Sinergi NTB
Terbaru
Loading...

Warta Parlemen

[Warta Parlemen][recentbylabel]

Lingkungan

[Lingkungan][recentbylabel]

Sabtu, 27 November 2021

Lapangan Kerja dan UMKM Lokal Meruah, ITDC: WSBK Ciptakan Multiplier Effect Bagi Perekonomian Daerah


SINERGINTB.COM, LOMBOK TENGAH – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero)/Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN pengembang dan pengelola kawasan pariwisata The Mandalika Lombok mengungkapkan bahwa penyelenggaraan event MOTUL FIM Superbike World Championship (WSBK) Pirelli Indonesian Round 2021 di Pertamina Mandalika International Street Circuit telah menciptakan multiplier effect yang besar bagi perekonomian Pulau Lombok.

Direktur Operasi dan Inovasi Bisnis ITDC Arie Prasetyo mengatakan, “Kami menerima laporan dari salah satu pelaku pariwisata di Lombok pada bidang penyewaan jasa transportasi yang menyampaikan bahwa biasanya mereka mendapatkan omzet Rp 10-15 juta per bulan. Namun memasuki awal bulan November hingga tanggal 23 kemarin, mencapai hampir Rp 70 juta.”

Di sektor akomodasi, seperti disampaikan Ketua Mandalika Hotel Association (MHA) Samsul Bahri, event WSBK telah meningkatkan okupansi hotel rata-rata mencapai 95%. 

“Okupansi kamar mengalami kenaikan signifikan menjelang maupun selama WSBK berlangsung. Sebelum WSBK, okupansi rata-rata 15% namun adanya event WSBK menjadi sekitar 95%. Sementara untuk omzet sendiri biasanya sebelum WSBK mencapai 15% namun setelah WSBK mencapai 85%", jelas Samsul. 

Dikatakan Ketua MHA, peningkatan okupansi tidak hanya meruah pada hotel atau akomodasi yang berlangsung di The Mandalika saja, melainkan juga memberikan dampak pada akomodasi-akomodasi lainnya yang berada di luar Kawasan The Mandalika hingga Senggigi. Demand yang cukup tinggi terhadap penyediaan kamar hotel juga membuka peluang kerja bagi pekerja perhotelan yang sempat dirumahkan dikarenakan pandemi.

“Event WSBK kemarin merupakan sebuah event luar biasa yang memantik kebangkitan pariwisata khususnya di Pulau Lombok setelah 1,5 tahun dikekang pandemi COVID-19. Alhamdulillah sejak wacana digulirkan WSBK dilaksanakan di The Mandalika dan sukses terlaksana pada 19 - 21 November 2021, kami di asosiasi MHA yang terdiri dari 54 perusahaan perhotelan yang ada di dalam Kawasan The Mandalika dan sekitarnya merasakan dampak positif dari peningkatan okupansi,” imbuh Samsul.

Selain kedua bidang tersebut, event WSBK telah menciptakan peluang emas bagi UMKM lokal. UMKM yang menjual makanan dan minuman merupakan salah satu UMKM yang paling merasakan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan event ini. 

Hal tersebut diakui salah satu penjual makanan yang membuka booth di area inner sirkuit, Basma.

“Alhamdulillah saat menjual makanan, jam 09.00 WITA sudah ada yang mulai belanja makanan dan jam 13.30 WITA sudah sold out. Terhitung sangat cepat habis, apalagi penonton WSBK sangat ramai," cerita Basma penuh rasa syukur. 


Tingginya antusiasme masyarakat Indonesia untuk hadir menyaksikan balapan juga meningkatkan perputaran uang di seputar kawasan The Mandalika sehingga menambah perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok TengahTengah (Loteng). Alhasil, usai gelaran WSBK yang berlangsung pada 19-21 November lalu, Pemerintah Kabupaten Loteng menyatakan memperoleh tambahan PAD yang berasal dari pajak hiburan sebesar 15%, pajak parkir 30% serta pajak restoran dan hotel 15%.

Secara khusus Bupati Loteng, H.L. Pathul Bahri, dalam keterangan persnya, menyebutkan bahwa PAD dari gelaran WSBK tersebut menembus angka Rp. 69 Miliar. 

