasa bukan perkara sulit.

Petani bisa meningkatkan kualitas produk mereka. Syukur-syukur mereka juga bisa menjadi pemain dari hulu hingga hilir. Tidak sekedar menjual biji kopi mentah.

Untuk peningkatan kapasitas petani bisa diurus dinas pertanian. Undang ahli kopi untuk melatih petani kita.

Untuk pengolahan pascapanen juga bisa undang pakarnya. Latih para petani muda. Latih anak-anak muda yang mulai berbisnis kopi. Latih mereka agar mampu meningkatkan kualitas produk mereka.

Bantu mereka untuk mendapatkan alat-alat yang dibutuhkan. STIP akan semakin hidup. Berinovasi membuat alat-alat untuk industrialisasi kopi.

Fasilitasi mereka untuk membuat kemasan bagus dan murah. Jika rumah kemasan milik pemerintah masih jadul dan sulit dijangkau dan biasanya juga tidak semua anak muda senang berhubungan dengan pemerintah, fasilitasi mereka untuk dilatih sama ahlinya. Ketimbang orang-orang pemerintah studi banding, pakai dana itu untuk datangkan ahlinya itu ke NTB. Siapa tahu dia juga bisa meng-endorse produk di NTB dan pariwisata NTB.

Bikin acara/festival yang berkaitan dengan kopi. Berikan kepercayaan pada anak-anak muda itu untuk memikirkan konsep dan eksekusi. Pemerintah dukung anggaran dan cukup duduk manis hadir saat acara. Tidak perlu menghabiskan duit banyak utk berbagai rapat rapat persiapan.

Tentu saya senang jika banyak program industrialisasi di NTB. Tapi ketimbang menjadi beban - ingat masa jabatan itu terbatas - sebaiknya memulai dengan hal sederhana dan yang ada di sekitar kita.

Langkah besar dimulai dengan langkah kecil. Tapi jangan sampai salah mengambil langkah pertama. #NTBGemilang

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done