Corona, Pengusaha Lokal dan Learning by Doing... - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Minggu, 19 April 2020

Corona, Pengusaha Lokal dan Learning by Doing...


Oleh: Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc.
(Gubernur NTB)

Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) memaksa kita untuk berubah dan memandang banyak hal dengan cara yg berbeda. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), inipun kita lakukan.

Program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) Gemilang Provinsi NTB sebagai bentuk bantuan sosial pemerintah dengan sembakonya memberi ruang pada sektor usaha kecil menengah (UKM) untuk berpartisipasi. Ini penting, agar UKM kita hidup dan punya ruang untuk belajar dan mengakumulasi pengalaman. Tentu harganya, kadang, lebih tinggi dari pemain-pemain besar. Kualitasnya pun kadang sedikit di bawah. Tapi semua itu kami konversi ke dalam biaya pembelajaran dan akumulasi pengalaman.

Pembelajaran (learning) macam-macam bentuknya, ada pelatihan (training), ada searching melalui penelitian-penelitian, dan sebagainya. Dan, tentu saja, untuk negara atau daerah berkembang seperti daerah kita, learning mechanism atau bentuk pembelajaran yang paling banyak dan biasa dilakukan adalah Learning by Doing. Belajar (learning) yg diperoleh dengan mengerjakan (doing) praktik-praktik kekaryaan secara langsung.

Bagi setiap UKM yang ada, agar bisa learning, ya, harus diberikan pekerjaan (doing). Ini yang menjadi salah satu alasan mendasar kenapa dalam JPS Gemilang pemerintah provinsi (pemprov) NTB mengutamakan produk-produk UKM lokal.

Alhamdulillah. Kita bersyukur, hasilnya sangat mengesankan. Pengadaan masker sebagai contoh. Pada produksi awal. UKM-UKM kita banyak mengalami ketaklengkapan dan ketaksempurnaan. Ada yg ukurannya terlalu pendek, ketebalan kain yang kurang, dan lain-lain. Ini justru terasa seru dan memantik semangat kita bersama untuk terus berpacu melakukan perbaikan-perbaikan.

Pun demikian, dengan umpan balik (feedback) yang diberikan Dinas Koperasi dan UKM, juga Dinas Perindustrian Provinsi NTB, produk-produk berikutnya bisa jadi lebih baik dan lebih berkualitas.

Dalam perkembangannya, sekarang ini, corak dan modelnya memiliki varian bermacam-macam. Inilah Learning by Doing itu. Inilah Learning yang menghasilkan Inovasi Teknologi (technological innovation). Begitu juga dengan produk-produk lain oleh UKM kita telah mampu menghasilkan inovasi teknologi yang benar-benar nyata dan sangat membanggakan.

Logika berpikir sementara kalangan harus dibalik. Kita tak perlu membayangkan bahwa inovasi teknologi itu, seolah-olah, terlalu rumit dan tak sederhana. Ia justru sesuatu yang sederhana dan berada di keseharian kita, di sekitar kita. Tinggal bagaimana kehendak kita untuk mulai melakukannya. Saat ini juga.

Hal sederhana, seperti cara memilih kain, cara menjahit, cara memahami model dan corak baru sesuai standar dan pesanan adalah bentuk Inovasi itu. Seiring dengan berjalannya waktu, hasilnya akan lebih berkualitas dan harganya semakin lama akan semakin kompetitif.

Lantas, Apa Hanya UKM?!

Tentu saja tidak. Corona nyaris melumpuhkan ekonomi kita. Selain menggerakkan setiap UKM lokal, kami sekarang sedang mendorong Dinas Pekerjaan Umu (PU), Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) dan organisasi perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengakselerasi berbagai pekerjaan agar segera tuntas. Dan, program-program ini, akan kami 'paksa' untuk dimenangkan oleh pengusaha-pengusaha lokal.  Begitu juga, Biro Administrasi Pembangunan (AP) sudah kami perintahkan untuk memberikan prioritas kepada para pengusaha lokal NTB utk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di NTB ini.

Sekali lagi, kenapa harus pengusaha lokal? Karena, seperti logika UKM di atas, dengan memberikan mereka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, sejatinya, harus diberikan juga kesempatan utk learning by doing yang bersifat langsung dan nyata. Di sini dan saat ini.

Belajar sambil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ada di NTB adalah keharusan sejarah kita agar di kemudian hari, masyarakat kita tak menjadi penonton di tempat tinggalnya sendiri. Tanpa learning by doing, maka para pengusaha lokal kita selamanya tak akan mampu bersaing dan akan selamanya jadi penonton.

Dalam hal tender misalnya. Menyangkut harga pengusaha-pengusaha lokal yang lebih mahal dan kualitasnya agak sedikit kurang, ya, harus bisa dipahami. Ada cost of learning. Ada biaya pembelajaran di sana. Karna, kalau langsung harus aple to aple dan atau disamaratakan dengan pengusaha luar, maka pengusaha lokal kita tak akan pernah menang. Badan Pemerika Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Kepolisian dan Kejaksaan harus juga memahami ini.

Jadi, harapan saya, saya mengajak Biro AP di masing-masing Kabupaten/Kota di NTB untuk memberikan akses dan kesempatan kepada pengusaha-pengusaha lokal, agar ke depan tak ada lagi pengusaha-pengusaha luar mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh pengusaha lokal kita sendiri.

Untuk maju kita memang butuh learning. Dan, learning yang terbaik, sementara ini, bagi pengusaha-pengusaha lokal kita adalah learning by doing.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done