Smart City Lombok Tengah: Optimisme yang Perlu Didukung - Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Kamis, 25 November 2021

Smart City Lombok Tengah: Optimisme yang Perlu Didukung


Oleh: Suhaidi Edy

(Kepala Desa Darmaji, Lombok Tengah) 

Rabu pagi, 24 November 2021, di sebuah hotel di Lombok Tengah, saya diundang untuk mengikuti acara Focus Group Discussion (FGD). Entah siapa tuan rumahnya. Tapi, disurat undangan yang saya terima ditandatangani oleh Bupati Lombok Tengah (Loteng), H.L. Pathul Bahri. Kop suratnya juga menggunakan Kop Bupati. Jadi, kita simpulkan saja tuan rumahnya adalah Bupati Loteng. 

Jika dilihat dari materi, lebih tepat, acara ini bukan FGD, tapi sejenis seminar atau workshop. Karena materi yang disampaikan oleh narasumber tidak fokus pada satu persoalan. Ada beberapa topik yang dibahas. Tidak jauh-jauh dari korupsi, dana desa, pajak dan aplikasi-aplikasi pendukung administrasi pengelolaan keuangan desa. 

Fokus saya bukan ingin menulis tentang acara FGD itu. Perhatian utama saya adalah sambutan  Bupati. Salah satu point yang ia sampaikan  adalah komitmen mewujudkan smart city (kota cerdas) di Loteng. 

Tidak banyak yang Bupati sampaikan tentang konsep smart city. Kalau bahasa kerennya, "hanya" nyerempet . Walaupun hanya serempetan, tidak mungkin rasanya ia menyebut kosa kata "smart city" tersebut, kecuali memang ada komitmen besar untuk mewujudkannya. Kurang lebih ia sampaikan, "kita akan wujudkan smart city di Lombok Tengah". 

Mungkin di beberapa kalangan, istilah smart city ini masih belum terlalu familiar. Walaupun sebenarnya pemerintah sudah menggaungkan istilah ini beberapa tahun yang lalu. Bahkan akhir tahun 2020 pemerintahan Presiden Joko Widodo, melalui kementerian Komunikasi dan Informatika, telah mencanangkan 100 smart city di Indonesia. Memang terbukti, beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung telah menjadi smart city. Walaupun mungkin, belum sehebat smart city di luar negeri. 

Saya sendiri familiar dengan istilah smart city karena pernah mendapat materi kuliah tentang e-government. Salah satu yang dibahas adalah istilah tersebut. Ada juga smart campus dan juga smart village. Khusus smart village (desa cerdas), belum terlalu detail saya pelajari. Kendati demikian, mpian besar saya, sejatinya, menjadikan desa saya menjadi smart village. Entah kapan. Tetapi, kita impikan saja dulu. 

Menurut saya, smart city adalah perkawinan antara komitmen inovasi pelayanan pemerintah dengan teknologi informasi/komunikasi lalu maskawinnya adalah internet of things (IOT). Kira-kira seperti itu yang saya fahami dari beberapa penjelasan dosen saya dan beberapa literatur yang pernah saya baca. 

Lalu, bagaimana dengan komitmen Bupati di atas? Tentu, saya pribadi mengapresiasi, impian saya sepertinya sama dengan impian Orang Nomor Satu Loteng ini. Sepertinya, menjadi sebuah keharusan bagi Loteng hadir sebagai smart city. 

Hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dengan fasilitas-fasilitas kelas dunia --salah satunya sirkuti Mandalika, memaksa Loteng untuk hadir menjadi smart city. 

Pertanyaan selanjutnya. Mudahkah mewujudkan smart city di Loteng? Jawabannya tergantung dari sudut pandang masing-masing. Izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang saya. Anda boleh berpendapat bahwa jawaban saya ini subjektif.

Jawabannya, bisa! Tapi susah-susah gampang. Mengapa demikian? Ada enam pilar dalam membangun smart city, yaitu: smart environment, smart economy, smart branding smart government, smart society dan smart living. Enam pilar ini semuanya berhubungan dengan manusia, kultur dan karakternya. 

Jadi, smart city menurut saya terkait dengan merubah mindset manusia, kultur dan karakternya. Inilah tantangannya.

Pada tulisan ini, saya tidak ingin terlalu jauh menulis tentang mindset, kultur, dan karakter masyarakat Loteng. Tapi, fakta di lapangan, kita masih menemukan mindset, kultur dan karakter masyarakat belum sesuai dengan pilar-pilar smart city yang saya sebutkan diatas. Fakta ini bisa kita bantah dengan mengatakan "nanti kan berproses, lama-lama masyarakat akan menyesuaikan". Betul, jawabannya tidak keliru. Lalu jika demikian, dalam mewujudkan smart city ini, Bupati ingin memulai dari mana? Dan, dengan cara apa? Sepertinya, ini pertanyaan yang paling serius harus dijawab oleh Bupati dan tim nya. Itulah mengapa tadi saya tulis, mewujudkan smart city itu susah-susah gampang. Karena kita berhadapan dengan (sekali lagi) kultur, mindset dan karakter yang dalam praktiknya, ketiga hal tersebut bisa dirubah dalam waktu yang tidak singkat. 

Mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud untuk membuat persepsi bahwa smart city itu adalah konsep yang mustahil, ribet dan sulit. Tidak. 

Akan tetapi enam pilar smart city harus benar-banar tegak, tentu dengan kerja keras semua pihak. Saya juga optimis, jika semua memiliki komitmen seperti pak Bupati, saya rasa smart city akan menjadi kenyataan, sesegera mungkin. Namun, jika komitmen ini tidak diikuti dengan perubahan mendasar pada mindset, kultur dan karakter, impian smart city ini hanya seperti makan durian dalam es campur. Ada rasa dan aroma, tapi hanya sekedar. 

Lalu, kalau ada yang bertanya, apa dampaknya jika smart city ini terwujud? Salah satu jawabannya adalah (mungkin) mata pencaharian para calo yang mangkal di dinas penduduk dan catatan sipil Lombok Tengah akan hilang atau, setidaknya, berkurang.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done