Fiqih Corona - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Jumat, 17 April 2020

Fiqih Corona

Oleh: Mukhlis Muma Leon
(Editor Buku dan Wakil Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) Provinsi NTB)

Islam itu berarti patuh, tunduk dan pasrah. Tidak ngeyel, tidak merasa paling alim, tidak pula paling shaleh.

Paling religius. Paling... jangan pagah, jangan...?!

Agama memfasilitasi kemudahan beragama yang dalam kajian fikih  yanh disebut dengan rukhsah, atau dalam kondisi kedaruratan. Sementara dalam situasi normal, namanya tasydid, yang bermakna keharusan atau kewajiban.

Saya --dan mungkin sebagian yang lain-- sedang berislam dan tidak runtuh keislaman serta keimanannya hanya karena mempergunakan fasilitas rukhsah dalam beragama. Karena, "addinu yusrun" (agama itu mudah), dan jangan dibikin rumit laiknya orang Yahudi yang cerewet dan banyak tanya, banyak debat.

Umar bin Khattab yang setan pun takut menggigil melihatnya, tiba-tiba membatalkan niatnya ke suatu daerah pandemik. Para sahabat yang lain mempertanyakan sikap Umar tersebut. "Kita lari dari takdir untuk menuju takdir yang lain," jawabnya.

Apa kurang alim iman dan imunnya Umar bin Khattab?! Tapi, ia menghindar agar tidak mati konyol.

"Menjaga diri/jiwa" (hifhz an-nafs) adalah kategori primer yang diletakkan oleh Al-Ghazali dan As-Syatibiy yang dikenal dengan al-Kuliyyatul Khamsah.

Anda sayang diri Anda, keluarga, kerabat, dan lainnya, kan? Tidak ingin sakit tanpa ditemani keluarga dalam ruang isolasi dan atau meninggal dalam kesepian?

Karenanya, mengikuti imbauan MUI dan protokol pemerintah adalah sebuah keharusan agar pandemik ini segera berlalu.

"Dar'ul mafashid muqaddamun 'ala jalbil mashalih". Bahwa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kebaikan. Artinya, apabila ada dua kemungkinan yang akan muncul: efek jelek dan efek baik, maka konsekuensi jeleknya harus diutamakan. Pencegahan penyebaran Covid-19 harus lebih diutamakan tinimbang praktik kesolehan.

Ibnu Hajar al-Asqalaniy, ahli hadis, telah memberikan legasi agar tidak terjebak pada kesalihan yang membabibuta dalam beragama. Wallahu a'lam bis-shawab.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done