Memahami Ekologi Covid-19: Ikuti Himbauan dan Hindari Polemik - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Rabu, 22 April 2020

Memahami Ekologi Covid-19: Ikuti Himbauan dan Hindari Polemik


Oleh: Maria Ulfa Machsin
(Mahasiswa Pascasarjana Studi Patologi Universitas Brawijaya Malang)

Memasuki pergantian tahun, tepatnya, di akhir tahun 2019, muncul makhluk superkecil yang di kemudian hari menggegerkan masyarakat global. Adalah Corona Virus Disease  (Covid-19), wabah penyakit mematikan yang disebabkan oleh makhluk tak kasat mata yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop elektron.

Virus yang pada awalnya diduga berasal dari Kota Wuhan, China ini, menjangkiti manusia dengan melemahkan sistem imun. Satu persatu hingga jutaan orang terpapar, menjangkiti individu lain, berkembang dan semakin menyebar. Begitu seterusnya, tanpa pandang bulu. Bahkan, dokter dan tenaga medis yang cukup memahami seluk-beluk penyakit tersebut juga potensial terjangkit.  Fakta yang kita lihat, banyak dari tim medis garda terdepan yang gugur akibat virus ini.

Kian hari, sebaran virus berbentuk mahkota ini semakin luas dan kompleks. Hingga saat ini, di seluruh dunia sudah mencapai jutaan kasus infeksi. Indonesia sendiri sudah mecapai ribuan kasus. Dan, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), saat tulisan ini ditulis, sudah 115 orang telah dinyatakan positif  Covid-19.

Seiring dengan merebaknya kasus ini, polemik di masyarakat pun semakin mencuat. Mulai dari yang  awalnya berpendapat bahwa virus ini tidak dapat hidup di Indonesia karena bukan habitat aslinya ditunjang dengan berbagai alasan dan pendapat yang secara tegas menyatakan bahwa virus ini mustahil untuk mampu berkembang di negara kita. Tidak. Pendapat itu  keliru. Bukan tidak mungkin virus bisa berkembang di wilayah Indonesia bahkan di seluruh penjuru dunia selama ada wadah berupa sel hidup dalam mendukung tumbuh kembaangnya. Dan, faktanya, apa yang terjadi hingga saat ini, virus ini telah membabibuta merenggut ribuan jiwa manusia.

Ekologi Virus dan Covid-19

Perlu diketahui bahwa virus tidak dapat menjalankan aktivitas metabolismenya sendiri. Terdapat berbagai enzim atau komponen-komponen lainnya yang tidak dimiliki oleh virus untuk menjalankan kehidupannya. Oleh karna itu, virus dikatakan sebagai benda mati.

Untuk menjalankan kehidupannya, virus membutuhkan sel inang, yaitu sel sel yang digunakan virus untuk dapat bermetabolisme. Sifat ini disebut parasit intraselular obligat. Namun demikian, tidak semua sel dapat menjadi inang virus. Sebelum sel dijadikan inang, virus mengidentifikasi terlebih dahulu sel inang dengan menggunakan kesesuaian atau lock and key. Kisaran sel yang dapat dijadikan inang oleh virus disebut kisaran inang. Beberapa virus memiliki kisaran inang yang luas. Contohnya, virus flu burung yang dapat menginfeksi golongan Aves.

Struktur virus biasanya hanya terdiri atas RNA atau DNA saja termasuk Corona. Virus ini memiliki genom RNA Positif dengan panjang 27-32 kilobasa yang kemudian membentuk protein penyusun tubuh virus misal fosfoprotein N, glikoprotein M, protein E, protein S dan glikoprotein HE serta enzim lainnya untuk multi-penggandaan diri virus tersebut. Adanya protein S ini menjadikan virus Corona lebih khas karena merupakan gerbang menuju penempelan pada reseptor di sel pernapasan.

Mirip seperti SARS, Covid-19 menyerang tubuh dalam tiga fase yakni replikasi virus, hiperaktif imun, dan perusakan paru-paru. Pada sebagian besar orang yang terinfeksi mampu menghasilkan virus pada awal infeksi dengan masa inkubasi 5,1 hari.

Covid-19 hadir dalam tiga pola infeksi, yaitu, dimulai dengan penyakit ringan dan gejala saluran pernafasan atas, kemudian diikuti oleh pneumonia. Setelah berkisar satu minggu akan diikuti dengan gangguan pernafasan akut yang berkembang dengan cepat. Sama seperti influenza, begitupun juga Covid 19, bisa menyebabkan penyakit pernafasan dan menyebar dengan cara yang sama melalui droplet berupa cairan hidung atau cairan dari mulut orang yang terinfeksi tetapi tidak mentransmisikan seefisien influenza.

