Budaya Berpikir Seni: Sebuah "Morfologi" - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Senin, 07 September 2020

Budaya Berpikir Seni: Sebuah "Morfologi"


Oleh: Husain Laodet
Budayawan/Sastrawan NTB
 
"DKK (Dewan Kesenian Kota Bima, Red) itu seumpama anak yang dilahirkan, kemudian diterlantarkan. Akan tetapi, DKK adalah bocah yang tidak cengeng —yang tidak merengek minta perhatian untuk sepotong manisan. Dia adalah bocah lelaki tangguh yang berjalan dengan kakinya sendiri, berdiri dan berlari meraih mimpi-mimpinya….." (Dedy Mawardi)
 
Terkadang kita merasa jemu berpikir tentang berkesenian. Namun ungkapan dari Dedy mawardi, ketua DKK terpilih periode 2020-2023, merupakan suara gong yang menggema. Suara yang memang berasal dari akar perjalanan batin seorang bocah bernama DKK, yang ditempa berbagai kondisi dan keadaan yang sungguh pelik. Dan mimpi untuk membela, membangun dan berbuat tidak selamanya laiknya jalanan menuju surga. 
 
Apakah kesenian itu sesungguhnya? Mengandung apa, dan untuk apa? Pertayaan ini semacam penyakit yang dialami oleh pengidap penyakit kangker otak, menyerang rongga syaraf, mengakibatkan batok kepala seperti dipecahkan martil, merontokkan rambut yang semula tumbuh diatasnya dan sekaligus melumpuhkan segala ingatan. Begitu pelik-kah? Sebenarnya tidak. Tapi, itu juga sesuatu yang nyata. Bagi penderita itu adalah semacam traffic light —serupa tanda’ yang memfonis, apakah berhenti, jalan terus atau menegaskan untuk hati-hati. Dari luar mungkin sebagian orang menganggap dia baik-baik saja. Penampakan tubuh terlihat sehat, padahal gejala itu telah bersarang dalam otak dan saraf, dan si pengidap tahu bahwa ia akan menghadapi masalah dalam kesehatan hidupnya.
 
Kembali ke kata Seni atau kesenian. Apakah itu sesuatu yang telah ada dalam sejarah kehidupan manusia? Jawabannya, betul dan inheren. Seni merupakan elemen penting dalam unsur kebudayaan. Keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, secara lahiriah, batiniah dan mungkin sangat fisikal. Maka manusia dengan akal dan kecerdasannya, melakukan eksperimen secara induktif, mengolah rasa, mengolah benda menjadi bunyian, menjadi karya rupa dan lain-lain. Kemudian, ada juga yang mengeksplorasi dalam penjiwaan yang menggabungkan dengan ilmu pengetahuan, kemudian melahirkan karya-karya sastra. Itulah yang menjadi alasan kesenian berevolusi seiring kebutuhan dan perkembangan kehidupan manusia, dan membentuk bidang-bidang, genre, serta cakupan yang luas dan beragam. Seni mempunyai arti yang bermakna budaya, seperti menjadi sarana hubungan dengan kekuatan adikodrati—menjadi sarana komunikasi dan pendidikan. 
 
Memperlihatkan gaya yang dipandang sebagai tradisi milik bersama dalam suatu kebudayaan dan sebagai tanda agar seni dapat menyampaikan arti dalam eksistensi keberadaannya serta dapat menyampaikan pesan lewat karya seni itu sendiri. Di samping itu, ia memerlukan proses, penempaan yang mengakar sampai memiliki karakter —kemahiran khusus untuk menghasilkan suatu karya seni sehingga seseorang seniman dapat dibedakan dari orang kebanyakan lainnya. Tentunya lewat dedikasi dan karya-karyanya yang nyata serta bermanfaat bagi generasi manusia selanjutnya.
 
Menghidupkan Budaya Berpikir Seni, boleh dikata, seumpama membangkitkan sesuatu yang mati dalam sebuah ‘maqam’ kebudayaan yang abadi. Lalu kita mulai mencari energi, serupa nyawa dengan penciptaan baru. Semacam meniupkan aliran kehidupan dengan berbagai methode, mengumpulkan sumber daya, menyusun siasat agar tubuh yang akan dihidupkan itu bisa bangkit, berdiri dan melakukan sesuatu seperti visi yang kita inginkan. 
 
Nah, pertanyaannya adalah menohok pada sebuah esensi seni itu sendiri, inti atau lokus. Kita sebagai masyarakat kesenian sekarang berada di mana, untuk apa dan mau apa?
 
Sejarah Kelahiran
 
Memang banyak yang mempertanyakan, mengapa kita tak kunjung serius mengurus pendidikan di luar sekolah, mendorong terciptanya medan-medan energi baru bagi masa depan perilaku kebudayaan? 
 
