Kreasi di Masa Pandemi, Selalu Ada Cahaya di Ujung Terowongan - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Selasa, 14 April 2020

Kreasi di Masa Pandemi, Selalu Ada Cahaya di Ujung Terowongan


Oleh: Dr. H. Zulkieflimansyah
(Gubernur NTB)

Mengatasi wabah Corona Virus Disease (Covid-19) ini kita harus semakin waspada dan hati-hati. Jumlah warga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiagnosa positif oleh medis semakin lama semakin banyak. Dan, hari-hari ke depan, jumlah ini berpotensi akan semakin bertambah.

Yang membuat kita agak bernapas lega, saat ini, mulai ketahuan cluster-cluster-nya. Sehingga, walaupun jumlahnya akan bertambah tapi pola penyebaran dan penyebabnya sudah mulai bisa kita identifikasi.

Ke depan kita tetap harus bekerja keras. Karena ribuan saudara-saudara kita dari Luar Negeri dan Luar daerah masih akan berdatangan dan pulang ke kampung halaman, tempat kita tinggal.

Sejatinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB tetap menghimbau agar mereka sebisa mungkin menahan diri untuk tak mudik dulu. Tapi, pun seandainya mereka dipaksa juga dan harus dideportasi dari negara-negara tempat mereka bekerja, apakah lantas saudara-saudara kita, warga kita ini, hendak dibiarkan tak kembali pulang?

Mereka saudara dan sahabat-sahabat kita juga. Merekalah yang selama ini menjadi pahlawan devisa kita, yang berpeluh keringat, hingga berderai air mata bahkan darah untuk menghidupi keluarga-keluarga kita di sini, dan juga membantu perekonomian NTB, bahkan negeri ini.

Memang tidak mudah dan dilematis. Tapi saya selalu percaya, bahwa akan selalu ada cahaya di ujung terowongan, selalu akan ada jalan. Daya tahan dan kesabaran kita saja yang sedang diuji oleh Yang Maha Kuasa.

Pemerintah, kita semua, dituntut di masa-massa sulit ini untuk punya ide dan inovasi agar bisa survive (bertahan hidup). Lebih dari itu, bahkan potensial menggerakkan ekonomi kita. Kita hanya butuh percaya bahwa kita bisa.

Dari sejak awal pandemik ini mulai masuk ke daerah kita, semua pada berteriak masker langka, alat perlengkapan diri (APD) sangat terbatas dan lain-lain m. Tapi pegiat di sektor usaha kecil menengah (UKM) lokal NTB membuktikan bahwa di mana ada kemauan pasti ada jalan. Where there is a will, there is a way.

Kini, masker pun tak lagi langka. UKM-UKM kita sudah bisa produksi mandiri dengan berbagai ragam corak dan gayanya. APD lain pun bisa kita produksi. Hand sanitizer, cairan disinfektan, sabun cair dan batang, minyak kayu putih, minyak goreng dan lainnya, ternyata, semuanya bisa kita produksi dan kita hasilkan di NTB ini.

Kadang musibah dan rasa sakit memang membuat kita terpaksa 'belajar' dan mau berubah.

Pada Selasa (14/04/20) misalnya, saya posting di akun Facebook (FB) resmi saya tentang terobosan dan inovasi dari Puri Indah Hotel yg meredefinisi bisnisnya untuk memberikan layanan Isolasi Mandiri selama 14 hari. Menurut saya, ini ide yang luar biasa yang layak kita apresiasi.

Apa yang saya posting, saya sadari, akan menuai pro-kontra di masyarakat. Apalagi di tengah musibah global virus berbentuk mahkota yang juga melanda daerah kita. Tapi, saya merasa, ide kreatif seperti ini perlu untuk disampaikan ke khalayak.

Terbukti, tak sedikit yang melayangkan kritik keras. Warga kita menyayangkan, jangankan untuk tinggal di hotel yang berbayar, untuk kehidupan sehari-sehari di tengah pandemi ini saja sudah susah. Tentu ini benar sekali. Sebuah kritik yang wajar dan harus kita simak dengan baik juga. Tapi, kita pun seharusnya tetap memberi apresiasi. Kita perlu  hargai, bahwa di saat gejolak sedemikian dahsyatnya melanda berbagai sektor ekonomi kita, masih ada hotel dan atau pelaku ekonomi yang mampu berpikir kreatif. Mereka berupaya menelorkan ide agar hotel-hotel yang ada tetap bisa survive di tengah badai yang luar biasa berat ini..

Dengan adanya aktivitas hotel sebagai tempat isolasi mandiri, karyawan-karyawan jadi punya harapan untuk tidak di rumahkan.

Kalau saja semua hotel di semua kabupaten/Kota di NTB mau mengikuti apa yang dilakukan Puri Indah Hotel, maka, mungkin saja, saudara-saudara kita yg datang dari Luar negeri bisa langsung di tampung di hotel-hotel tersebut.

Pada titik ini, tentu, pemerintah daerah (Pemda) mestinya tak akan tinggal diam. Jika harga semakin terjangkau Pemda pun bisa urun-rembuk untuk membantu, sehingga hotel-hotel tetap hidup, karyawan-karyawan bisa bekerja, masyarakat bisa berkurang kecemasannya, dan saudara-saudara kita yg datang dari luar negeri dan luar daerah punya tempat utk solasi mandiri selama 14 hari.

Saya pribadi menyampaikan rasa terima kasih mendalam pada Puri Indah Hotel atas terobosan dan inisiasinya. Mudah-mudahan bisa jadi contoh bagi hotel-hotel yang lain sehingga ratusan hotel kita tak jadi tutup dan menimbulkan masalah sosial baru.

Seorang teman akan berhenti mengeluh akan merk sepatu yg dikenakannya, ketika melihat orang yang berlari di depannya sama sekali tidak punya kaki.

Saya pun jadi teringat dengan Pak Ketut, sahabat saya, yang punya kebun binatang di Lombok Utara.

Beliau menyampaikan: "Kalau Hotell-hotel tidak ada pengunjung, bisa merumahkan karyawan-karyawannya. Nah, kami ini, di kebun binatang mau dirumahkan, lau bagaimana nasib gajah, buaya, ular, komodo dan lain-lain ini? "

Insya Allah, selalu akan ada jalan dan harapan.
Kita hanya sedang "dipaksa" oleh Yang Maha Kuasa untuk mengolah akal dan pikiran kita untuk lebih kreatif mengatasi segala persoalan ini.

Semuanya akan berlalu. Sehabis gelap terbitlah terang. Semoga

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done