Taubat Saya Jelek Banget - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Senin, 22 Juni 2020

Taubat Saya Jelek Banget


Oleh: Herry Mardian
(Penerjemah buku-buku berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia terkait Sufisme, Penulis Kisah-Kisah Hikmah dan Agama)

"Mas Her, kenapa, ya, tobat saya tidak pernah sempurna? Sehari pingin tobat, besoknya gagal. Sehari ingin jadi orang baik, besoknya udah lupa. Gimana dong? Saya merasa gagal… tobat saya jelek banget".

: :

Ini kisah dari sahabat baik saya. Sementara kita lupakan dulu dalil-dalil Qur’ani maupun hadits yang terkesan ‘melangit’. Contoh ini lebih terjangkau, saya kira.

Saya punya teman baik. Suatu ketika, waktu dia SD, dia tahu dua minggu lagi mamanya akan berulang tahun. Dia bertekad ingin memberikan hadiah ulang tahun pada mamanya yang merupakan hasil usahanya sendiri, tidak beli dari toko. Dia ingin memberikan sesuatu yang ’spesial’ untuk mamanya. Dia memutuskan untuk membuatkan mamanya hiasan meja dari kertas koran yang dibasahi dan dicampur lem, dijadikan semacam patung perahu, dan dikeringkan.

Jadi, selama seminggu, dia sisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli lem, alas untuk pajangan meja, karton, gunting, cat dan sebagainya. Setelah uangnya terkumpul, selama beberapa hari dia membuat hiasan meja itu. Setiap hari, secara rahasia, dia diam-diam membuatnya tanpa sepengetahuan mamanya. Dia ingin menjadikannya kejutan. Kalau siang, dia pura-pura tidur siang, padahal diam-diam membuat patung itu. Kalau malam, setelah mamanya tidur, dia bangun sebentar menyempurnakan pekerjaannya. Setelah itu dia simpan di bawah tempat tidurnya. Begitu terus selama beberapa hari.

Sampai semalam sebelum hari ulang tahun mamanya, dia kecewa sekali. Patung buatannya tidak bagus, tidak seperti yang ibu guru buat di sekolah. Bentuknya mencong sana sini, catnya tidak rapih. Jauh dari sempurna. Dia menangis malam itu saking kecewanya, sampai tertidur.

Paginya, seperti biasa dia makan pagi dengan papa dan mamanya. Papanya memberikan mamanya kado, ucapan selamat ulang tahun, dan sebagainya. Dia juga mengucapkan selamat pada mamanya. Tapi rupanya mamanya heran, kok dia agak murung pagi itu.

Anyway, akhirnya dia mengatakan bahwa dia telah membuatkan mamanya hadiah ulang tahun, tapi menurutnya hasilnya ‘jelek banget’. Dan ahirnya tunjukkan pada mamanya juga.

Diluar dugaannya, mamanya justru jadi menangis terharu, dan memeluknya. Mamanya terharu karena anaknya yang masih kecil itu menyisihkan uang sakunya, mengurangi jam tidurnya, hanya untuk membuatkan benda (yang dianggap buruk oleh anaknya itu) khusus untuk dirinya.

Akhirnya hiasan buatannya itu malah dibawa mamanya ke kantornya, dan diletakkan didalam kotak pajangan dari kaca yang dipesan mamanya khusus untuk patung itu.

Bahkan sampai mamanya pensiun, karyanya yang ‘buruk’ itu selalu disimpan mamanya di ruang kerjanya. Bagi mamanya, seburuk apapun, itu adalah perwujudan cinta anaknya.

Nah, dalam konteks taubat, Allah pun, sedikit banyak, juga seperti mamanya teman saya itu. Tobat kita mungkin akan jauh dari sempurna. Bahkan memang tidak akan pernah sempurna. Tapi persembahkan saja sebaik yang kita mampu. Kalau kita membuat kadonya dengan serius, bisa jadi Dia malah ‘terharu’ dengan bukti cinta kita yang ‘jelek banget’ itu.

Yang terpenting, adalah bahwa kita berusaha untuk melakukan sesuatu benar-benar diniatkan ‘khusus untuk Dia’, seburuk apapun hasilnya di mata kita. Lakukan sesuatu kebiasaan, amal khusus, entah zikir, entah shalat malam, sujud sebentar sebelum berdiri seusai shalat, apapun, yang khusus untuk Dia saja. Hanya untuk Dia. Dan kalau bisa, tidak diketahui orang lain. Itulah awal mulanya mendekat kepada-Nya.

Semoga bermanfaat.

Sumber: https://cerm.in/taubat-saya-jelek-banget/

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done