Harus diakui juga, selain besarnya vested interest, juga diakibatkan juga oleh kita yang kurang tertantang untuk berpikir jauh ke depan. Siklus berpikir seni kita cenderung pendek-pendek dengan segala bentuknya. Kita terbuai dan terlena dengan zona nyaman, dilenakan oleh kebiasaan disuap dengan makanan di mulut kita, dimanjakan dengan kemurahan energi fosil kekayaan seni budaya kita. Akhirnya, kita tak pernah mau membuka jendela dan menatap di luar sana; bahwa di tempat yang jauh dan luas membutuhkan energi untuk berevolusi, beradaptasi dan bersiasat. 
 
Paradigma, ya, paradigma harus diubah dan diselaraskan, diubah dan disegarkan. Misalnya, mengapa kekayaan seni budaya kita mulai terkikis dan tergerus? Tidak lagi menjadi roh kebudayaan yang sesungguhnya. Seni dan kebudayaan bisa dikatakan sebagai pagar, yang membatasi ruang modernisasi budaya, yang melampaui attitude akar kebudayaan, sebagai landasan hidup yang bermartabat, sebagai modal dasar generasi ke depan untuk memfilter arus global yang terus merontokkan nilai moral.
 
Sesungguhnya itulah pemantik yang menggerak sekelompok pemerhati seni di jalanan. Karena keresahan yang sama, yang bergerilya dengan karya seninya di trotoar, yang melihat adik-adik generasi di bawahnya menumpuk di jalanan tanpa ada tempat yang representatif untuk menjadi tempat mereka belajar, berkarya dan berekspresi. “Ini hanya kota kecil, buat apa ada wadah seni? Apakah akan berpengaruh kontributif dari realitas yang ada? Masyarakat kita ini karakternya unik. Tidak banyak yang antusias bicara kesenian, sebab mereka sangat gandrung bicara dan berdebat politik," celetuk seorang teman, memulai membuka percakapan. 
 
Di awal tahun 2014, energi para seniman muda yang tak memiliki atap panggung itu seperti mengalir dan membentuk arus. Beberapa gelas dipenuhi kopi telah tersedia, aromanya menyengat. Tujuh orang itu terlihat duduk melingkar di depan gedung Paruga Nae, sebelum bangunan sentral kegiatan pemuda itu berubah bentuk sebagai gedung mantenan oleh pemerintah daerah. "Kita harus memulai membentuknya. Bagaimana, apakah sepakat? Keresahan bersama ini harus kita akhiri? Kesenian harus kuat untuk dirinya, kesenian tak boleh dibiarkan merana," ungkapan singkat padat kawan Samada mencipta hening dan, mata kami, pada saat itu, saling bertatap satu dengan yang lain, seperti isyarat untuk menyepakati sesuatu kelahiran. Kawan lain seperti Sarosa Adi, Sandi, Asrul Sani, bang Zul, Fathurrahman dan Ewa seakan memberikan isyarat untuk mulai dimusyawarahkan memilih ketua Dewan Kesenian Kota Bima secara aklamasi. Kebetulan, terpilihlah saya pada saat itu. Beberapa hari kemudian, kami ber-tujuh bertindak sebagai tim formatur langsung. Sekian banyak nama dari berbagai penjuru bidang seni disodorkan untuk memenuhi kebutuhan struktur pengurus. Dan, di SURF Café, draft kepengurusan rampung diselesaikan. Tidak berhenti di situ, dua hari kemudian perwakilan pengurus DKK melakukan sowan/silaturrahim dengan para seniman senior yang dianggap oleh kami sebagai sesepuh. Meminta arahan dan persetujuan sekaligus memberikan restu atas langkah yang telah dicetuskan tersebut. Tidak semua perjalanan itu mulus. Tentu duri dan aral hadir sebagai dinamika. Pro kontra terkait berdirinya Dewan Kesenian Kota Bima juga akhirnya berhembus ke sana-ke mari. Namun demikian, pelantikan pun terjadi oleh Walikota Bima saat itu HM. Qurais H. Abidin.
 
Biduk telah dintancapkan layarnya untuk berlayar. Semua awak kapal, telah siap mengarungi samudera luas di depan sana. Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Dewan Kesenian Kota Bima adalah organisasi legal, formal dan harus memenuhi berbagai syarat untuk mendapatkan ijin berlayar. Maka hal ihwal terkait legalitas organisasi harus dipenuhi. Bolak-balik di Bagian Hukum Pemerintah Kota Bima, urus ini itu, perbaiki draft, menunggu asistensi perbaikan, menunggu tanda tangan dari meja ke meja, sejak 2013 hingga tahun 2015. Setelah berjalan dua tahun baru diterbitkanlah surat jalan atau SK Walikota Bima. Namun, selama dua tahun itu awak DKK sambil menunggu surat jalan, ternyata, telah melakukan pelayaran illegal tanpa surat perjalanan. Berbagai kegiatan dihidupkan antara lain melakukan pendataan dan pemetaan kelompok kesenian di kota Bima. Mengadakan sayembara penulisan, music unpluge, baca puisi dan seni tradisi. 
 
