Radikal-Ekstrem: Terorisme, Neologisme Disfemistik, serta Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi* - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Kamis, 01 April 2021

Radikal-Ekstrem: Terorisme, Neologisme Disfemistik, serta Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi*

Oleh: Alfathri Adlin

(Penulis & Editor, Alumni Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta)

Seorang bajak laut tertangkap oleh Alexander Agung. “Mengapa engkau berani mengacau lautan?” tanya Alexander Agung. “Mengapa engkau berani mengacau seluruh dunia?” jawab bajak laut tersebut, “hanya karena aku melakukannya dengan sebuah perahu kecil, maka aku disebut maling. Sedangkan karena kalian melakukannya dengan kapal besar maka disebut kaisar.” Jawaban pembajak itu, “Sangat bagus dan jitu,” ujar St. Augustine yang menuturkan kisah tersebut.  Noam Chomsky memakai kisah tersebut sebagai pembuka buku Pirates and Emperors: International Terrorism in the Real World untuk menggambarkan dengan cukup akurat hubungan antara Amerika Serikat dengan berbagai aktor kecil di panggung terorisme internasional dewasa ini. Lebih luas lagi, cerita St. Augustine mengungkapkan makna konsep terorisme internasional dalam penggunaannya di Barat dewasa ini, dan menyentuh inti kebiadaban menyangkut peristiwa-peristiwa terorisme tertentu yang hari-hari ini dirancang—dengan sinisme yang paling kasar—sebagai selimut untuk menutupi kekerasan Barat.

Hal serupa ditegaskan juga oleh Jalaluddin Rakhmat bahwa terorisme pada mulanya berarti tindakan kekerasan—disertai dengan sadisme—yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan. Dalam Kamus Adikuasa, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok-kelompok kecil. Bila dua atau tiga orang ditangkap karena melakukan tindakan spionase pada kelompok si pembajak, mereka disebut sandera. Bila ratusan atau ribuan orang digiring ke kamp-kamp konsentrasi oleh sang kaisar, mereka disebut unsur subversif.  Singkatnya, pemaparan di atas ingin menunjukkan pengendalian rasionalitas manusia melalui penggunaan berbagai kata serta pemberian makna tertentu oleh suatu kekuatan yang berkepentingan terhadapnya.

Pada tahun 1991, Margareth Thatcher pernah menunjuk Perang Teluk sebagai sebuah peristiwa ketika prajurit Amerika dan Inggris bahu membahu menentang tirani dan ketakadilan untuk tujuan bersama yang mulia—menentang dan menghukum agresi.  Maksud pernyataan Thatcher tersebut bahwa satu-satunya dasar yang kokoh bagi tatanan dunia yang baru adalah solidaritas Barat di bawah kepemimpinan Amerika. Amerika harus berperan sebagai “atlas” yang memikul beban dunia dan bertindak sebagai pemutus terakhir dalam masalah internasional, bukan saja dalam koalisi militer ad hoc tetapi juga dalam gabungan yang lebih luas, yang meliputi hubungan ekonomi dan perdagangan. Dengan cara inilah, kata Thatcher, dunia dapat dibawa ke freedom, democracy, and its free market economy.

Pada tahun 2002, setelah peristiwa 911, George W. Bush melontarkan istilah “axis of evil” yang sering diulanginya untuk menggambarkan berbagai negara yang menurut pemerintahannya dianggap mendukung terorisme. Hal tersebut memberinya pembenaran untuk menginvasi negara lain guna mencari senjata pemusnah massal atas nama “perang melawan terorisme”. Dalam pidatonya, Bush bahkan membuat suatu pemosisian antara negara yang bergabung dengan Amerika dan yang tidak, “Mitra koalisi harus melakukan lebih daripada sekadar mengungkapkan simpati, mitra koalisi harus bertindak. Beberapa negara tidak ingin berkontribusi mengirim pasukan dan kami memahami itu. Negara lainnya dapat berkontribusi dalam hal berbagi intelijen. Tetapi semua bangsa, jika ingin memerangi teror, harus melakukan sesuatu. Seiring waktu, adalah penting bagi negara-negara tersebut untuk mengetahui bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban karena tidak aktif bertindak. Baik kamu bersama kami atau melawan kami dalam perang melawan teror ini.”  Namun saat keputusan Bush untuk mengirim pasukan Amerika ke Irak guna mencari senjata pemusnah massal ternyata tak terbukti, dia tetap berkelit dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut tetap harus diambil dan tidak akan mengubah strategi penanganannya terhadap Irak secara keseluruhan. Bush mengatakan bahwasanya ancaman Osama bin Laden untuk menggunakan senjata pemusnah massal harus ditanggapi dengan serius, “Inilah orang jahat yang sedang kita hadapi, dan saya tidak akan mengabaikannya mengembangkan senjata jahat untuk mencoba merusak peradaban seperti yang kita tahu. Dan itu sebabnya kita harus berhasil, dan itulah mengapa kita harus menang.”  Mengenai ini, John Pilger, jurnalis Australia berkata, “Korban terbesar terorisme adalah umat Islam. Pada dasarnya tak ada perang terhadap terorisme, yang ada adalah perang menggunakan alasan terorisme.”

