Meneladani Karantina Kesehatan Sayyidah Miriam, Saudara Nabi Musa - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Rabu, 27 Mei 2020

Meneladani Karantina Kesehatan Sayyidah Miriam, Saudara Nabi Musa


Oleh: Sidrotun Naim
(Ilmuan Mikrobiologi, Mantan Peneliti Postdoctoral di Harvard Medical School Boston, dan Alumni Doktoral Universitas Arizona Amerika Serikat, dan salah satu dari 15 peneliti muda tingkat dunia penerima anugerah UNESCO-L'Oreal for Women in Science di Markas UNESCO, Paris Perancis)

Saudara perempuan Musa, disebutkan di al-Quran, di Perjanjian Lama, dan di Taurat. Dari tiga tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, yang pertama yang menempatkan Miriam sebagai sosok penting. Hal ini dapat dimengerti, karena Nabi Musa adalah sosok sentral dalam ajaran Yahudi. Karena itu, menggali sosok Miriam, perlu membaca Perjanjian Lama atau Taurat. Di al-Quran, bahkan namanya tidak disebutkan, begitu juga kisah detailnya.

Saya tidak akan menyebut ayat-ayat di Kitab Suci dengan detail, tetapi pada inti dan kronologi kisah Miriam. Saat berusia 7 tahun, dia mendapat 'prophecy'/ ilham bahwa ibunya sedang mengandung bayi yang akan memimpin pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan Bangsa Mesir yang sudah berjalan 400 tahun.

Ibu-Bapaknya (Sayyidah Yukabid/ Yochebed dan Sayyidina Imran/ Amram) antara percaya dan tidak percaya dengan ilham yang diceritakan Miriam, apalagi was-was karena Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki dari Bani Israel.

Sebagai catatan, agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa kisah Sayyidah Miriam ini sedikitpun tak ada hubungannya dengan kisah Sayyidah Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa. Pada salah satu ayat di Quran, Sayyidah Maryam ibunda Nabi Isa disapa Bangsa Israel sebagai "Yaa Ukhta Haarun", wahai saudara perempuan Harun, padahal ada 14-15 generasi berbeda antara Harun dan Maryam. Ukhta Harun pada ayat ini bermakna dua: (1) Perempuan Bangsa Israel disebut sebagai Ukhta Harun, karena Harun adalah orang saleh dan terkenal dari Bani Israel; sebagaimana misal orang Uni Emirat Arab menyebut dirinya sebagai Akhwa Syammah (saudara laki-laki Syammah, sosok yang dikenal luas pada suatu masa dan berasal dari Emirat). begitu juga orang Saudi menyebut dirinya Ukhta Nuura (saudara perempuan Nuura), padahal Nuura ini bukan dari masa sekarang. Makna kedua yang lebih penting (2), Ukhta Harun bermakna Maryam dan Harun 'bersaudara' karena selevel/ mirip dalam keimanan/ peribadatan, biarpun bukan saudara kandung, bahkan beda masa cukup jauh.

Kita kembali ke pokok cerita tentang Sayyidah Miriam. Ketika itu, lahirlah Musa kira-kira tahun 1400 SM. Hukum membunuh bayi laki-laki pada masa itu, tidak berlaku misal untuk etnik Mesir. Ketika Musa lahir, Bangsa Israel sudah 400 tahun berada dalam perbudakan di bawah kekuasaan Bangsa Mesir yang dipimpin Firaun. 400 tahun ini sekaligus adalah jarak kira-kira antara Nabi Yusuf dan Nabi Musa A.S. Sebagaimana Nabi Musa, Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf tentulah orang Hebrew (Bani Israel). Ketika Nabi Yusuf menjadi perdana menteri Mesir, maka kepada saudara-saudaranya diberikan ijin untuk tinggal di Goshen, Mesir. Di Goshen inilah, bayi Musa lahir.

