"Terpapar" Industrialisasi di Antara Min Haitsu La Yahtasib - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Minggu, 09 Agustus 2020

"Terpapar" Industrialisasi di Antara Min Haitsu La Yahtasib

Oleh: M. Zakiy Mubarok, SH.

(Ketua PBC Perhumas Mataram NTB)

Harus diakui, sejak Dr. H. Zulkieflimansyah, SE atau Bang Zul, menjadi Gubernur NTB, menurut hemat saya, warga di daerah ini makin akrab mendengar kata industrialisasi. Wajar. Karena sejak awal Bang Zul sangat terobsesi menjadikan industrialisasi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi di NTB. Dalam pandangan Bang Zul, kesejahteraan masyarakat tidak saja harus cepat diraih, tapi juga harus berkualitas. Atas dasar itulah, obsesi itu diaplikasikan dalam kebijakan pembangunan. Demikian kira-kira kalau saya tidak salah mengartikan  pernyataan-pernyataan Bang Zul terkait industrialisasi dalam berbagai kesempatan. 

Hampir setiap saat Bang Zul menekankan pentingnya kebijakan industrialisasi bagi daerah ini. Penekanan pentingnya industrialisasi itu tidak saja mewarnai konten akun media sosialnya (facebook, instagram atau twitter), tapi juga diliputan media massa. Boleh dikatakan, nyaris tiada hari tanpa  industrialisasi. 

Sebenarnya, industrialisasi bukanlah fenomena baru dalam sejarah perkembangan manusia. Sejak abad ke-18 dan 19, industrialisasi sudah terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Oleh para pengamat, revolusi Industri yang terjadi di Inggris 1760-an sampai 1840-an kerap diidentikkan sebagai era industrialisasi pertama. Setelah itu, industrialisasi menghampiri negara-negara lain di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Dari beberapa pengertian yang ada, baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus Oxford, Kamus Cambridge, Encyclopaedia Britannica, maupun buku Ekonomi Pembangunan karya Lincolin Arsyad (2004), industrialisasi tidak lain usaha menggalakkan atau mengembangkan industri di suatu negara atau wilayah yang mensyaratkan adanya keterkaitan seluruh sektor ekonomi dalam rangka meningkatkan nilai tambah. Dalam industrialisasi, sektor industri pengolahan menjadi sektor utama. Pada konteks ini, industrialisasi diyakini dapat memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. (lebih lengkap baca: Kompas, 30 Desember 2019).

Spirit itulah yang hendak dihadirkan oleh Bang Zul melalui industrialisasi. Yakni, bagaimana agar setiap produk yang dihasilkan dari daerah ini bisa memiliki nilai tambah. Itu artinya, semua sektor pembangunan di daerah ini, harus "terpapar industrialiasasi'.  Dengan kata lain, semua sektor didorong untuk mampu menghasilkan nilai tambah. Syaratnya, harus ada perubahan cara berpikir dan sentuhan inovasi teknologi. Bang Zul pernah mengingatkan, jangan selalu membayangkan bahwa industrialisasi identik dengan pabrik-pabrik besar atau proyek-proyek mercusuar. Karena baginya, industrialisasi bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.

Cara pandang bahwa industrialisasi bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana, dibuktikan Bang Zul dengan memberikan perhatian pada produk-produk yang dihasilkan oleh IKM/UKM dan kreatifitas-kreatifitas yang lahir secara individual dari putra putri NTB. 

Lihatlah bagaimana Bang Zul, nampak bersemangat memposting di akun media sosialnya saat mencoba sepeda motor listrik karya UKM di Bima, ketika Bang Zul berkunjung ke Science Technology Industrial Park Banyumulek Lombok Barat.

Begitupun terhadap sentra kerajinan bambu di Desa Loyok Lombok Timur yang "dibangunkan dari tidurnya" melalui JPS Gemilang. Untuk meningkatkan jumlah produksi, Pemerintah Provinsi NTB memberikan bantuan mesin pembelah bambu yang dibuat juga di NTB. Hasilnya, dari hanya dua sampai tiga sehari, dengan mesin tersebut bambu yang dapat dibelah bisa seratus bahkan ribuan bambu sehari. "Inilah industrialisasi yang sederhana itu,"  kata Bang Zul. 

Kebanggaan serupa juga ditunjukkan Bang Zul terhadap karya bengkel sederhana di Narmada Lombok, yang berhasil menciptakan sepeda motor listrik, bahkan sudah mendapat pasar internasional. "Inilah model inovasi dan pembelajaran teknologi itu," kata Bang Zul.

Saat Bang Zul sedang mulai memberikan perhatian pada IKM/UKM, pandemi Covid-19 tiba-tiba merebak. Seakan tak percaya, awalnya virus ini sempat kita sikapi dengan biasa-biasa saja. Tapi ternyata, virus ini luar biasa dampaknya. Hampir semua sendi kehidupan tak ada yang terhindar. Lantas apakah pandemi ini mengakibatkan ide industrialisasi terhenti? Ternyata tidak. Bang Zul justeru melihat peluang dibalik pandemi Covid-19. Alih-alih terhenti, justeru di masa pandemi ini industrialisasi mendapatkan semacam "jalan (rezeki) yang tidak disangka-sangka". Dalam bahasa Al Qur'an "Min Haitsu La Yahtasib".

Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd., atau Ummi Rohmi. Seperti dilansir sinergi.ntb, Ummi Rohmi mengatakan, pandemi ini tidak terus diratapi, tetapi bagaimana berusaha mengambil berkah, sesulit apapun kondisi, tetap berusaha mengambil berkah dan kesempatan dari kondisi ini untuk menjadi lebih baik kedepan.

Direncanakan, setelah upacara 17 Agustus 2020, di depan Kantor Gubernur akan dipamerkan 50 buah produk sepeda motor listrik buatan anak-anak NTB. Kemudian tahun depan (2021) akan  diproduksi ratusan bahkan ribuan sepeda motor listrik. Caranya dengan memberdayakan UKM-UKM bengkel. Ada yang spesialisasi di shock depan, ada yang spesialisasi di body, ada yang khusus di stang, di ban, di velg dan lain-lain. 

Yang pasti, selain keterkaitan antar sektor, industrialisasi mensyaratkan adanya teknologi permesinan. Dan Bang Zul selalu mengatakan, sebuah langkah panjang, selalu dimulai dari langkah pertama. Wallahu'alambishawab.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done