Justru Aku, Sembalun - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Rabu, 16 September 2020

Justru Aku, Sembalun


 Oleh: Dr. H. Nuriadi Sayip

 

JUSTRU AKU

 Justru aku merasa bising tatkala engkau membisu

Justru aku ingin berlutut ketika engkau memberi segala

Justru aku bergetar saat engkau membungkus magma dengan senyum.

 

Tidakkah kita ini bermimpi sama?

Mimpi yang sejak dulu kita bersama menontonnya dengan mata terpejam

Mimpi  yang kita kibarkan dengan ceria di sepanjang bingkai gelap tanpa sekat.

 

Tidakkah  kita ini telah berikrar?

Ikrar yang keluar begitu saja dari bibir dan disaksikan angin yang seketika mendasau kencang

Ikrar yang diakadkan di atas lembaran karpet rumput yang hijau subur

Ikrar yang setiap saat coba kita kerangkai dengan selimut batik yang berhiaskan keterbukaan.

 

Jujur,  aku ringkih setiap melepaskan bahasa puja

Bila engkau tidak lagi membisikkan  tanda keanggunan

Jujur, aku meringis setiap saat

Bila warna pelangi di ragamu tidak bisa lagi kumaknai dengan akalku.

Yogyakarta, 16 Januari 2013

 

SEMBALUN

Tatkala riam rimpang waktu yang cerah

Tubuh-tubuh dimandikan terik mentari

Nafas-nafas mendadap uap dingin,

Kami mulai lekat bercengkerama denganmu

Membiarkan kabut putih yang berubah hitam di ujung sana

 

Kami datang mengunjungimu dengan setangkup rencana dan upaya

Bermaksud mengakrabi Rinjani sembari mendengar detaknya di balik hawa yang menghidupi stroberi

 

Denganmu, kemudian kami mengembara

Menyusuri lekuk-lekuk keelokan semesta

Denganmu, lantas kami membiarkan celotehan anak-anak menjiwai diri hingga melihat mekar cinta orang tuanya

 

Tersebab itu penat kami melesap dibawa kabut yang datang terlambat menyelimuti rerumputan coklat di Pegasingan

Tersebab itu kami enggan melihat jarum jam berdetak menandai keadaan

 

Waktu serasa pendek 'tuk menjalari kebersamaan

bahwa persaudaran menjadi pelapis diri yang hakiki sebagai manusia papa

bahwa ikatan emosional adalah suluh menemukan nilai sejati sebagai makhluk fana

Dan engkau ada, menghujamkan itu semua semakin dalam terasa

 

Sembalun, dengan mendekapmu, kami merasa Tuhan hadir lewat dinginnya tiupan angin

Sembalun, dengan menidurimu, kami menikmati syahdunya nyanyian Dewi Anjani

Semua itu kami rekam rapih di memori

Sebagai pemarkah cinta kami seutuhnya.

Sembalun, 13 September 2020

___________________________

Dr. H. Nuriadi Sayip adalah Dosen Sastra Barat FKIP Universitas Mataram, lulusan Doktoral Pengkajian Sastra Amerika.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done