Bayi Musa berusia 3 bulan, ketika tentara-tentara Firaun dikerahkan ke Goshen untuk membunuh bayi-bayi laki-laki Bani Israel. Firaun membuat perintah ini bukan semata karena mimpi bahwa akan ada laki-laki Bani Israel yang mengalahkannya. Tetapi, ada evidence-based-policy, berhubung populasi Hebrew meningkat tajam. Membunuh bayi laki-laki adalah sistem KB (keluarga berencana) ala Firaun. Kejam dan tidak manusiawi memang. Tetapi, saat itu belum ada teknologi KB.

Kemudian, Allah 'mewahyukan'/ mengillhamkan kepada Ibu Nabi Musa, untuk menghanyutkan bayi itu ke Sungai Nil. Al-Quran menggunakan kata 'auhaina', Kami Mewahyukan. Kata yang sama juga digunakan kepada lebah dan Para Nabi, tentu bukan berarti bahwa 'wahyu' kepada Ibu Musa, kepada lebah, dan kepada Nabi itu sama.

Dari pinggir sungai, gadis kecil tujuh tahun itu mengikuti keranjang bayi yang tak lain adalah adiknya. Al-Qur'an menggambarkan bahwa Sayyidah Asiyah yang solihah, istri Firaun, yang memungutnya dari sungai. Sedangkan Perjanjian Lama dan Taurat mengisahkan Puteri Firaun yang sedang sakit kulit sedang berendam di Sungai Nil, ketika keranjang bayi itu sampai kepadanya. Penyakit kulitnya seketika itu juga sembuh. Tetapi dari fisik bayi, dia tahu, ini bukan bayi Bangsa Mesir, tetapi bayi Hebrew.

Maka mendekatlah Miriam. Gadis kecil ini, atas petunjuk Allah, dengan berani (atau dengan kepolosan anak-anak), menyelamatkan adiknya. Dia bernegosiasi kepada Sang Puteri: "Bukankah Anda sudah menyaksikan mukjizat? Dia ini bayi Hebrew, biarlah aku carikan Ibu susu dari Bani Israel." Maka begitulah, bayi Musa kembali ke pangkuan Ibunya selama masa persusuan, sebelum kembali ke Istana Firaun sebagai Prince of Egypt.

Ketika tiga bersaudara (Miriam, Harun, Musa) beranjak dewasa, turunlah wahyu untuk membebaskan Bangsa Israel. Maka berjalanlah mereka di gurun menuju Laut Merah. Bukan sehari dua hari, tetapi 40 tahun. Maka Allah selamatkan mereka dari kejaran Firaun dan tentaranya, ketika Laut Merah terbelah. Di seberang laut, ketika biasanya secara spontan orang-orang akan berpesta-pora sudah selamat dari musuh. Miriam mengambil tamborin (rebana), mengajak semua bersenandung, memuji kebesaran Allah. Bersyukur kepada-Nya.

Selamat dari kekejaman Firaun, mulai terjadi konflik internal antar saudara. Miriam dan Harun resah. Yang pertama, mengapa Musa menikah Tharbis/ Adoniah, perempuan dari Bangsa Cushite (Afrika) dan bukan dengan perempuan Bani Israel. Perempuan yang dimaksud tentu bukan Zippora puteri Jethro (tokoh penting dalam agama Yahudi) yang sesama Bani Israel. Zippora/ Tziporah lebih dikenal luas sebagai istri Musa. Yang kedua, mengapa hanya Musa yang diberikan keistimewaan berbicara langsung kepada Allah? Bukankah Miriam dan Harun juga hamba yang baik? Bukankah Miriam sudah menyelamatkan Musa saat bayi, dan memimpin Bangsa Israel khususnya kaum perempuan untuk bersyukur, beribadah kepada-Nya? Bukankah Musa ini penuh kekurangan, karena cadel, tidak lancar berbicara sehingga minta diperkuat Harun yang fasih? Bukankah Musa tidak sabaran (kisah dengan Khidir) dan juga pemarah? (saat memegang kepala dan janggut Harun, yang dianggap tidak becus mengurus umat sehingga menjadi ingkar, ketika ditinggalkan ke Bukit Thursina selama 40 hari). Sampai-sampai, Harun harus meredam kemarahan adiknya dengan berkata: Yabna Umm (wahai putera ibuku, ingatlah ibuku dan ibumu, kita ini bersaudara).

