Ironi di Tengah Pandemi - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Selasa, 28 April 2020

Ironi di Tengah Pandemi


Oleh: Muhammad Zulkarnaen
(Penulis Buku "Ma'rifat Keislaman dan Kebangsaan Tuan Guru Bajang")

Semakin hari, jumlah kasus positif Covid-19 di NTB terus bertambah. Data sampai dengan tanggal 26 April 2020 tercatat ada 195 positif covid-19. 23 sembuh. 4 orang meninggal. 297 PDP. Dan 841 berstatus ODP. Data ini terus berubah setiap harinya dengan jumlah kasus positif yang terus bertambah. Entah sampai kapan penambahan kasus orang positif covid 19 ini. Tidak ada yang tau pastinya.

Secara nasional, NTB saat ini telah berada pada urutan ke 7 sebagai provinsi penyumbang positif covid-19 di Indonesia. 6 provinsi di atasnya berada di Pulau Jawa dan 1 berada di Sulawesi. Tepatnya di Sulawesi Selatan.

Sebagai provinsi yang terbilang kecil di Indonesia, berada di urutan ke 7 dari 34 provinsi itu sesuatu yang cukup diwaspadai. Apalagi, semua kabupaten/kota seluruh NTB menjadi zona merah virus corona ini.

Kita menyaksikan pemerintah cukup serius dalam menangani covid-19 ini. Telah banyak himbauan yang dikeluarkan. Beberapa kebijakan juga telah diputuskan. Sosialisasi juga gencar diberikan. Mari kita hargai dan laksanakan bersama. Ini demi kebaikan dan kesalamatan kita semua.

Dengan dibantu oleh sumberdaya yang lain seperti kepolisian, TNI, para tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, ormas, para relawan dan lain sebagainya terus bahu membahu melawan pandemi global ini. Karena masalah ini masalah kita bersama. Maka, harus kita hadapi juga secara bersama-sama tanpa saling menyalahkan.

Namun, ditengah perjuangan melawan virus corona ini, ada sebuah postingan di akun FB Gubernur NTB, Dr. H. Zulkiflimansyah, yang membuat miris dan sedih. Isi postingannya:

Di salah satu WA Grup kami, Kepala Dinas Kesehatan kami menulis seperti di bawah ini. Beliau risau sekali. Mudah-mudahan jadi perhatian kita semua :

Catatan perjalanan dari Mataram ke Praya sore ini:

1. Lalu lintas sore ramai, 70% pengendara motor dan orang yg lalu lalang tidak mengenakan masker.

2. Pedagang takjil yg berjualan tidak seramai tahun lalu 80% tidak pakai masker.

Mohon ini menjadi perhatian kita semua.

Hari-hari ini kita fokus tracing kontak dan swab kluster Gowa dan magetan.

Masih ada ratusan yang reaktif dan sedang diambil swab serta diperiksa, dengan kemungkinan 50% positif. Artinya, minggu depan angka penderita di NTB sudah di 200-an.

Bila yang sehat dan masyarakat masih belum patuh dengan ketentuan yang ada, di akhir Mei angka tersebut bisa melonjak lebih tajam lagi.

Demikian bunyi postingan Gubernur NTB Bapak Zulkiflimansyah.

Apa yang disampaikan Pak Gubernur itu, begitulah realitas yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Masyarakat masih banyak yang seakan-akan menganggap sedang berada pada kondisi kondisi normal. Tidak sedang terjadi apa-apa. Padahal, Covid-19 yang penyebarannya sangat cepat itu berada di tengah-tengah kita.


Belakangan ini, kita juga melihat masyarakat seperti kucing-kucingan dengan petugas. Pemerintah bersama dengan para ulama meminta untuk melaksanakan ibadah seperti sholat tarawih dan aktivitas lainnya di rumah saja. Karena kita berada pada masa darurat. Namun, masih banyak yang tidak mengindahkan. Tetap menjalankan shalat tarawih di masjid atau musholla dengan tidak membunyikan pengeras suara supaya tidak ketauan sama aparat. Menyedihkan. Sebuah ironi di tengah pandemi.

Jika kondisi seperti ini terus menerus terjadi, maka akan sangat besar kemungkinannya NTB akan terus menyumbang jumlah kasus positif covid19 yang semakin besar. Berakhirnya pun akan semakin lama.

Semakin lama masalah covid-19 ini berakhir, semakin banyak pula masalah-masalah baru yang akan muncul. Aktivitas ekonomi akan semakin kacau. Pengangguran akan semakin banyak. Kriminalitas akan semakin marak. Perusahaan-perusahaan akan banyak yang gulung tikar. Serta segudang masalah baru lainnya. Ini tentu tidak kita inginkan terjadi.

Namun jika tidak ada perubahan prilaku masyarakat dalam merespon dan menyikapi wabah ini maka kemungkinan buruk itu akan kita hadapi. Siapkah kita?

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done