Pada Tahun 2015, DKK mensiasati agar kelompok kesenian yang sudah ada dalam pemetaan agar dihadirkan untuk difasilitasi berbincang dengan pihak Pemda, yakni acara Temu Seniman Tradisi se-kota Bima yang bertempat di museum Asi Mbojo. Alhasil, kegiatan itu berhasil dan tanpa dukungan dana dari pemerintah, anggaran kegiatan hanya bersumber dari urunan kawan-kawan pengurus.
Berikutnya pada tahun yang sama, DKK memanfaatkan jaringan untuk membuka akses untuk bisa mendapatkan kegiatan yang bersekala nasional di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 
 
Gayung pun bersambut. Program GSMS (Gerakan Seniman Masuk Sekolah), sebuah program pertama di Indonesia oleh Dirjend kebudayaan dan dipilih Kota Bima menjadi pilot project GSMS secara Nasional dan DKK dipercaya dan diserahkan sebagai mitra dan pengendali utama pada kegiatan tersebut. Dilanjut pada tahun 2017, DKK kembali memfasilitasi pemerintah pusat agar DKK dipercaya kembali untuk menyelenggarakan Event Nasional yakni program Baca Sastra yang menghadirkan enam penulis/sastrawan Nasional serta melibatkan ratusan siswa dan siswi dan guru bahasa Indonesia SMP-SMU serta masyarakat umum pemerhati sastra. 
 
Sebagai implementasi karya nyata para seniman, empat orang penulis sastra Kota Bima, yakni: S. Samada, Asikin Rasila, Dylla Lalat dan Husain Laodet, difasilitasi oleh DKK menerbitkan buku sastra dan di-launching secara bersama di gedung Paruga Nae Kota Bima. Empat bulan kemudian, DKK menginisiasi penulis Bima yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menulis puisi yang bertema tentang Teluk Bima dan lingkungannya yang terilhami banjir bandang 2016, sebagai bentuk masukan dan kritik terhadap pemerintah terkait kerusakan ekosistim lingkungan. Karya-karya penulis Bima itu dikurasi oleh DKK, kemudian diterbitkan dalam satu buku antologi puisi “Kabar Dari Teluk.”
 
Pertanyaan kemudian, Kenapa DKK hanya menitiberatkan hanya pada seni sastra? Jawabannya sederhana. Karena DKK tidak punya anggaran, maka salah satu siasat cerdas DKK yang menjadi alasannya pada saat itu mendorong maksimal bidang sastra karena sastra tidak membutuhkan uang banyak untuk dieksplorasi. Akan tetapi meski kelemahan DKK tak mampu untuk membiayai atau memfasilitasi kegiatan seni yang lain, Bidang Sastra telah mendapat tempat dalam skala besar dan maksimal dimanfaatkan untuk memperkenalkan DKK secara nasional dan dapat membuka jaringan yang lebih luas. 
 
Di penghujung tulisan yang saya dedikasikan pada sahabat-sahabat pengurus DKK dan pemikir seni, mungkin bisa dianggap lampu mercusuar, sebagai penanda rambu pelayaran di malam buta. Meski menyala kerlap-kerlip kecil di kejauhan, akan tetapi menyisakan “tanda”. Bahwa, pijaran itu adalah Cinta.  
 
Nah, mengapa orang-orang biasa seperti kita ini diharuskan penting untuk berhati nurani? Manusia disebut manusia kalau dia berbuat selayaknya manusia. Berbuat baik dengan karya yang bermanfaat bagi generasi adalah seperti seniman mencipta sebuah karya seni. Berbeda dengan artisan yang mengerjakan karya seninya sesuai dengan pesanan atau selera pasar. Karya seniman itu harus otentik, jujur pada hati nurani. Dan, karyanya harus bermanfaat membangun karakter manusia seni masa depan yang tentunya termanifestasi dalam sikap karya dan kerja-kerja kecil yang dimenangkan.
 
***Tulisan ini, saya dedikasikan untuk kawan-kawan pemikir kesenian, khususnya sahabat-sahabat pengurus DKK Kota Bima.
 
Wassalam… Salam Budaya !!!
Sampana Café Kota Bima, 6 September 2020

 

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done