Tidak lama berselang, turunlah wabah lepra. Miriam termasuk salah satu yang terinfeksi. Perjalanan mereka ke Tanah yang Dijanjikan pun terhenti. Harun berduka untuk penderitaan yang dialami kakaknya. Dia pun berbicara ke Musa, supaya berbicara kepada Allah memohonkan ampunan untuk dirinya dan Miriam. Maka Allah kabulkan doa Kalimullah. Tetapi, Miriam harus menjalani karantina tujuh (7) hari sebagai masa pembersihan/penyembuhan di dalam kemah/tenda, terpisah dari komunitasnya. Pembersihan dari lepra. Penyembuhan dari penyakit hati. Jadi, pada masa itu pun, sudah dikenal konsep karantina untuk wabah/plaque, jauh sebelum Masa Ibnu Sina yang memperkenalkan konsep karantina 40 hari untuk penyakit.

Allah nampakkan Kasih-Sayang-Nya, Kelembutan-Nya, Pengampunan-Nya kepada Miriam dan Harun. Bahwa memang hanya kepada Musa yang tidak sabaran dan pemarah itu, Dia berbicara langsung. Tetapi sesungguhnya, Dia juga menyapa Miriam dan Harun lewat cara yang lain. Masing-masing diberikan peran istimewa/ misi yang berbeda. Orang yang terinfeksi wabah lepra saat itu hampir semua tidak sembuh, memutih, pucat, menunggu kematian. Tetapi, Tuhan berikan pengecualian kepada Miriam.

Maka dilanjutkanlah perjalanan ke Tanah yang Dijanjikan. Anggota kafilah tidak ingin meninggalkan Miriam. Mereka menunggu sampai dia sembuh. Karena tanpa Miriam, sosok pemimpin yang mereka cintai, maka mereka kehilangan pondasi penting.

Beberapa tahun kemudian, tiga bersaudara itu wafat. Sumur-sumur sumber air di Kadesh, dikisahkan mulai mengering ketika Miriam wafat. Selama dia hidup, sumber mata air di gurun tidak pernah kering, seolah-olah itulah berkah fisiknya di dunia. Kisahnya banyak terkait air: membuntuti adiknya di Sungai Nil, bersama dua saudaranya membelah Laut Merah, dan mengering mata air/ sumur di Kadesh setelah wafatnya.

Miriam adalah satu dari tujuh perempuan yang disebut sebagai Prophetess (Nabi perempuan) dalam tradisi Yahudi. Tidak sama dengan Nabi laki-laki, tetapi untuk menunjukkan ketinggian derajat mereka. Dalam salah satu hari raya umat Yahudi, yaitu Passover (saya tidak tahu Bahasa Indonesia-nya), yang diperingati selama seminggu di Musim Semi, adalah peringatan terbebasnya Bangsa Israel dari Firaun, dimana Miriam menjadi salah satu sosok sentral.

Penggalian tentang sosok Miriam di atas saya lakukan karena mendapat kata kunci dari seorang Guru yang sangat saya hormati. Yang tidak pernah meninggalkan saya, termasuk di saat-saat terburuk dalam perjalanan. Yang tidak pernah membiarkan seseorang terperosok lebih dalam, tetapi bagaimana supaya masa-masa terperosok itu selalu menjadi pengingat akan Cahaya.

