Di Tengah Corona: Eva Yolanda itu (Masih) Anak-Anak - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Minggu, 05 April 2020

Di Tengah Corona: Eva Yolanda itu (Masih) Anak-Anak


Oleh: Fathul Rahman
(Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB)

Dua hari ini jagat medsos kemudian diikuti media mainstream ramai memberitakan kepulangan kontestan Liga Dangdut Indonesia (LIDA) : Baiq Eva Yolanda. Di dalam semua berita itu ramai menggunjingkan kepulangan Eva yang disambut meriah. Padahal saat ini masa-masa krisis Covid-19. Wabah penyakit menular yang memaksa kita harus menjaga jarak. Penularan yang cepat membuat kita was-was. Apalagi penyakit ini tidak bisa dilihat secara kasat mata. Menjaga diri adalah satu-satunya cara untuk mencegah keadaan lebih parah.

Penyambutan Eva Yolanda, termasuk dia juga sempat menyanyi (lebih tepatnya diminta menyanyi) di hadapan warga kampungnya adalah sebuah kesalahan. Titik. Cukup itu saja. Tidak perlu terlalu mem-bully nya. Kita harus arif melihat kasus ini. Kesalahan bukan pada Eva. Eva hanya Anak-Anak. Saya melihat Eva sebagai anak SMA yang masih punya masa depan panjang.

Sebagai Anak-Anak yang masih berseragam putih abu, tinggal di kampung, pencapaian Eva saat ini adalah prestasi besar. Daerah asal Eva adalah salah satu daerah penyumbang angka perkawinan anak yang cukup tinggi. Daerah asalnya adalah kantong buruh migran. Pencapaian Eva bukan sekedar prestasi bagi dirinya. Keberhasilan Eva adalah kebanggan bagi kampungnya. Barangkali anak-anak di bawah Eva akan memiliki mimpi seperti Eva. Tidak kemudian merarik kodek atau menjadi kuli di negeri tetangga. Eva adalah role model baru di kampungnya.

***

Industri hiburan adalah bisnis besar. Eva adalah salah satu jualan itu. Pemilik acara tahu cara membangun sentimen orang terdekat , kemudian memperluas menjadi sentimen daerah. Jumlah penonton TV acara semakin banyak. Jumlah penonton stasiun TV itu semakin banyak. Kelak dalam sebuah survey akan mengeluarkan data bahwa TV ini memiliki penonton sekian persen, khalayak menonton stasiun TV ini sekian jam, dari seluruh acara TV tersebut acara A adalah favorit. Data inilah yang kemudian jualan ke pengiklan. Data adalah barang yang sangat berharga.

Jadi jangan baper jika kemudian pemilik acara menentukan si A yang harus melaju. Jangan sewot jika si B yang kualitasnya jelek lebih diunggulkan. Ini adalah pasar. Sebuah acara TV bukan dinilai sekedar kualitas, tapi jumlah pemirsa. Jangan heran jika acara A yang menurut kita tidak berkualitas tapi paling tinggi ratingnya. Ada penonton setia tayangan itu.

Acara TV mencerminkan pula "kualitas" khalayak. Apa yang menjadi tayangan menjadi cerminan khalayak. Jika anda suka acara A, sangat suka sekali, itu menentukan kualitas anda.

Jangan heran acara-acara "hantu yang dibungkus agama" banyak penonton. Karena seperti itulah kualitas penonton. Seperti itulah kondisi masyarakat kita. Jualan agama, jualan mistik masih laku, bahkan jika tidak diatur mungkin akan mendominasi acara. Jangan heran kemudian ketika muncul YouTube, menjadi saluran baru untuk jualan agama dan mistik itu. Kita senang menonton.

***

Cara kita merespons pencapaian, prestasi, kegagalan, dan kepulangan Eva adalah wajah kita yang sebenarnya. Wajah kepura-puraan.

Ketika Eva mulai beranjak naik, kita semua berebut ingin terdepan sebagai pendukung. Membuat poster. Menggalang aksi SMS. Tiada hari tanpa Eva. Secara tidak sadar kita ingin menunjukkan ke publik bahwa saya, kita, adalah yang paling peduli dan berjasa kepada Eva. Di tengah minimnya figur anak muda dan riuhnya perdebatan anak-anak muda di Lotim, kehadiran Eva seperti menyatukan semuanya.

Ketika Eva gagal ada yang merasa itu adalah kecurangan. Membela Eva tapi ada juga yang mulai diam-diam mencibir. Wajah belakang kita mulai muncul.

Saat kepulangan Eva inilah puncaknya. Bagi warga kampungnya Eva tetap pahlawan. Membawa nama kampungnya hingga terkenal ke Jakarta. Dikenal nasional.

Mereka lupa bahwa masa-masa ini sedang "sosial distance". Saat ini sedang berlaku "lockdown lokal". Mereka melupakan itu semua demi melihat remaja yang beberapa waktu lalu masih main selodoran, kini menjadi bintang baru.

Kerumunan ini salah. Lalu salah siapa?

Eva tidak salah. Dia hanya anak-anak yang mengikuti apa perintah orang dewasa. Dia seperti wayang yang dimainkan wayang.

Warga juga barangkali juga cuek. Istilah-istilah "social distance", ODP, PDP, karantina, isolasi tidak mereka mengerti. Selama masa-masa Covid-19 ini barangkali mereka tidak pernah menonton berita atau membuka medsos. Mereka hanya menonton TV saat Eva tampil. Mereka membuka medsos untuk mempromosikan Eva.

***

Acara kerumunan itu salah. Titik.

Pihak manajemen dan aparat yang harusnya bertanggungjawab minta maaf secara terbuka saja. Titik.

Lalu lakukan karantina, bagi Eva dan bagi warga yang ikut menyambutnya.

Jangan lagi kita mengulang kebiasaan kita, mem-bully dengan penuh amarah. Padahal kemarin menyanjung setinggi langit. Kita harus belajar memaafkan dan mengkritisi dengan proporsional.

Eva Yolanda masih anak-anak, dia masih punya  jalan panjang. Jangan kita potong jalannya. Dia tidak salah. Dia hanya anak-anak yang mengikuti apa kata orang dewasa. Sekarang minta Eva memberi petuah kepada para pendukungnya : mari kita isolasi diri, mari kita karantina diri sendiri, di kampung kita.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done