Reorientasi Sosiologis Pariwisata di Era New Normal - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Jumat, 24 Juli 2020

Reorientasi Sosiologis Pariwisata di Era New Normal


Oleh: Ahmad Efendi
(Penulis Buku "Ikhtiar NTB Gemilang" dan Penggiat Komunitas Bale Literacy)

Corona Virus Disease (Covid-19) atau yang lebih familiar disebut Corona telah mempengaruhi banyak lini kehidupan masyarakat. Termasuk juga kehidupan kepariwisataan. Akibatnya, dunia pariwisata mengalami pukulan hebat. Hampir semua unsur yang melekat padanya mengalami gangguan. Antara hidup dan mati.

Pada posisi demikian, tentu saja, dampak Covid-19 ini berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama mereka-mereka yang secara langsung menggantungkan kehidupannya pada aspek kepariwisataan tersebut. banyak di antara mereka mulai mengeluh. Mereka tidak bisa lebih lama lagi berdiam diri di rumah. Di saat  munculnya fase krisis tanpa adanya pemasukan harian atau bulanan, mau tak mau, masyarakat mulai beranjak keluar mencari penghidupan. Tagihan listrik, kebutuhan air, BPJS, urusan perut, belanja harian dan lain sebagainya, menuntut dipenuhi segera. 

Sebagai respon pemerintah imbas dari kelesuan ekonomi di hampir semua aspek kehidupan, termasuk pariwisata, maka dikeluarkanlah kebijakan new normal. Sebuah kebijakan yang dapat dimaknai sebagai kebijakan jalan tengah agar, di satu sisi, masyarakat bertahan hidup di masa pandemi dengan tetap beraktifitas kerja dan, di sisi lain, dapat memulihkan kondisi krisis ekonomi masyarakat. Bagaimanapun terlalu lama menganggur mengakibatkan dampak negative bagi tingkat kesejahteraan masyarakat dan akan banyak akibat berantainya.

Oleh karenanya, tidak ada jalan lain kecuali dengan menerapkan protokol Covid 19 secara ketat sehingga dapat menjalani kehiduan baru (new normal). Tentu new normal merupakan variabel bebas yang akan menjadi tonggak baru bagi kehidupan masyarakat. Memberikan pengaruh baru bagi perjalanan sehari-hari masyarakat di dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.

Hal tersebut di atas juga juga berlaku dalam kehidupan pariwisata kita. Pariwisata sebagai bagian dari bentuk aktivitas manusia yang tidak tersekat oleh suku-bangsa, agama dan atau hal-hal primordial lainnya, akan mengalami perubahan-perubahan (reorientasi baru). Akan ada banyak hal yang menjadi titik berangkat (starting point) akibat adanya kebijakan baru kehidupan new normal itu sendiri.

Pertanyaannya bagaimana sebenarnya pariwisata yang hendak dikembangakan di era new normal? Pertanyaan ini selanjutnya yang akan menjadi pembicaraan tulisan ini. Dari jawaban-jawaban yang akan diberikan diharapkan masyarakat pelaku pariwisata dapat mengembangkan kreativitas tanpa batas dari keberadaan pariwisata di era new normal ini.

Aspek Sosiologis Wisatawan
Berbicara pariwisata tidak bisa lepas dari berbicara mengenai aspek sosiologis wisatawan, seperti tipologi wisatawan dan motivasi wisatawan. Inilah jalan masuk untuk meretas kebuntuan dari akibat adanya corona. Di mana, kehidupan pariwisata terus dituntut berjalan. Pada kondisi ini, peluang seminimal mungkin harus dimanfaatkan pelaku pariwisata untuk dapat mengambil profit dari sektor ini dengan tetap berpatokan pada protokol corona yang berlaku.

