Akankah Irama Tenun itu Kembali Bertalu?! - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Kamis, 07 Mei 2020

Akankah Irama Tenun itu Kembali Bertalu?!


Oleh: Hulpiatun Husna
(Aktivis HIMMAH NW Lombok Timur)

Beberapa bulan terakhir, sekian lama pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) melanda dunia sampai saat ini.  Hal itu menjadi sesuatu yang memberikan dampak sangat mengerikan bagi berbagai sektor yang ada di seluruh dunia terutama di Indonesia dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya.

Pandemi ini merugikan sektor pariwisata NTB yang tadinya sedang berkembang begitu pesatnya, dari pelosok desa hingga kota. Tenun Pringgasela di Kabupaten Lombok Timur adalah salah satunya, yang ikut mengalami keterpurukan.

Pasar tenun yang terus mengikuti perkembangan dan menjadi "ikon" pariwisata di NTB, tentu saja, juga ikut menjadi korban pandemi. Dari sebelumnya, pasar utama para penenun di NTB secara umum dari wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal Indonesia dari luar Daerah. Harapan besar datang dari para tamu asing/luar yang tertarik untuk melihat proses pembuatan kemudian membeli kain mereka, kini, tiada lagi.

Meski demikian, keadaan saat ini tak lantas membuat para penenun berhenti menciptakan kain indah. Penenun terus berupaya melihat potensi apa saja yang bisa menghadirkan rupiah dari kain tenun mereka. Dengan membuat masker contohnya, sebagai bagian dari cara mereka mempertahankan eksistensi tenun meski dalam keadaan yang harap-harap cemas.

Dengan menawarkan tampilan masker yang keren dan elegan, tentu teman-teman akan lebih percaya diri. Selain struktur kainnya berlapis dan tebal tentunya. Design yang menarik dari kombinasi tenun akan lebih keren dikenakan.

Tadinya sekedar menggunakan kain tenun sisa menjahit pakaian, dan hanya ketika banyak permintaan masker, baru kemudian ada penenun yang berani merelakan kain tenunnya untuk dijadikan puluhan masker. Meski, tentu saja, terbatas pada jumlah permintaan yang juga masih sangat sedikit dan jauh dari harapan.

Kehadiran masker tenun seharusnya menjadi salah satu penopang dari para penenun pringgasela dan penenun NTB lainnya yang selama ini pasarnya terpengaruh oleh covid 19.

Malangnya, yang mengkonsumsi masker itu adalah para penenun sendiri dan keluarganya. Jadi, dari sekian banyak penenun yang menghasilkan kain tenun, hanya beberapa orang terdekat tukang jahit atau sekaligus penenun yang bisa menjahit  yang mendapatkan rupiah dari hasil penjualan masker tersebut. Bagaimana dengan penenun yang lainnya?

Pada bulan Ramadhan kali ini, dari yang penulis lihat secara langsung di Pringgesela, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jarang sekali, bahkan hampir --untuk tak mengatakan tak ada sama sekali-- tidak terdengar lagi sahut menyahut irama alat tenun para ibu rumah tangga, yang biasanya menghabiskan sebagian waktunya untuk membuat kain sambil menunggu waktu untuk memasak dan berbuka.

Kini, mereka mengeluh, bukan karna tidak ingin menenun, tapi tidak ada permintaan sama sekali. Kalau pun ingin memproduksi sendiri tidak ada modal, dan harus menunggu lama para tamu yang berkenan membeli kain indah buatan mereka setelah corona yang entah kapan berlalu.

Pun demikian, permintaan dari pemerintah daerah sendiri yang saat ini, konon, mengarusutamakan kebijakan produk-produk lokal, belum terdengar bukti nyatanya, khususnya bagi yang murni menyandarkan kehidupan perekonomiannya dari sektor tenun ini. Tentu, masyarakat penenun NTB akan sangat menunggu "uluran tangan" para pemangku kebijakan --Provinsi dan Kabupaten/Kota-- untuk memberdayakan karya mereka, setidaknya, dalam hal mendorong permintaan pasar Covid-19 seperti masker dan alat pelindung diri (APD) yang membutuhkan tangan terampil para penenun/penjahit itu.

Akankah irama tenun itu kembali bertalu?!


Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done