Imajinasi Sosiologis: Kenapa Menolak Pemakaman Pasien Covid-19? - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Jumat, 10 April 2020

Imajinasi Sosiologis: Kenapa Menolak Pemakaman Pasien Covid-19?


Oleh: Alfathri Adlin
(Penulis & Editor, Alumni Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta)

Saya berusaha memikirkan kasus mereka yang menolak pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal, terutama tenaga medis yang meninggal. Apa imajinasi sosiologis mereka? Apakah gejala ini bisa dijelaskan dengan konsep imajinasi sosiologis?

: : : : : : : : : : : : : : : : :

Ini menarik. Kita coba lihat dulu salah satu fenomena komunikasi yaitu “komunikasi sebagai pembentuk opini publik.” Awalnya dipandang bahwa para jurnalislah yang menggiring opini publik melalui kolom-kolomnya, dan juga melalui propaganda.

Namun, saat pemilu, terlihat suatu fenomena berbeda. Ternyata “interaksi kelompok” itu seringkali menjadi alat persuasi bahwa “suatu tindakan perlu diambil demi kekompakan dan penerimaan dari anggota kelompok lainnya.” Apalagi kalau sudah dilabeli “demi kebaikan bersama.”

Dalam fenomena ini, ternyata bukan para jurnalis yang secara langsung mengendalikan opini suatu kelompok masyarakat, tapi justru para pemimpin kelompoknya. Maka “pembentukan opini publik” pun terjadi melalui dua tahap, yaitu “media massa → pemimpin kelompok → anggota kelompok.”

Hal ini terasa lebih kuat di kalangan masyarakat yang tingkat literasinya rendah. Ketimbang memiliki kemampuan mencari informasi sendiri dan memiliki distansi kritis, mereka lebih mudah mengiyakan siapa yang mempersuasi mereka, yaitu pemimpin kelompoknya.

Nah, melihat ternyata fenomena komunikasi pun berjalan seperti ini, maka media massa pun mengubah strateginya dengan menciptakan “agenda setting.” Ketimbang mempersuasi orang untuk memikirkan sesuatu, media pun mempersuasi tentang “apa sih perkara yang paling penting untuk dipikirkan?”


Namun, dalam perkembangan selanjutnya, muncul kesadaran akan “framing” dan “priming” sehingga yang dipersuasi adalah tentang “bagaimana seharusnya memikirkan sesuatu.”

Nah, di sini kita beralih ke imajinasi sosiologis. Imajinasi sosiologis adalah dasar yang penting jika kita mau belajar berpikir secara sosiologis. Imajinasi sosiologis adalah “persimpangan antara biografi seseorang dengan latar histori yang melatari hidupnya.”

Bahwa keputusan seseorang untuk berbuat begini begitu bukanlah sesuatu yang soliter alias terlepas dari berbagai pengaruh sosial di sekitarnya, terlepas dari lingkungan sosial di mana dia berinteraksi, norma dan nilai yang berlaku di dalamnya, maupun tindakan orang-orang di sekitarnya. Seorang perempuan yang patah hati namun berada di lingkungan yang soleh bisa jadi akan mengambil tindakan berbeda dengan perempuan patah hati yang berada di kalangan pergaulan bebas tanpa batas. Itu sekadar contoh saja.

Kata kunci dalam imajinasi sosiologis adalah “self-awareness”, yaitu bagaimana seorang individu yang kuat tak akan “kabawa ku sakaba-kaba” oleh lingkungan sosial tempat dia berada. Mirip ikan laut, yang tidak menjadi asin sekalipun hidup di lautan yang penuh garam.

Dalam kondisi di mana hoax beredaran di mana-mana, maka para pemimpin kelompok di masyarakat yang literasinya rendah pun mempersuasi anggota kelompok berdasarkan informasi salah yang sang pemimpin yakini sebagai benar. Adapun anggota kelompoknya, bisa jadi hanya menjadi buih yang mengikuti arus interaksi kelompok saja.

Kasus paling bagus adalah Holocaust di Perang Dunia II. Puluhan dan belasan tahun orang-orang Jerman hidup bertetangga dengan orang Yahudi. Namun, pada saat Hitler berkuasa, mereka mendadak tega menyakiti bahkan membunuh para tetangga Yahudinya tersebut.

Setelah PD II berakhir dan Jerman kalah, Hannah Arendt pun mengadakan penelitian. Dia menanyai semua orang Jerman yang terlibat kekejaman Hitler dan Nazi tersebut ihwal “kenapa kalian tega melakukan kekejaman tersebut?”

Jawaban mereka setidaknya ada dua jenis: (1) Nggak tahu ya, rasanya kalau saat itu saya tidak melakukannya, rasanya ada yang salah (misalnya, nggak nasionalis dll); dan (2) Nggak tahu ya, saya nggak sadar.

Namun, dalam bingkai imajinasi sosiologis, tak bisa orang-orang Jerman itu menimpakan kesalahan begitu saja kepada Hitler sebagai pemimpin mereka, dan mereka bebas dari kesalahan. Toh sebagai manusia mereka juga punya kehendak dan hasrat. Di mana self-awareness mereka saat “kegilaan kelompok” terjadi di sekeliling mereka?

Karenanya, dalam konteks imajinasi sosiologis, seorang yang berbuat kejahatan lalu menyalahkan keluarga dan orangtua yang tak memberi kasih sayang maupun menyalahkan lingkungan sosial yang melibatkannya dalam pergaulan salah sama sekali tak bisa diterima. Seolah dengan alasan demikian maka si penjahat terbebas dari hukuman. Tidak begitu logika yang hendak ditawarkan imajinasi sosiologis. Kata kuncinya adalah “self-awareness.”

Rasulullah saw pernah bersabda, “Permisalan teman yang shalih serta teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap (menempel di pakaianmu).” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Toh dalam QS Al-An‘├óm [6]: 116, Allah telah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done