Pertama, tipologi wisatawan. Ada tipologi drifter, wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang sama sekali belum diketahui, dan bepergian dalam jumlah kecil. Ada tipologi explorer yaitu wisatawan yang melakukan perjalanan dengan mengatur perjalanannya sendiri, dan tidak mau mengikuti jalan-jalan wisata yang sudah umum melainkan mencari hal yang tidak umum (off the beaten track). Wisatawan seperti ini bersedia memanfaatkan fasilitas dengan standar lokal dan tingkat interkasinya dengan masyarakat lokal juga tinggi. (Cohen 1972 seperti dikutif Pitana Gde, Gayatri Putu G. : 2005). Dalam hal ini juga Cohen mengkelompokkan tipologi individual mass tourism dan organized mass tourism. Di sisi lain ada juga tipologi wisatawan elite, yaitu wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata yang belum dikenal, tetapi dengan pengaturan lebih dahulu dan bepergian dalam jumlah yang kecil. Tipologi wisatawan off-beat yaitu wisatawan yang mencari atraksi sendiri, tidak mau ikut ke tempat-tempat yang sudah ramai dikujunjungi. Siap menerima fasilitas seadanya. Tipologi unusual, tipologi yang melakukan perjalanan sekali waktu dengan melakukan tambahan-tambahan aktivitas untuk mengunjungi tempat-tempat baru walaupun agak sedikit beresiko. Tipologi incipent mass, wisatawan yang melakukan perjalanan individual atau kelompok kecil dengan mencari daerah tujuan wisatawan yang mempunyai fasilitas standar, tetapi masih menawarkan keaslian (Authenticity). Mass, wisatawan yang mau mengunjungi suatu tempat yang fasilitasnya sama dengan asal wisatawan itu sendiri. Charter, wisatawan yang mengunjungi suatu daerah yang mirip dengan daerah asalnya dan biasanya hanya untuk bersantai dan bersenang-senang. (smith 1977).

Kedua motivasi wisatawan. Motivasi physical yaitu motivasi yang didasarkan pada fisik untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan lain sebagainya. Motivasi cultural, yaitu keinginan untuk mengetahui seluk beluk budaya, adat tradisi, dan kesenian daerah lain. Social motivation, yaitu dengan mengunjungi teman, keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi-sitauasi yang membosankan dan seterusnya. Fantasy motivation yaitu adanya fantasi bahwa didaerah lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan (Murphy McIntosh: 1977).

Dari uraian tentang tipologi dan motivasi wisatawan di atas, para pelaku pariwisata dapat melakukan berbagai macam inovasi dan atau terobosan-terobosan bagi menyesuaikan kondisi new normal dengan penyelenggaraan pariwisata itu sendiri. Tipologi wisatwan misalnya sangatlah beragam seperti yang diuraikan di atas. Tinggal merealisasikannya di aras lapangan bersama semua unsur dari hulu ke hilir agar bisa berjalan sesuai dengan tipologi-tipologi dan motivasi-motivasi wisatawan yang hendak berpariwisata.

Untuk konteks NTB, tentu, para pelaku pariwisata dapat melakuakn berbagai macam pengklasifikasian. Misalnya tipologi wisatawan yang mencari daerah baru untuk dikunjungi tentu tinggal diberikan semacam tawaran kepada para wisatawan yang hendak berwisata. Motivasi wisatawan yang hendak berkunjung karena alasan ketertarikan budaya suatu daerah juga dapat menjadi pilihan.

Jadi, masyarakat, baik domestik maupun manca Negara, harus memaklumi bahwa terdapat klasifikasi tipologi dan motivasi wisatawan yang perlu mereka baca terlebih dahulu. Lalu kemudian memilih tipologi atau motivasi mereka di dalam berwisata. Di sini, maknanya, bahwa para pelaku pariwisata (yang melayani khususnya) dapat menjadikan tipologi dan motivasi wisatawan sebagai menu pariwisata new normal sehingga protokol covid 19 tetap dapat dijalankan.

