Corona dan Guru Terbaik - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Selasa, 21 April 2020

Corona dan Guru Terbaik


Oleh: Samsun Hidayat, M.Pd.
(Direktur Sinergi NTB)

Wuhan, sebuah Kota di China, dalam sepekan mendadak terkenal di seantero dunia. Desember 2019 Seluruh mata terperanjat oleh potongan potongan video singkat manusia-manusia yang meregang nyawa di sudut-sudut jalan Wuhan. Terkapar dan gemetar. Dunia seketika menyaksikan kepanikan wuhan dan China dalam berbagai respon dan reaksi.  Ada yang berharap dijauhkan dari wabah, ada yang serius menyampaikan peringatan, Ada juga yang sempat ambil kesempatan. kesempatan ingin terkenal dengan membuat lucu-lucuan dalam bentuk status medsos, bahkan "Prank" di chanel youtube.

Bagi manusia-manusia yang (merasa) posisi nya jauh dari china, saat itu mungkin masih bisa tertawa. Mereka (oknum-oknum) yang berada di tanah Adikuasa sempat tak menghiraukan dengan nada meremehkan. Bahkan Indonesia (saat itu) masih bisa "cengengesan" dengan ide promo penerbangan.

"Mungkin saat itu Indonesia merasa masih memiliki Gatot Kaca, Mak Lampir, wiro sableng, dan pendekar drama lainnya yang sakti"

Beberapa saat kemudian, Wabah dari China menunjukan keganasannya.  membayar kontan seluruh kesombongan. Korea selatan dilanda kepanikan karena wabah menyerang rakyatnya hingga ribuan. disusul Italia yang begitu tragis dan dramatis. Amerika "bungkam" terbawa kepanikan. Lalu indonesia? Masih dengan ciri khasnya, "perdebatan" tanpa ada kepastian keputusan.

Ketika Positif pertama diumumkan di Indonesia.  Negara terlihat panik di mana beberapa oknum mengatakan "Jangan Panik, Corona bisa disembuhkan!". "Ahh halu itu mulut" Negara sekelas China saja panik, mana bisa kita yang banyak hutang tidak panik.

Maka mulailah kepanikan di mana-mana, ekonomi-ekonomi rakyat kecil di ujung tanduk kekuatiran. mati sepi pembeli, bosan tiada penumpang, keramaian dihentikan dan dibubarkan. tempat mengais rizki pun seperti meja halusinasi. yang di kota panik menuju desa. yang di desa pun curiga dengan kedatangan orang kota. Dari rangkaian itu semua, memperlihatkan bahwa sebagian besar (bahkan seluruh) masyarakat indonesia dilanda kepanikan. Panik sambil belajar tentang hikmah kehidupan.

Serahkan Pada Ahlinya.

Melihat perdebatan dan kepanikan oleh wabah dari China itu, seolah Negara kita ini hanya dipenuhi oleh ahli-ahli debat tanpa ada sinergitas menuju keputusan. Tidak sedikit peringatan-peringatan dari ahli kesehatan, dokter, perawat, bahkan dalam bentuk keluhan akan keterbatasan Negara. Namun terasa terabaikan. Informasi-informasi pun ramai bertebaran. Masyarakat dipaksa menelan meski itu adalah kebenaran tercampur kepalsuan. Wajarlah kemudian masyarakat menjadi gamang dalam hal ketaatan. Karena pemimpin pemimpin masih berselisih tanpa keputusan. Masyarakat hingga kini pun masih perlu pencerahan tentang siapa yang menjadi "Komandan" perang ini.

Maka jalan terbaik menuju keselamatan adalah mendengar ahli yang memiliki ilmu. Terkait wabah ini, kita hanya punya satu harapan, yaitu pihak-pihak garda belakang, Dokter, perawat, serta relawan-relawan yang faham kesehatan. Patuh dan dengarlah nasehat mereka. karena hanya orang "tolol" yang belajar cara menghadapi ombak pada petani tulen. dan hanya orang "bahlul" yang belajar cara menyuburkan tanah pada nelayan tulen.

Dan pada akhirnya Negara juga meminta kita semua untuk patuh dan membantu pihak kesehatan melalui berbagai upaya. diantaranya isolasi diri, diam di rumah, hindari kerumunan, masker dan lain sebagainya. Meski hal ini terdengar telat, namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Kesombongan Makan tuan

Tidak sedikit kisah lalu tentang betapa mengerikan kejatuhan manusia-manusia engan kesombongan. Bahkan agama islam mengajarkan suatu prinsip, ketika terjadi musibah terhadap orang lain, kelompok bahkan negara lain yang korbannya adalah manusia, kita diminta untuk berdoa agar dijaukan dari musibah bahkan bencana serupa.  bukan malah menjadi "bebal" dengan sederetan anekdot ejekan bahkan "Prank" murahan. karena bisa jadi Tuhan akan kirimkan juga untuk kita sebagai pelajaran.

belum lagi vedeo viral tentang sekelompok orang yang "mengaku beriman"  mengucapkan kalimat "Kita tidak takut dengan Corona, kita takut Kepada Allah, dan Corona Takut kepada kita". Padahal Orang beriman diminta mentaati pemimpin-pemimpin mereka. Negara telah meminta untuk berhenti berkumpul berkerumun di masa pandemi, itupun dibayar kontan dengan menjadikan kegiatan tersebut sebagai salah satu cluster penyebaran wabah termasuk di NTB.

Penulis tidak ingin menyudutkan, penulis hanya ingin menyampaikan bagaimana jadinya ketika kita sebagai manusia beriman tidak mematuhi pemimpin dalam bernegara. agar hal-hal serupa tidak terjadi di desa-desa  lalu berakhir pada penyesalan dan saling menyalahkan.

Atau memang kesombongan ini adalah watak Negara bangsa? di mana wabah hadir membawa kepanikan karena pemimpin-pemimpin negeri ini sempat nyinyir? wallahualam.

Kini, Wabah itu terasa di ujung hidung. sebagian besar wilayah menjadi zona merah. lokdan lokdon diterikan hingga ke pedalaman. Wabah memaksa kita untuk "mengakui" bahwa dia guru terbaik untuk mahluk bebal seperti saya dan kita semua. Bayangkan, dari tua hingga balita menghafal dan mengingat nama "wuhan" dan "China". Saya yakin kita akan mengingatnya dan mewariskan sejarah ini. Siapa gurunya? Corona!.

Semua kita memahami cara mencuci tangan yang benar, di setiap rumah pun tersedia alat dan perabotannya. Apakah dulu waktu sekolah pernah diajarkan? sebagaian besar pernah, "tapi lupa". lupa karena kita tidak peduli kesehatan. mungkin corona datang sebagai guru bagi manzsia bebal seperti saya dan kita semua agar menjadikan cuci tangan sebagai budaya.

Ketika PSBB diberlakukan, saya dan kita semua mulai goyah. terasa hidup sebatang kara di hingar-bingarnya dunia. Semua mulai merasakan kejenuhan dan ksengsaraan. sesungguhnya Beratnya social distancing ini semakin terasa karena kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Apa perlu Corona mempertegas hal itu kepada kita? bahwa hidup sendiri dan menjadi manusia egois dan apatis terasa berat. Kita pernah diajarkan tentang hidup sebagai mahluk sosial. Tapi selalu sering khilaf dan lupa menerapkannya. mungkin corona hadir untuk mengajarkan saya dan kita semua yang bebal ini agar setelah Corona pergi, kita menjadi lebih sadar

*Bersambung

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done