Ketika saya laporkan kembali 'riset' tentang Miriam ini, beliau merespon begini: "Tema kedengkian antar keluarga ini salah satu tema sentral dalam sejarah agama Abraham. Dalam kasus Miriam: gak peduli berapa jauh dan berapa lama kamu berjalan menuju Allah, tapi jika kedengkian masih di hatimu, kamu gak akan bisa sampai padaNya. Kedengekian itu muncul karena merasa bisa. Keakuan itu merasa ada kepantasan menerima anugerah. Dalam dunia spiritual, yg merasa bisa dan mampu akan dihajar habis oleh Penguasa Langit. Yang merasa pantas mendapatkam anugerah (keturunan, ilmu, status, dan lain-lain) akan diputar-putar terus hidupnya oleh al-Hayyu al-Qayyum." Dua kalimat di tengah saya hilangkan karena merujuk kepada identitas beliau dan sebuah niat yang biarlah menjadi misteri dulu. Kalau pembaca punya dugaan siapa beliau, simpanlah di dalam hati yang menjadi rahasia pembaca sendiri.

Nah, sekarang kita sedang menghadapi wabah Corona Viruse Disease (Covid-19). Kita sudah berdiam diri di rumah, menjalani isolasi di rumah, karantina, atau apapun namanya yang merupakan tradisi Para Nabi, entah di Thursina, di perut paus, di Gua Hira, dan pengasingan diri/ perjalanan ke dalam diri yang lain. Boleh jadi, Covid-19 ini adalah perantaraan supaya kita melakukan tradisi di atas yang jarang di dunia modern. Tetapi, sebagaimana Miriam, perlu ada kedisiplinan yang kuat kalau ingin kita sehat, orang di sekitar kita sehat.

Pakailah Masker

Tidak main-main. Ini cara melindungi diri kita dan orang lain, termasuk orang-orang yang kita cintai. Jika Anda sebagai orang dewasa mengantar-jemput anak ke sekolah, pastikan Anda pakai masker, begitu juga anak Anda. Sehingga, misal ternyata Anda sudah terinfeksi tetapi tidak kelihatan, Anda tidak menularkan kepada anak-anak di sekolah dan ibu bapak guru serta para staf.  Tentu tidak mudah, khususnya disiplin bermasker di anak-anak. Tidak nyaman, karena kita tidak terbiasa.

Negeri Asia Timur, relatif lebih terbiasa bermasker, karena melindungi diri dari SARS 2002-2003 dan kemudian polusi udara. Kita bisa, kalau kita mau. Kalaupun ini semua terlalu abstrak, cukup melindungi diri kita dan keluarga, termasuk di sekolah, di tempat kerja, di tempat belanja, dan lain-lain. Karena jika semua orang melindungi dirinya dengan baik, agregatnya adalah melindungi semua. Menjaga Jarak, Rajin Membuka Jendela, Menghindari Kerumunan. Tidak main-main. Bukan basa-basi.

Semoga Allah menurunkan Kasih-Sayang dan kelembutan-Nya kepada kita semua, dan  mengilhamkan kepada virus corona untuk segera menjauh, menghilang.

Dengan kerja keras kita semua. Dengan pertaruhan nyawa para tenaga kesehatan, staf rumah sakit dan lab. Dengan kerja keras para peneliti untuk merancang persenjataan perang melawan covid. Kita semua lelah, tapi tak boleh menyerah. Dengan doa kita semua. Jika Dia Berkehendak, setelah kerja keras kita semua, kesabaran kita semua selama masa pembersihan diri ini, maka Covid-19 ini bisa 'menghilang' sebagaimana SARS dan MERS. Masih ada, tapi entah di mana dan tidak lagi mendatangkan kerusakan yang terdeteksi.

Sebagai penutup, saya sertakan dua tabel yang diolah teman-teman kawalcovid19, khususnya Mas Septian. Penularan dan fatalitas di anak-anak Indonesia tidak mengikuti tren global. Kehati-hatian kita semua menjadi kunci, tapi juga jangan ketakutan berlebihan. Kawalcovid19 memang platform luar biasa. Semuanya volunteer, coverage banyak sekali dan sangat taktis. Saya banyak belajar dari konten-konten dan diskusi di kawalcovid19.

Kalau setelah StayAtHome, isolasi, bahkan karantina, kita belum bisa punya hati yang lebih bersih untuk peduli kesehatan dan keselamatan publik secara luas, untuk peduli dengan mereka yang kurang beruntung, entah dengan cara apalagi Tuhan akan mendidik kita.




Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done