“Itu diperoleh dari pajak hiburan 15 persen, pajak parkir 30 persen, pajak hotel dan restoran masing-masing sebesar 15 persen,” kata HL Pathul Bahri usai penandatanganan masterplan smart city di ruang rapat utama kantor bupati, Selasa (23/11/21) yang lalu. 

Demikian halnya, ajang WSBK juga menunjukkan besarnya partisipasi warga desa lingkar The Mandalika dalam menyukseskan acara ini. 

ITDC bersama ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) yang merupakan bagian dari ITDC Group, telah merekrut tenaga kerja sebanyak 1.475 orang berasal dari NTB, termasuk warga dari enam desa penyangga The Mandalika untuk terlibat dalam event WSBK. Tenaga kerja ini bertugas sebagai petugas marshal, petugas COVID-19 safety, medis dan kru medis, kru event, crowd control, dokumentasi, fasilitas, produksi, kebersihan, stage, ticketing, transportasi, dan waste management selama persiapan dan event berlangsung.

Di luar itu, ITDC melalui ITDC NU juga telah merekrut dan melatih sejumlah warga dari desa lingkar The Mandalika untuk bertugas di area-area parkir VIP dan area parkir timur untuk membantu mengarahkan kendaraan yang akan parkir, baik kendaraan roda dua, roda empat, maupun setara bus.

Arie mengatakan, “Event WSBK kemarin merupakan ajang bagi kita semua untuk belajar. Kami juga berkomitmen untuk melibatkan sebanyak mungkin warga NTB khususnya warga lingkar The Mandalika untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini karena kami percaya dengan potensi yang dimiliki. Harapan kami, dengan keterlibatan saudara-saudara kita masyarakat NTB dalam event berskala internasional akan semakin menambah kemampuan mereka dalam menyambut dan mengelola event-event internasional di masa datang.”


“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut berpartisipasi dalam meramaikan dan membantu kesuksesan pelaksanaan event WSBK 19-21 November lalu. Kami sangat bersyukur penyelenggaraan event berskala internasional WSBK ini telah membuktikan mampu memberikan multiplier effect yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat setempat. Semoga event-event internasional berikutnya yang akan berlangsung di The Mandalika dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Lombok,” tutup Arie.

Jumat, 26 November 2021

MotoGP/WSBK Mandalika, Jokowi dan Cermin Kesuksesan Indonesia



Oleh: Dr. H. Zulkieflimansyah

(Gubernur NTB) 

Kesuksesan perhelatan akbar internasional World Superbike (WSBK) di Mandalika,  bukan hanya kesuksesan Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) atau Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saja. Tapi, ini cermin kesuksesan Indonesia, di bawah Pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.

Betul bahwa di zaman Jokowi banyak program pembangunan Infrastruktur, pembangunan Desa dan lain-lain. Tetapi tidak ada yang mampu menarik perhatian global dan dunia Internasional semassif gelaran event internasional WSBK di Pertamina Mandalika International Street Sircuit, Kuta Mandalika, Loteng, pada medio November 2021 yang lalu.

Dengan satu kesuksesan gelaran WSBK waktu itu, Country Brand Indonesia jadi tidak ternilai brand equity-nya. Dahsyat sekali!

Nah, penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika pada Februari dan Maret 2022 yang akan datang, tentu magnitude dan sofistikasinya akan 10 kali lipat lebih besar. Ya, 10 kali lebih besar! Jadi persiapannya, sejatinya, harus lebih baik dan mantap.

Tidak heran, kalau hari ini, Jum'at 26 November 2021, di Istana Bogor, Presiden kita merasa sangat penting memanggil sejumlah kementerian. Ada Menteri Koordinator (Menko) Ekonomi, Menteri Sekretaris Negara, Men Sekrtaris Kabinet Menteri BUMN, Menteri Keungan, Menteri PUPR, Menteri Perhubungan, Menteri Pariwisata dan Menteri Pemuda dan Olahraga. Mereka dikumpulkan semua untuk bersama-sama mempersiapkan perhelatan MotoGP di Mandalika dengan persiapan maksimal.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, dalam acara rapat terbatas bersama Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo dan sejumlah Menteri, terkait persiapan menyambut gelaran internasional MotoGP 2022, di Istana Bogor pada Jum'at 26 November 2021.

