Bang Zul, Sosok Gubernur Sederhana yang Melayani dan Merakyat - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Rabu, 21 April 2021

Bang Zul, Sosok Gubernur Sederhana yang Melayani dan Merakyat

Oleh: Jaelani Elan

(Pemerhati Sosial-Budaya dan Ketua Kawan Baikers NTB) 

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, dalam setiap kunjungan ke Desa-Desa, selalu pilih Masjid sebagai tempat Menginap. Bahkan, tak sedikit masyarakat menganggapnya sebagai insan masjid, pemimpin yang lahir dan besar dari masjid. Karena, sejak ia jadi mahasiswa, sudah terbiasa bermalam dan tinggal di masjid. Kebiasaaan ini terbawa sampai saat ia menjabat sebagai orang nomer satu di Provinsi NTB. Tak hanya itu, gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini dikenal bergaya hidup sederhana dan tampil apa adanya.

Badrun (49), marbot Masjid At-Taqwa, senang bukan main. Tak hentinya ia tersenyum sambil sesekali merapikan kopiahnya menyambut kedatangan Gubernur NTB bersama rombongan di Masjid kampungnya.

Sejak mulai jadi pengurus masjid, puluhan tahun lalu, setahu Badrun, belum ada sekalipun pejabat tinggi selevel Gubernur yang sholat dan menginap langsung di Masjid yang ia jaga dan rawat. 

Bang Zul menginap lalu bercengkrama dengan masyarakat. Satu per satu masyarakat yang ditemui, disalami. dikrabi, didekati, dan bersahabat. Tanpa sekat, setara, tak ada pemimpin, tak ada rakyat.

Selama memimpin NTB, Bang Zul jarang sekali di Kantor. Paling lama 2-3 jam di ruang kerjanya. Selebihnya turun ke kampung-kampung, mengunjungi dan bertemu masyarakat.

Bang Zul menyampaikan, "Kita tak boleh lama-lama di kantor. Di sana, di masyarakat, ada banyak sekali masalah yang harus diselesaikan. Kalau masyarakat harus datang ke kantor, bertemu gubernur, kasian mereka, jaraknya jauh, kita yang harus datangi mereka".

Gubernur murah senyum ini membalikkan tradisi yang selama ini kaku. Di mana sebelumnya masyarakat yang mendatangi dan mencari pemimpinnnya. Ia membalik logika yang selama ini terjadi. Ia tak ingin, masyarakat yang sedianya sudah jauh-jauh datang dari kampung, capek, malah masyarakat tidak bisa bertemu pemimpinnya. Oleh karenanya, Bang Zul lebih memilih mendatangi masyarakat yang dipimpinnya.

Pada hakikatnya, menurut Bang Zul, pemimpin itu melayani masyarakat, bukan dilayani. Tapi yang sering terjadi sebaliknya. Kebanyakan kita melayani Gubernur atau walikota seperti raja dan itu tidak dibenarkan.

Hal yang tak kalah unik adalah kebiasaan Bang Zul ketika turun ke masyarakat. Ia selalu singgah di warung-warung kecil di pinggir jalan. Nongkrong bersama pemilik warung, minum kopi, makan siang sambil istirahat santai tanpa sekat. 

Tentu kita layak bersyukur. Masih ada Gubernur seperti dirinya yang sederhana dan merakyat. 

Banyangan penulis pun teringat pada kisah kepemimpinan dan teladan dari salah satu sahabat terdekat Nabi Besar Muhammad SAW yang juga Khalifah Besar Islam, Umar Bin Khattab. 

Ketika Umar diangkat menjadi Khalifah, maka seluruh hidupnya benar-benar dibaktikan untuk mengurusi kepentingan Rakyat. 

Umar hampir tiap malam meronda, berkeliling ke pelosok-pelosok kampung. Sebab ia khawatir kalau ada penduduk yang urusannya terabaikan, perutnya kelaparan dan lain-lain. 

Hal ini dilakukan karena dirinya sangat takut. Jangankan terhadap urusan manusia, terhadap hewan pun Ia begitu sangat memperhatikan sebagai konsekuensi atas pengangkatannya sebagai Pemimpin Rakyat. 

Sang Khalifah perna berkata: ''Aku sangat takut kalau ada Unta yang terkantuk di jalan itu akan memberatkanku di hadapan Allah nanti.'' 

Mari kita berdoa semoga pemimpin seperti ini berlipat ganda di Indonesia dan panjang umurnya selalu. Amin Ya Rabb

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done