Selain itu, virus ini juga belum ditemukan vaksinnya sehingga untuk sementara waktu perlindungan terbaik dapat dilakukan dengan intervensi non farmasi, seperti mencuci tangan dengan benar secara menyeluruh, menutup mulut saat batuk dan bersin, melakukan disinfeksi dengan menjaga kebersihan sekitar dan meghindari kontak dengan orang-orang sakit.

Ikuti Himbauan dan Hindari Polemik Menyesatkan

Wabah Covid-19 ini memang membuat masyarakat gaduh dengan berbagai polemik dan jelas sangat mempengaruhi psikologis masyarakat. Ada yang dadakan menjadi pengamat kesehatan walaupun belm pernah mendalami bidang terkait sebelumnya, ada yang menyebar informasi tanpa memfilter terlebih dahulu dan, bahkan, tidak sedikit yang termakan berita hoaks.

Terjadi pula gelombang panik di masyarakat melihat status warga mulai dari ODP, PDP, hingga pasien positif Covid 19. Reaksi masyarakat beragam. Ada yang takut, ada yang biasa saja dan  juga ada yang saling memberi support/dukungan. Tidak hanya apa yang mereka lihat di sekitar, pemberitaan di  media pun tak luput dari pemantauan. Hal tersebut, tentunya, memberi pengaruh terhadap potensi stigmatik khalayak umum yang diikuti dengan munculnya respon yang berbeda pula. Yang benar-benar perlu diperhatikan adalah kontrol terhdap informasi. Masyarakat juga harus cerdas dalam menyerap dan menyaring informasi yang baik dan benar.

Dalam berbagai respon yang ada, kita semua tahu dan lihat bahwa masih banyak masyarakat yang pagah (keras kepala) tidak mengindahkan himbauan dengan dalih kebal karena terkadang terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial. Tidak sedikit masyarakat sering keliru misalnya dalam pernyataan berikut, "orang yang pernah tejangkit virus korona akan memiliki kekebalan tubuh alami." Masyarakat awam pun akan berpikir bahwa orang yang pernah kena saja kebal mengapa kita harus melakukan social distancing atau physical distancing? Contoh lain misalnya, mengkonsumsi air jeruk dan berjemur akan menghindari kita dari virus korona. Lalu hal tersebut dirafsirkan sebagai bentuk imunitas sehingga merasa tidak perlu pembatasan sosial dan penjarakan fisik.

Nah, hal demikian yang kemudian membangun persepsi masyarakat sehingga banyak yang tidak mengindahkan aturan. Pemikiran-pemikiran semacam ini sebenarnya keliru. padahal jika kita berbicara fakta tentang hal-hal tersebut sebenarnya merupakan himbauan yang termasuk dalam alternatif tindakan preventif bukan berarti kita bisa melanggar aturan/himbauan yang ada.

Namun, kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat begitu saja. Kita sudah berada di tengah pandemi yang mau tidak mau harus kita hadapi bersama. Lalu apa yang arus kita utamakan? Menghindari kepanikan atau mengatur kesiapan masyarakat mengahadapi pandemi ini?

Seharusnya, jika saja semua masyarakat tahu bahwa selama ada wadah berupa sel hidup sebagai tempat berkembangnya  virus, covid-19 ini mampu berkembang kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu memikirkan polemik kapan pandemi ini akan berakhir namun berkontribusi dalam memutus rantai penyebarannya. Jika saja masyarakat mampu tenang, jangan terlalu larut berpolemik, percayakan pada ahlinya dan orang-orang yang memiliki kapasitas berperan di dalamnya.

Sederhana saja, kita semua berharap kepada masyarakat untuk bisa patuh mengikuti instruksi keselamatan dengan melukan social and physical distancing, menggunakan alat pelindung diri (setidaknya masker terlebih bagi yang beraktivitas di luar rumah), dan selalu menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dengan meningkatkan intensitas mencuci tangan menggunakan sabun, jaga kebersihan diri dan lingkungan, mengatur pola istirahat yang cukup dan mengkonsumsi  makanan bergizi  untuk menjaga dan meningkatkan  sistem kekebalan tubuh sebagai upaya dalam menangkal potensi penyakit yang dapat menjangkit.

Upayakan juga kepada seluruh elemen masyarakat untuk tetap saling memberi dukungan dan menciptakan suasana aman dan nyaman dalam menghadapi pandemi ini. Tetap berpikir positif. Karena, dalam keadaan demikian, kita akan mapu berpikir jernih dan memunculkan hal-hal briian yang mampu dilakukan, juga berkontribusi untuk menjaga stabilitas pikiran sehingga mampu mempertahankan kesehatan mental. Bersama kita bisa melawan corona. Wallohu a'lam bis shawab.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done