Banyak sekali yang harus dibenahi dan segera dikeroyok maksimal bersama-sama. Ini bukan program Lombok Tengah. Ini bukan Program NTB. Ini program bangsa dan negara kita.

Kalau ada yg bertanya, lalu Pulau Sumbawa dapat apa? Tentu saja banyak. Tidak mungkin disebut satu-persatu. Semua dapat secara bertahap dan proporsional.

Menemani tamu-tamu penting dan penentu kebijakan berbincang yang, saat ini, sedang ramai mengunjungi Mandalika, bukan tanpa makna. Dari menyampaikan berbagai hal ke mereka, NTB pun bisa menuai berkah dengan mendapatkan "hadiah" yang terbilang banyak.

Contoh kecil saja, ketika Menteri PU menjelaskan progress jalan Bypass BIL-Mandalika, pada acara di Mandalika, ada seseorang yang nyeletuk, "kapan Tepal dan Baturotok ya?" Seraya memperlihatkan video jalan yang rusak parah di Baturotok.

Sang Menteri langsung alokasikan 80 Milyar tanpa perlu nanya itu jalan Desa, jalan kabupaten, jalan provinsi atau Jalan Nasional. Inilah contoh kecil betapa banyak yang bisa kita maksimalkan dgn kehadiran tamu-tamu penting kita di NTB ini.

Jadi, mari saling bantu dan saling dukung demi kebaikan kita bersama. Kebaikan kita semua. Demi kebaikan NTB dan bangsa ini.

Kamis, 25 November 2021

Quo Vadis "#WSBK/MotoGP #PulauSumbawaDapatApa": Pemda se-NTB Bergegaslah Jemput Berkah

Oleh:Karman BM

(Pemerhati Sosial-Politik dan Media) 

___________________________

Spanduk bertuliskan tanda gambar (tagar) #WSBK/MotoGP #PulauSumbawaDapatApa" yang beredar di beberapa grup Whatsapp dan Media Sosial lainnya, berupa mobile banner (spanduk berjalan), difoto di beberapa titik oleh orang-orang yang diduga sama. Lalu diviralkan seolah-olah kelihatan massif. Dan memang itu kesannya, karena sosmed memberikan ruang hal-hal serupa.

Yang menarik, tulisan pada spanduk. Temanya sangat menggugah dan harus dipikirkan jawabannya oleh semua orang tanpa kecuali. Ekeskutif, legislatif, atau masyarakat sipil, baik tingkat provinsi sampai ke desa-desa.

The mandalika, destinasi wisata yang dikembangkan oleh BUMN ITDC adalah proyek superprioritas nasional yang dirintis berpuluh tahun lalu. Ia bukan proyek dongeng Roro Jonggrang. 

Proyek tersebut melibatkan banyak stake holder pemerintah dan pusat. Sampai kemudian, menjadi hari ini. Gemuruh dan semaraknya dinikmati oleh milyaran manusia di dunia. Perhatian semua orang sedang tertuju pada Sirkuit Mandalika yang baru beberapa hari ini sukses menggelar Balap Motor Dunia WSBK (World Superbike). Persis seperti legenda Putri Mandalika yang menjadi latar belakang penamaan lokasi tersebut. Putri cantik yang memiliki aura kecantikan menebar ke mana-mana. Sehingga, semua pangeran dari penjuru Nusantara berebut mempersuntingnya.

Kembali ke WSBK mandalika yang sukses berkat tangan dingin Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, dan Forkopimda. Dari pengamatan saya, sampai detik saya menulis ini, saya masih banyak menyaksikan video-video pendek dari pekerja wisata lombok. Mereka menceritakan tamu-tamu, wisatawan yang sedang memadati tempat belanja oleh-oleh, wisata pantai, dan sebagainya. Tak sedikit juga mem-posting keluhan, seperti terbatasnya akomodasi, naiknya harga-harga gegara WSBK, jalanan macet dan sebagainya.

