Covidiot-19 - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Jumat, 22 Mei 2020

Covidiot-19


Oleh: Binhad Nurahmat
(Penyair Nasional, Penulis Buku "Nisan Annemarie", Tinggal di Jombang Jawa Timur)

Penyakit bisa diobati dan dapat dicegah. Jika obatnya belum ditemukan atau tidak ada, maka lakukan pencegahannya. Jika tak bisa mencegahnya? Pasrah, berdoa, bagi yang beriman. Bagi yang ateis, garuk-garuk kepala atau minum racun saja.

Covid-19 bukan sekadar pandemi. Ini bukan hanya penyakit yang vaksinnya belum ada. Pencegahannya yang radikal sangat mahal. Lockdown, misalnya.

Jika tak mampu namun ngotot lockdown, dampaknya bisa mengerikan: kelaparan, kriminalitas, penjarahan, kekerasan dan kematian. Krisis ekonomi, sosial dan politik bisa terjadi karenanya. Ujungnya: kehancuran kolektif.

Rajin cuci tangan, bermasker dan berjarak fisik di kerumunan adalah protokol-protokol dasar pencegahan yang murah. Sampai kapan protokol ini bertahan? Tanyakan ke presiden kalian. Tanyakan ke ahli kesehatan dan epidemolog.

Protokol pencegahan Covid-19 tak efektif karena pemerintah tak mengondisikan terlaksananya protokol dan rakyat sukar diatur dan ngawur. Komplit kan masalahnya? Tapi inilah kenyataannya. So what?

Sentimen agama dan sentimen sesat pikir merebak di tengah pandemi ini. Covid-19, sekali lagi, bukan hanya penyakit.

Nalar masyarakat hancur dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah merosot nyaris di titik 0 di tengah pandemi ini.

Rakyat dihimbau tidak ke masjid. Rakyat minum kopi di warung dirazia. Tapi rakyat tak dihimbau agar tak ke pasar dan tak nongkrong di mall. Ini taik kucing namanya.

Rakyat malas bermasker di luar rumah, namun menggebu protes ke pemerintah yang dianggap gagap menghadapi Covid-19. Ini juga sama taik kucingnya.

Kenapa pemerintah gagap? Mutu SDM banyak yang jelek lantaran proses rekruitmen yang curang dan demokrasi yang buruk. Suap dan money politic dilakukan dan tak ditolak oleh masyarakat. Bahkan banyak yang menghalalkannya serta berharap. Kalau tak percaya, tanyakan hal ini kepada amplop. Masyarakat bermoral amplop adalah dekadensi kolektif.

Pedagang kaki lima dilarang berjualan. Sekolah diliburkan. Santri dipulangkan. Pekuburan digembok pagarnya. Tapi orang berjubelan di pasar tak dibubarkan. Angkot dibatasi geraknya, namun orang-orang bebas dan ramai-ramai naik pesawat

Masih seabrek contoh kengawuran lainnya. Pemerintah dan rakyat sama saja ternyata. Sama-sama ngawur.

Inilah Covidiot-19.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done