Jadi, apa sebenarnya arti terorisme itu? Kamus Merriam-Webster mencatat bahwa istilah terorisme digunakan pertama kali pada tahun 1795 yang dimaknai sebagai penggunaan teror secara sistematis terutama sebagai alat pemaksaan. Pertanyaannya, siapakah yang dipaksa dengan teror secara sistematis? Dengan melihat contoh di atas, siapakah yang menjadi terorisme? Apakah Amerika yang sok menjadi polisi dunia secara sepihak, ataukah negara dan kelompok yang menolak klaim seenaknya tersebut? Toh sudah banyak diketahui pula bahwa aksi Amerika sebagai koboi Wild Wild West yang merasa jadi polisi dunia lalu kemudian menginvasi negara lain dengan dalih menegakkan demokrasi, atau dalih terbaru adalah untuk memerangi terorisme, sebenarnya hanyalah kedok untuk mendapatkan sumber daya alam negara tersebut. Ini sejalan dengan Chomsky yang menandaskan bahwa istilah “terorisme” mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Konsep ini, pendeknya, cukup menguntungkan bagi para pelaku terorisme negara yang, karena memegang kekuasaan, berada dalam posisi mengontrol sistem pikiran dan perasaan. Dengan demikian, arti aslinya terlupakan, dan istilah terorisme lalu diterapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu atau kelompok-kelompok. Walaupun istilah ini pernah diterapkan kepada para kaisar yang menindas rakyat mereka sendiri dan dunia, namun sekarang pemakaiannya dibatasi hanya untuk pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat. 

Salah satu fenomena yang cukup menarik diamati juga adalah pemakaian istilah terorisme ini yang dikhususkan kepada Muslim dan agamanya. Bahwa jika ada kalangan Muslim melakukan pembunuhan atau bom bunuh diri yang memakan korban kalangan non-Muslim, terutama ras Kaukasian, maka yang dipersalahkan mestilah Islam sebagai agama karena dipandang sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan intoleran. Akan tetapi berbeda jika pembunuhan atau bahkan pembantaian tersebut dilakukan oleh ras Kaukasian kepada kalangan Muslim, maka kata yang dipakai adalah “penderita sakit jiwa”, ledakan amarah seorang “antisosial” atau “suka menyendiri”, dan berbagai istilah sejenisnya. Pemosisian semacam ini di masyarakat sekuler Barat pada akhirnya perlahan akan menggiring kepada persepsi bahwasanya agamalah biang kerok permasalahan di muka bumi yang bahkan lebih ganas dan mengerikan daripada permasalahan sekuler. Penegasan atas persepsi tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk konflik Yahudi versus Muslim di Timur Tengah, Hindu versus Budhis di Srilanka, Katolik versus Protestan di Irlandia, Kristen versus Muslim di Armenia dan Azerbaijan, Budhis versus Komunis di Tibet, dan lain sebagainya. Namun dari semua konflik adalah Islamofobia yang paling marak belakangan ini.

Hal ini bisa terlihat dalam peristiwa pembantaian Muslim di Christchurch, New Zealand, saat berlangsung shalat Jumat, 15 Maret 2019, yang memakan korban hingga 50 jiwa, lalu dikomentari oleh Fraser Aning, “Mari kita perjelas, sementara umat Islam mungkin menjadi korban saat ini, biasanya mereka adalah pelakunya. Di seluruh dunia, Muslim membunuh orang atas nama keyakinan mereka hingga skala industri. Seluruh ajaran agama Islam hanyalah ideologi kekerasan dari seorang lalim abad keenam yang menyamar sebagai pemimpin agama, yang membenarkan perang tanpa akhir terhadap siapa pun yang menentangnya dan menyerukan pembunuhan orang-orang kafir dan murtad. Yang benar adalah bahwasanya Islam tidaklah seperti agama lain. Agama ini padanan religius dari fasisme. Dan hanya karena para pengikut kepercayaan biadab ini bukanlah pembunuh dalam peristiwa ini, itu tidak membuat mereka tak bersalah.”  Pernyataan ini ditanggapi Will Connoly, sang Egg-Boy, setelah memecahkan telur di kepala Anning, “Muslim bukanlah teroris dan terorisme tak punya agama. Siapa pun yang menganggap Muslim sebagai komunitas teroris mestilah memiliki kepala kosong seperti Anning.”

Sebelum ini, dalam serangan di kantor koran satir Charlie Hebdo, Paris, pada hari Rabu, 7 Januari 2015, Rupert Murdoch menuliskan cuitan di twitter yang menyalahkan umat Islam, “Bisa jadi sebagian besar Muslim itu damai, akan tetapi sampai mereka mengenali dan menghancurkan kanker jihadis-nya yang tumbuh, Muslim harus bertanggung jawab.” Cuitan Murdoch tersebut ditanggapi oleh J.K. Rowling, “Saya lahir sebagai orang Kristen. Jika itu menjadikan Rupert Murdoch sebagai tanggung jawab saya, maka saya akan melakukan ekskomunikasi otomatis.”  Namun, kita tak bisa menutup mata bahwa memang ada sebagian kecil dari Muslim yang melakoni terorisme, dan yang paling sering jadi sorotan belakangan serta menjadi bahasan khusus di artikel ini adalah bom bunuh diri. Apakah aksi ini merupakan ide orisinil milik sebagian kecil Muslim yang berpandangan ekstrem atau adakah kalangan lain yang pertama kali melakoninya kemudian ditiru oleh para ekstremis di seluruh dunia? Lalu apa kiranya alasan mereka melakoni aksi bom bunuh diri tersebut?

*Bagian pembuka dari makalah penulis yang berjudul "Radikal-Ekstrem: Terorisme, Neologisme Disfemistik, serta Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi". Pernah dipresentasikan di Kalbis Institute Jakarta, pada pembukaan semester baru tahun 2019. Edisi lengkap rencananya akan dimuat dalam antologi esai penulis. Catatan kaki dari artikel ini tidak dicantumkan di cuplikan ini demi kepraktisan semata. 

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done