Artinya, dari berbagai posting-an pekerja wisata di sosmed itu perlu juga memjadi tema pembicaraan dalam seminar-seminar dan juga rapat-rapat evaluasi oleh pemerintah.

Jadi, pertanyaanya #PulauSumbawaDapatApa, harus juga di buat pertanyaan serupa. Lobar dapat apa? Lotim dapat apa? Dan, sejatinya, yang bisa jawab pemerintah di tempat masing-masing. 

Supaya kita tidak jadi penonton saja di tengah perebutan cinta Putri Nandalika. Jangan sampai orang luar sudah menemukan celah berkah, kita masih bertanya, kita dapat apa?! 

Ini kesempatan menata kekurangan, menjaga kepercayaan Presiden Joko Widodo dan pemerintah pusat, untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas. 

Jakarta, 25 November 2021.

Smart City Lombok Tengah: Optimisme yang Perlu Didukung


Oleh: Suhaidi Edy

(Kepala Desa Darmaji, Lombok Tengah) 

Rabu pagi, 24 November 2021, di sebuah hotel di Lombok Tengah, saya diundang untuk mengikuti acara Focus Group Discussion (FGD). Entah siapa tuan rumahnya. Tapi, disurat undangan yang saya terima ditandatangani oleh Bupati Lombok Tengah (Loteng), H.L. Pathul Bahri. Kop suratnya juga menggunakan Kop Bupati. Jadi, kita simpulkan saja tuan rumahnya adalah Bupati Loteng. 

Jika dilihat dari materi, lebih tepat, acara ini bukan FGD, tapi sejenis seminar atau workshop. Karena materi yang disampaikan oleh narasumber tidak fokus pada satu persoalan. Ada beberapa topik yang dibahas. Tidak jauh-jauh dari korupsi, dana desa, pajak dan aplikasi-aplikasi pendukung administrasi pengelolaan keuangan desa. 

Fokus saya bukan ingin menulis tentang acara FGD itu. Perhatian utama saya adalah sambutan  Bupati. Salah satu point yang ia sampaikan  adalah komitmen mewujudkan smart city (kota cerdas) di Loteng. 

Tidak banyak yang Bupati sampaikan tentang konsep smart city. Kalau bahasa kerennya, "hanya" nyerempet . Walaupun hanya serempetan, tidak mungkin rasanya ia menyebut kosa kata "smart city" tersebut, kecuali memang ada komitmen besar untuk mewujudkannya. Kurang lebih ia sampaikan, "kita akan wujudkan smart city di Lombok Tengah". 

Mungkin di beberapa kalangan, istilah smart city ini masih belum terlalu familiar. Walaupun sebenarnya pemerintah sudah menggaungkan istilah ini beberapa tahun yang lalu. Bahkan akhir tahun 2020 pemerintahan Presiden Joko Widodo, melalui kementerian Komunikasi dan Informatika, telah mencanangkan 100 smart city di Indonesia. Memang terbukti, beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung telah menjadi smart city. Walaupun mungkin, belum sehebat smart city di luar negeri. 

Saya sendiri familiar dengan istilah smart city karena pernah mendapat materi kuliah tentang e-government. Salah satu yang dibahas adalah istilah tersebut. Ada juga smart campus dan juga smart village. Khusus smart village (desa cerdas), belum terlalu detail saya pelajari. Kendati demikian, mpian besar saya, sejatinya, menjadikan desa saya menjadi smart village. Entah kapan. Tetapi, kita impikan saja dulu. 

Menurut saya, smart city adalah perkawinan antara komitmen inovasi pelayanan pemerintah dengan teknologi informasi/komunikasi lalu maskawinnya adalah internet of things (IOT). Kira-kira seperti itu yang saya fahami dari beberapa penjelasan dosen saya dan beberapa literatur yang pernah saya baca. 

Lalu, bagaimana dengan komitmen Bupati di atas? Tentu, saya pribadi mengapresiasi, impian saya sepertinya sama dengan impian Orang Nomor Satu Loteng ini. Sepertinya, menjadi sebuah keharusan bagi Loteng hadir sebagai smart city. 

Hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dengan fasilitas-fasilitas kelas dunia --salah satunya sirkuti Mandalika, memaksa Loteng untuk hadir menjadi smart city. 

Pertanyaan selanjutnya. Mudahkah mewujudkan smart city di Loteng? Jawabannya tergantung dari sudut pandang masing-masing. Izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang saya. Anda boleh berpendapat bahwa jawaban saya ini subjektif.

Jawabannya, bisa! Tapi susah-susah gampang. Mengapa demikian? Ada enam pilar dalam membangun smart city, yaitu: smart environment, smart economy, smart branding smart government, smart society dan smart living. Enam pilar ini semuanya berhubungan dengan manusia, kultur dan karakternya. 

Jadi, smart city menurut saya terkait dengan merubah mindset manusia, kultur dan karakternya. Inilah tantangannya.

Pada tulisan ini, saya tidak ingin terlalu jauh menulis tentang mindset, kultur, dan karakter masyarakat Loteng. Tapi, fakta di lapangan, kita masih menemukan mindset, kultur dan karakter masyarakat belum sesuai dengan pilar-pilar smart city yang saya sebutkan diatas. Fakta ini bisa kita bantah dengan mengatakan "nanti kan berproses, lama-lama masyarakat akan menyesuaikan". Betul, jawabannya tidak keliru. Lalu jika demikian, dalam mewujudkan smart city ini, Bupati ingin memulai dari mana? Dan, dengan cara apa? Sepertinya, ini pertanyaan yang paling serius harus dijawab oleh Bupati dan tim nya. Itulah mengapa tadi saya tulis, mewujudkan smart city itu susah-susah gampang. Karena kita berhadapan dengan (sekali lagi) kultur, mindset dan karakter yang dalam praktiknya, ketiga hal tersebut bisa dirubah dalam waktu yang tidak singkat. 

Mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud untuk membuat persepsi bahwa smart city itu adalah konsep yang mustahil, ribet dan sulit. Tidak. 

Akan tetapi enam pilar smart city harus benar-banar tegak, tentu dengan kerja keras semua pihak. Saya juga optimis, jika semua memiliki komitmen seperti pak Bupati, saya rasa smart city akan menjadi kenyataan, sesegera mungkin. Namun, jika komitmen ini tidak diikuti dengan perubahan mendasar pada mindset, kultur dan karakter, impian smart city ini hanya seperti makan durian dalam es campur. Ada rasa dan aroma, tapi hanya sekedar. 

Lalu, kalau ada yang bertanya, apa dampaknya jika smart city ini terwujud? Salah satu jawabannya adalah (mungkin) mata pencaharian para calo yang mangkal di dinas penduduk dan catatan sipil Lombok Tengah akan hilang atau, setidaknya, berkurang.

Rabu, 24 November 2021

Dedikasi 63 Tahun NTB Gemilang, NTB Raih Prestasi Terbaik Hifdzil Qur'an di MTQ Nasional Kendari


SINERGINTB.COM, KENDARI 
- Provinai NTB kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Pada MTQ KORPRI Nasional V yang dilaksanakan di Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tanggal 12-19 November 2021 yang lalu, Kafilah Nusa Tenggara Barat berhasil memboyong dua piala dari 11 cabang yang diperlombakan.

Dengan jumlah lima peserta dan toga official, NTB tampil sebagai Juara Terbaik I Cabang Hifdzil Qurán Putra Golongan Surat Ali Imron dan Surat An Nisa melalui al HAfidz Ustads Abdul Majid, S. Pdi dan Juara Harapan II Cabang Khot Digital Putri melalui Khottota Savitri, ST., M.Eng .

Dengan singkatnya persiapan serta jumlah cabang lomba yang diikuti, capaian ini tentu sangat membanggakan. Mengingat persaingan antar peserta dari Seluruh Pemerintah Provinsi, Kementerian/lembaga dan BUMN Se Indonesia yang rata-rata mengikuti semua cabang lomba, ditambah lagi dengan beberapa gangguan teknis dan kesehatan peserta kafilah NTB sebelum dan saat kegiatan berlangsung.