Dengan adanya pemecahan-pemecahan pariwisata berdasarkan tipologi dan motivasi, seperti tersebut di atas,  memungkinkan pariwisata di era new normal dapat menghindari bertumpuknya massa yang sulit dikendalikan untuk tetap memegang protokol yang sudah disepakati.

Jika di antara banyak wisatawan mempunyai tipologi dan motivasi yang sama tinggal di pilih daerah-daerah mana yang harus menjadi pilihan. Misalnya, ada wisatawan yang sama-sama mau mengunjungi satu obyek wisata tertentu maka di sini penyelenggara pariwisata dapat melakukan tindakan dengan mengarahkan para wisatawan di mana satu kelompok kecil wisatawan mengunjugi daerah A dan ada wisatawan yang mengunjugi daerah B dan seterusnya.

Dengan adanya system pengklasifikasian berdasarkan tipologi dan motivasi ini memungkinkan para pelaku pariwisata dapat mengatur para wisatawan untuk dapat mengunjungi semua obyek wisata. Bagaimanapun juga pada praktiknya para wisatawan sering menjadi tipologi wisatawan satu paket dalam arti bahwa pada hari ini ia bertipologi atau bermotivasi A pada hari lainnya mereka bertipologi dan bermotivasi B dan seterusnya. Dengan kata kunci typology dan motivasi wisatawan ini banyak hal dapat dilakukan dalam menggerakkan pariwisata di era new normal. Ini dikarenakan adanya pemecahan konsentrasi massa sehingga tidak ada peristiwa mass tourism itu terjadi.

Dari adanya catatan-catatan mengenai tipologi dan motivasi wisatawan ini bermakna bahwa hal itu telah lama ada, namun karena adanya covid 19 yang kemudian direspon dengan kebijakan new normal hal itu dapat menjadi jalan baru untuk dijadikan SOP pariwisata. Ini tentu memerlukan kerjasama semua pihak mulai dari agen pariwisata seperti transportasi darat, laut udara, hotel, home stay dan seterusnya, pihak pemerintah dan masyarakat harus dilibatkan untuk mengaplikasikannya. Tinggal ada koordinasi d iantara unsur-unsur yang disebutkan terdahulu maka pariwisata di era new normal tentu dapat dijalankan dengan aman dan terkendali. Di mana, pada gilirannya, covid 19 bisa dikendalikan dan masyarakat juga mendapatkan profit dari berjalannya kehidupan pariwisata.

Belum lagi jika saja mau menerapkan pariwisata berdasarkan jenis kelamin, usia dan hoby. Ini tentu memerlukan kreativitas pula bagi berjalannya pariwisata di era new normal. Hemat penulis, jika semua unsur pelaku pariwisata dapat menjalankan pariwisata beredasarkan jenis kelamin, usia dan hoby tentu hal ini sangat menarik. Harus diakui bahwa sebenarnya pariwisata itu sangat kompleks dan beragam. Hanya saja mau tidak diaplikasikan. Ini tentu sangat bergantung pada kesepakatan para pelaku wisata.
Bahwa pariwisata itu pada pengertian sederhananya adalah melihat sesuatu lalu merasa terhibur maka sudah memenuhi ekspektasi dari kepariwisataan itu sendiri. Oleh karenanya, klasifikasi berdasarkan jenis kelamin, usia dan hoby dapat menjadi pintu masuk dalam meningkatkan kreativitas menu pariwisata di era new normal ini.

Sekali lagi, ini memerlukan kreativitas tinggi, misalnya untuk pariwisata berdasarkan usia. Anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua tentu mempunyai kecenderungan-kecenderungan pariwsata yang berbeda-beda. Begitu juga dengan jenis kelamin dan hobi.
Ini semua dapat digarap secara lebih serius di era new normal. Kuncinya hanya koordinasi semua pihak. Bilamana koordinasi itu terintegrasi niscaya pariwisata di era new normal ini akan berjalan sukses.

Sumber: www.besiru.com

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done