Hidup Sehat Bukan Hanya Nasi - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Jumat, 08 Mei 2020

Hidup Sehat Bukan Hanya Nasi


Oleh: Sendi Akramullah
(Penulis Lepas dan Aktivis Lingkungan)

Hidup kita di indonesia memang selalu berhubungan dengan beras. Tiada hari tanpa makan nasi. Makan mie instanpun harus pakai nasi. Saya tidak heran, karena saya pun demikian.  Apalagi sebagai anak muda yang hidup di tanah rantau, tentu, makan mie instan plus nasi menjadi hal lumrah. Itu cara saya bertahan hidup.  Begitu juga anak rantau lainnya.

Meskipun demikian, beras (nasi) bukan satu-satunya tumpuan di saat lapar. Ada banyak makanan yang bisa menggantikan peran nasi. Seperti umbi-umbian, misalnya.

Ada banyak jenis umbi-umbian yang bisa dimakan. Bahkan, tidak kalah lezat dan berkhasiat lebih dari nasi. Umbi-umbian bisa dimakan hanya dengan cara dikukus. Kemudian ditaburi sedikit garam. Rasanya nikmat. Perut pun kenyang karena kadar karbohidrat yang terkandung dalam ubi cukup baik. Banyak cara untuk mengelolanya. Dijadikan kolak pun juga oke. Bahkan tidak jarang orang menjadikannya sebagai makanan favorit. Lebih-lebih di saat dihidangkan saat berbuka puasa.

Salah satu jenis umbi-umbian yang sangat menjadi favorit saya itu adalah gadung. Gadung sering disebut ubi beracun. Tapi jika tahu bagaimana cara mengolahnya, maka akan menjadi makanan yang sangat tak tertandingi.  Ibu saya, dulu, sering mencari gadung di hutan untuk dimasak.  Kami tidak jadikan makanan pokok, hanya untuk camilan.  Biasanya direbus kemudian disajikan dengan kelapa parut. Rasanya memang sedap, bikin tak mau berpaling.

Di Sumbawa --salah satu pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)-- hampir secara keseluruhan suka makan gadung. Tapi, sekarang sudah jarang yang mau menyakikannya.

Baru-baru ini, saya  lihat ada kelompok usaha yang menjadikan gadung sebagai produknya. Kelompok usaha itu ada di Desa Banda. Sangat kreatif.  Hal-hal semacam ini perlu terus dikembangkan.

Makan umbi-umbian bukan berarti miskin. Banyak stigma seperti itu. Padahal, tidak ada kaitannya sama sekali.  Justru, itu pemikiran kampungan bin norak.  Lihat saja di kota-kota besar dan negara maju, sebut saja Amerika, salah satunya. Di sana, banyak toko makanan etnik yang menjual berbagai jenis umbi-umbian dan jagung. Keren kann.

Mengapa Saya Menulis Hal ini?

Saya memabaca bahwa Presiden memerintahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mencetak sawah-sawah baru. Pendemik ini akan membuat kita mengalami krisis pangan. Kita membutuhkan persedian beras.

Sesungguhnya, kita tidak krisis pangan. Tapi, kita krisis kemauan untuk memanfaatkan sumber-sumber pangan yang ada.

Mengubah lahan gambut menjadi sawah?
Tentu ini adalah masalah besar.  Mengapa pula tidak membiarkan pohon-pohon besar itu terus tumbuh di sana? Huntan juga menyediakan kehidupan bagi masyarakat.  Di bagian Timur Indonesia contohnya, justru menjadikan sagu sebagai bahan pokok.  Mereka tidak mati tanpa beras.

Kita harus membiasakan diri memanfaatkan apa yang ada. Begitu nenek moyang kita mengajarkan. Memang kita memiliki afinitas kultural (cultural affinity: kecenderungan/kemelekatan budaya, Red.) dengan beras (nasi). Padahal, makan nasi campur umbi-umbian bukan hal yang hina. Justru bagus untuk kesehatan.

Juga, umbi-umbian. Tidak butuh keahlian khusus untuk menanam. Kita tidak butuh industri 4.0 untuk mengelolanya. Yang kita butuhkan adalah intervensi pemerintah untuk mengkampanyekan pola hidup baru. Mendidik masyarakat untuk memanfaatkan sumber-sumber makanan yang ada.  Kemudian mendorong produksinya dan membantu distribusinya.

Semoga NTB bisa. Dengan semangat industrialiasasi dan pemberdayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM)-nya, saya masih yakin, kita bisa.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done