Namun demikian tidak menyurutkan semangat untuk memberikan hasil terbaik buat Kafilah NTB. Pencapaian ini didedikasikan buat NTB Gemilang yang sebentar lagi akan berulang tahun ke 63, dan kado ulang tahun Sumbawa Barat ke 18 tanggal 20 November 2021 lalu.

Cabang lomba yang dikuti oleh Kafilah NTB yaitu:

1.Hifdzil Qurán Golongan Surah Albaqarah (Ust. Muhammad Iqbal, SKM.,M.Si Asal KSB)

2.Hifdzil Qurán Golongan Surah Ali Imran dan An NIsa (Ust. Abdul Majid, S.Pdi Asal KSB)

3.Tilawah (ust. H. Jufriadi, S.Ag.,M.Ag asal Pemrpov NTB)

4.Tartil (Ust. Syahrullah, S.Pd asal KSB)

5.Khot Digital (Ustza. Savitri, ST.,M.Eng Asal Pemprop NTB.

Minggu, 14 November 2021

Bukan Salah Marshal, Gubenur NTB Janji Jembatani dengan MGPA

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah bersama Bupati Lombok Tengah, H. L. Pathul Bahri, saat peresmian Pertamina Mandalika International Street Circuit oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, pada Jum'at (12/11/21) yang lalu. 

Dilansir dari laman website resmi Asia Talent Cup, Ahad (14/11/21), Balapan Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) yang akan berlangsung di Pertamina Mandalika International Street Sircuit pada hari Minggu 14 November 2021 telah dijadwalkan ulang untuk berlangsung akhir pekan depan bersamaan dengan event World Superbike (WSBK). 

Terkait penjadwalan ulang alias tertundanya race IATC tersebut, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, angkat bicara. "Tentu mengecewakan. kita yang sudah kadung berada di tengah-tengah arena. Tapi demi keselamatan pembalap race ATC ditunda minggu depan bersamaan dgn penyelenggaraan WSBK," sebut orang nomor satu NTB yang akrab disapa Bang Zul ini melalui akun Faceboook (FB) pribadinya. 

Seperti  disampaikan kemarin, lanjut Bang Zul, tertundanya race atau balapan karna belum siapnya standard dan jumlah Marshal sesuai dengan standard yang seharusnya.

Namun demikian, ia membeberkan, dari masukan-masukan yang datang dari Para Marshal, kesalahan sejatinya bukan semata pada mereka, tapi juga pada penyelenggara kegiatan. Persiapan yang terbatas dan komunikasi yang kurang baik dengan penyelenggara dianggap sebagai salah satu masalah utama.

"Para Marshal ini adalah putra-putra daerah kita yang sebenarnya bersemangat utk mensukseskan acara kita ini," ujar orang Nomor Satu NTB ini penuh semangat. 

Dikatakannya, kesediaan mereka untuk menjadi Marshal, bukan hanya karna pertimbangan-pertimbangan finansial tapi semata karna ingin berkontribusi dan membuat sejarah di tempat kita sendiri. Tentunya, sebut pria murah senyum ini, ada kebanggaan tersendiri bagi mereka untuk dapat mengambil bagian di event yang luar biasa ini.

"Insya Allah kami berjanji untuk menjembatani para Marshal kita ini dengan penyelenggara acara, dalam hal ini MGPA, sehingga kesalahpahaman bisa diluruskan dan perbaikan-perbaikan bisa dilakukan untuk ajang utamanya yaitu WSBK dan MotoGP," janji Bang Zul. 

Tengara masih adanya kekurangan-kekurangan dan ketidaksempurnaan, jelasnya, adalah sesuatu hal yang wajar karna merupakan hal baru buat masyarakat, juga buat Provinsi NTB. 

"Sebagaimana sering saya katakan, perjalanan panjang selalu harus dimulai dengan langkah pertama. Memberdayakan masyarakat lokal untuk berpartisipasi sebagai Marshal adalah langkah awal yangg sudah sangat tepat. Kalau masih ada yg kurang-kurang, manusiawi lah. Ayo terus saling memperbaiki untuk menempuh perjalanan panjang ke depan secara lebih baik", pungkas Doktor yang selalu tampil sederhana tersebut. 

Quo Vadis WSBK: Unboxing Paket dan Shadow Economy


Oleh: Dr. M. Firmansyah 

(Dosen FEB Unram) 

Alhamdullilah. WSBK on the right track. Walau ada riak-riak. Misal, heboh unboxing paket milik Ducati. Namun semua sudah clear, semua sudah diklarifikasi. 

Mandalika akan jadi pusat perhatian. Mata dunia sedang tertuju pada kawasan ini. Ini kawasan superprioritas nasional. Sunggu membanggakan daerah. Juga nasional. 

Bangga saja tidak cukup. Sebagai masyarakat lokal. Tentu berharap kawasan ini punya magnet. Mampu dorong ekonomi lokal ke atas. Pun mampu menarik yang di bawah. 

Pertanyaan besar, apa untungnya bagi masyarakat dan ekonomi lokal. Jangan dianggap norak, atau mengada-ada pertanyaan ini. 

Apakah untung bagi daerah karna tiket mahal itu akan turut bermuara di daerah. Atau karna belanja penonton yang ke sini. Belanjanya produk apa. Jasa apa. 

Apakah belanja produk dan jasa lokal? Produk lokal apa? Seberapa siap produk itu, dan seberapa mau orang beli dan gunakan? 

Benak saya sedang cari jawaban. Mungkin terlalu cerewet. Tapi harus. Karna kita ingin ekonomi lokal tumbuh karna episentrum ekonomi saat ini, ada di sini. 

Kita punya sentra kuliner, misalnya. Apakah sudah disiapkan? Kesiapan artinya kita samakan standar internasional dengan standar yang sekarang kita punya. 

Kita samakan antara harapan dan kenyataan. Ekspektasi dan existing para pengunjung. 

Cita rasa, higienitas, standar layanan, penampilan dan benahi kawasan. Siapa yang bertugas melakukan itu. Kapan komitmen siapnya. Bila belum siap. 

Jangan sampai muncul shadow economy. Kegiatan di sini. Tapi tidak dirasa oleh masyarakat sini. Semua tidak tercatat sebagai PAD. Pendapatan Asli Daerah, dan Pendapatan Asli Di sini. 

Cirinya: kita bisa amati. Keliatannya rame, orang pada sibuk tapi bisnis lokal, kok, tidak ada perubahan. Itu Indikasi ada shadow economy yang kuat. Sisi lain. 

Sepanjang pinggir jalan dari bandara menuju Mandalika adalah kawasan-kawasan strategis. Jangan sampai terdengar, ada beberapa hektar terjual. Dibeli orang luar. Dia dirikan entitas bisnis. Hilang sudah peluang. 

Apakah sudah ada rencana mau bangun sesuatu di sepanjang jalur itu? 

Kalau saya, mungkin banyak juga yg lain, tidak ingin habiskan uang jutaan rupiah untuk tonton WSBK atau MotoGP. Saya cukup nonton di televisi saja. Masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting. 

Bagi saya, ada dan tidaknya WSBK dan MotoGP tidak berpengaruh ke saya saat ini. Tapi tentu sangat berpengaruh bagi pelaku bisnis lokal. Bila didesain, diskenariokan. Itulah perlu dibicarakan. 

Bila tahap satu yaitu bangun fisik sudah oke. Bahkan begitu serius ditanggapi bila ada yang coba ganggu kesuksesannya. Nex step, pikirkan tahap rancang bangun ekonomi lokal. 

Marahlah sejadi-jadinya bila terjadi unboxing paket bisnis milik masyarakat lokal oleh pihak tertentu. Kalau itu terjadi tentu kita merasa sedih. Walau mungkin tak kuasa marah-marah.

Opini

[Opini][recentbylabel2]

Budaya

[Budaya][recentbylabel2]
Notification
Kami menerima tulisan berupa opini, artikel serta beragam jenis tulisan menarik lainnya. kirimkan ke email kami sinergy@gmail.com.
Done